Friday, 12 February 2021

Pembibitan Dengan Endapan Kotoran Ikan

Kali ini saya coba sharing pembibitan dengan kotoran ikan. Sebelumnya atau dulu pernah saya tulis juga, hanya kali ini ada sedikit perbedaan. Jika yang sebelumnya endapan langsung diambil dan disaring, setelah agak mengental kemudian bisa tanami. Ada sedikit efek jika endapan langsung ditanami, terutama jika kita tidak bisa membedakan mana endapan yang benar-benar sudah 'matang' atau aman dan endapan yang belum 'matang' atau mau bau menyengat. Jika masih berbau dan kita coba tanami, ada kemungkinan biji yang kita masukkan akan membusuk dan hal itu pernah saya alami.






Belajar dari pengalaman itulah, saya mencoba cara lain namun masih tetap menggunakan endapan kotoran ikan. Percobaan pertama berhasil, dengan hampir semua biji bisa tumbuh dengan baik, jika ada beberapa yang tidak tumbuh, itu akibat biji yang kemasannya sudah terbuka lama karena pemakaian yang hanya sedikit-sedikit. Percobaan pertama, tanaman sudah siap dipanen. Percobaan ke-dua juga berjalan baik dengan biji hampir semua tumbuh baik dan akan segera pindah tanam.

Cara yang saya gunakan kali ini adalah dengan minta bantuan cacing. Kotoran yang diambil dari bak endapan disaring menggunakan kain supaya air bisa keluar dan endapan tetap tertinggal. jika endapan sudah mengental, bisa dipindah ke sebuah wadah, dalam hal ini saya menggunakan pipa pvc bekas ukuran 5" yang dibelah menjadi 2. Penempatan wadah sebaiknya di tempat yang teduh dan tidak terkena banyak sinar, serta bebas dari guyuran air hujan.







Setelah itu masukkan cacing ke dalam wadah, saya menggunakan cacing yang sejak dulu dipelihara di growbed akuaponik, jadi tinggal ambil dan pindahkan. Jika endapan terlalu basah, cacing cenderung tidak mau, jadi pada satu sisi bisa ditambahkan tanah yang tidak terlalu basah untuk sementara, karena beberapa hari kemudian cacing akan bergerak menuju ke endapan kotoran.
Selama proses, tidak perlu diberi makan, karena cacing bisa makan dari endapan kotoran. Untuk mengetahui proses sudah selesai kita bisa cek dengan ciri, tanah sama sekali sudah tidak berbau, permukaan sudah banyak sekali 'pelet' kotoran cacing, dan warna endapan sudah kehitaman sangat mirip dengan tanah, jika diambil sangat terasa lembut. O iya, lama proses tergantung dari jumlah cacing, jika semakin banyak tentu akan semakin cepat.




Hasil dari proses oleh cacing itulah dapat kita gunakan untuk pembibitan. Untuk yang saya lakukan, dari wadah yang memanjang, akan saya ambil setengah bagian, dan setengah bagian berikutnya dibiarkan untuk 'rumah' cacing. Setengah bagian yang kosong bisa kita isi lagi dengan endapan baru dan seiring waktu, cacing dari endapan lama yang tidak diambil akan bergerak menuju ke endapan baru. Nah proses berikutnya endapan lama kita ambil dan kita isi yang baru, begitu seterusnya.

Dalam pembibitan saya menggunakan talang bekas yang saya potong, endapan yang sudah terproses tadi dimasukkan. Jika endapan agak kering bisa ditambah air dan diolah biar tidak terlalu kering. Endapan dibuat supaya permukaan rata, setelah itu dibuat garis-garis membentuk kotak-kotak untuk penempatan biji supaya teratur. Setiap kotak ada 1 biji, untuk ukuran bisa menyesuaikan.





 
Setelah semua kotak diisi biji, biji agak sedikit ditekan biar sedikit masuk. Setelah proses selesai tempatkan biji ditempat teduh dan ditutup supaya tidak kering dan bisa tumbuh. Jika tanah terlihat mengering sedikit diberi air. Jika biji masih bagus dan baru, 1 hari bisa mulai berkecambah, jika tidak, butuh 2 hari lebih baru bisa berkecambah. Setelah berkecambah, bisa tempatkan di tempat yang mendapatkan sinar matahari terutama pagi, dan jaga supaya jangan kering, tapi dari pengalaman, tidak akan kering karena lapisan tidak terlalu tipis.

Nah demikian pengalaman saya dalam pembibitan dengan menggunakan endapan kotoran ikan, semoga bermanfaat. Untuk video di channel Youtube Wana Wana juga sudah kita posting, jika ingin melihat.




Salam Akuaponik Keluarga 

Wana Wana

Wednesday, 23 September 2020

Mantapnya Tomat Akuaponik Sistem Aliran Atas

Sejak memulai usaha 'Wana Wana Burger Akuaponik',  mau tidak mau kita harus menanam banyak sayur yang dibutuhkan seperti selada, tomat, mentimun, dll. Ketersediaan sayuran itupun tidak boleh terputus, karena begitu tanaman akuaponik habis walau ikan masih, maka kami tetap tidak bisa menjual burger akuaponik, kami ingin menjual dari hasil akuaponik kami. Jadi kami belum berani menjual burger dalam jumlah besar, kami masih menjual dari teman ke teman melalui aplikasi WhatsApp. 






Untuk itulah, kami belajar mengelola kebun akuaponik, supaya bisa terus memanen tanpa berhenti. Untuk selada sempat kewalahan, tapi akhirnya kami evaluasi cara tanamnya, sehingga hasilnya lebih baik dan layak untuk kami jual dalam bentuk burger.

Selain selada, ada tomat yang menjadi kebutuhan pokok Wana Wana Burger Akuaponik, jadi harus juga tersedia. Untuk itulah, ember cat di akuaponik kolam fiber, yang sebelumnya untuk menanam berbagai sayuran, sekarang kita fungsikan sebagian besar untuk tomat. 

Tomat yang kita tanam adalah tomat Bareto. Ditanam dengan sistem aliran atas, media batu split. Ditanam tidak dalam waktu yang bersamaan, tapi berjarak, supaya tidak panen bersamaan tapi berkelanjuatan.







Untuk ikan, menggunakan ikan lele jumlahnya sekitar 150 ekor. Ikan lele di akuaponik kolam fiber ini adalah ikan dewasa khusus siap panen. Kita ada beberapa kolam, ikan dari kolam akuaponik lain kita sortir, yang sudah berukuran besar kita pindah di akuaponik kolam fiber ini sekaligus untuk mensuplai kebutuhan nutrisi tomat dan selada.

Penanaman awal sekitar bulan April-Mei dengan pencahayaan yang bagus, karena masuk di akhir musim penghujan, sehingga mendung mulai jarang terlihat. Perkembangan 2 pohon tomat memang luar biasa, daun terlihat hijau tua dan batang yang besar. Untuk pemeliharaan, setiap pohon hanya kami biarkan 2 cabang utama saja, dan cabang lain kita potong, begitu juga tunas airnya. Buah yang muncul relarif banyak dan ternyata besar-besar. Untuk urusan hama kita serahkan pada alam, tanpa melakukan penyemprotan, membiarkan hewan predator bekerja. 












Selang 1 bulan berikutnya, kita menanam lagi 5 pohon dan hasilnya pun memang luar biasa, di luar perkiraan kami. Memang ada 1 yang hasilnya kurang bagus, tapi itu tomat jenis lain. Sekarang,  kebutuhan tomat untuk Wana Wana Burger Akuaponik, kami tidak kekurangan. Saking melimpahnya, bahkan bebarapa kali kami bagikan ke keluarga, teman dan tetangga dan sebagian kami buat jus, sambal dan kita santap langsung. 









Dengan menjual Wana Wana Burger Akuaponik skala kecil, tujuan kami adalah untuk belajar, belajar bagaimana kami mengelola kebun mini kami supaya bisa memanen secara terus menerus dan bisa menjual burger kami setiap hari meski tidak banyak. Memang di luar dugaan juga, olahan burger kami banyak disukai, sehingga selalu saja ada yang membeli, bahkan banyak juga yang mencoba dan akhirnya ketagihan. Dengan memulai usaha dari kecil, kami bisa belajar dan terus melakukan evaluasi dari kebun hingga dapur, dari sayuran hingga daging dan roti. 

Untuk tomat dengan sistem aliran atas dengan nutrisi dari ikan lele memang luar biasa hasilnya. Kita sama sekali tidak menambahkan unsur dari luar, jadi hasil yang melimpah ini, nutrisi murni dipasok dari ikan lele. Dari penanaman tomat ini kami banyak belajar, bagaimana mengatur supaya bisa terus memanen tomat. Oh iya, dari hasil hitung, setiap pohon bisa menghasilkan tomat rata rata 40 buah dan besar-besar. Sekian sharing dari kami.



Bila berkenan ikuti juga kami di Channel Youtube  'Wana Wana' 

Salam Akuaponik Keluarga

Wana Wana




Friday, 17 July 2020

Wana Wana Burger Akuaponik

Akhirnya cita cita Wana Wana untuk menjual hasil panenan akuaponik perlahan mulai tercapai. Sejak panenan selada yang mulai stabil, ikan yang siap panen sewaktu waktu, akhirnya memberanikan diri menawarkan produk olahan kita. 


Wana Wana Burger Akuaponik 



Keraguan itu pasti ada, bahwa burger Wana Wana akan bisa diterima dan dinikmati, tapi tanpa kita mencoba dan memulai kita tak akan pernah tahu. Burger kita buat spesial, dari ikan dan sayuran budidaya akuaponik, agar berbeda dari burger yang sudah ada, mungkin bisa menjadi pelengkap atau alternatif pilihan. 
Kita hanya memproduksi terbatas, karena keterbatasan kita dalam budidaya sistem akuaponik, yang hanya memanfaatkan pekarangan rumah. Tapi, dengan managemen yang baik seperti mengatur pola panen ikan dan sayuran, kita berharap stock akan tersedia walau tidak banyak.
Kebetulan istri juga pernah sekolah di jurusan boga, sehingga roti burger bisa diproduksi sendiri, demikian juga olahan ikannya, dapat kita kreasikan sendiri. Kita tetap melakukan percobaan, demikian juga untuk patty-nya, sehingga burger yang dihasilkan, kita harapkan tidak mengecewakan.



Roti kita olah sendiri






Kami bersyukur bisa menghasilkan selada yang bagus.



Kita bersyurkur, akhirnya akuaponik yang kita bangun sejak 2012 dengan berbagai percobaan yang kita lakukan, akhirnya sampai pada hasil yang bisa kita olah dan kita jual. Tapi tetap, bahwa sayuran dan ikan untuk konsumsi keluarga tetap menjadi prioritas, karena bagaimanapun itu jauh lebih berharga. Meski dalam keterbatasan, kita berharap bisa menjual hasil olahan kita, dengan kualitas yang selalu kita jaga. 
Burger yang kita hasilkan kita beri nama 'Wana Wana Burger Akuaponik', karena memang burger yang dihasilkan adalah hasil dari ikan dan sayuran hasil budidaya akuaponik. Mungkin, ini adalah burger ikan akuaponik yang pertama di Indonesia atau bahkan dunia he.. Semoga burger Wana Wana dapat dinikmati oleh banyak orang, amin. 

Salam akuaponik keluarga

Wana Wana

Friday, 19 June 2020

Wana Wana Akuaponik Keluarga

Wana Wana membuat video untuk belajar akuaponik di channel Youtube. Video dibuat secara bertahap mulai dari episode pertama sampai saat ini episode ke-4 dan akan terus berlanjut, selain itu akan ada juga tips-tips selama ber-akuaponik. Video sengaja dibuat per-episode supaya bagi Sahabat Wana Wana yang baru mulai akuaponik pun bisa belajar dari dasar. 

Meskipun ada channel Youtube untuk belajar, pengalaman dalam ber-akuaponik tetap akan kita bagikan di blog ini. Berikut saya cantumkan video dari episode pertama sampai ke-4.

1. Untuk episode pertama membahas hal dasar yaitu apa itu akuaponik, syarat apa yang harus dipenuhi ketika akan membuat akuaponik dan penjelasan alat dan bahan apa saja yang biasa digunakan dalam akuaponik. Dengan mengetahui hal itu kita bisa memutuskan untuk langkah berikutnya dengan mencari lokasi yang tepat untuk membangun akuaponik di pekarangan kita.

Wana Wana Akuaponik Keluarga #1



2. Untuk episode yang ke-2 membahas komponen apa saja yang ada dalam akuaponik beserta penjelasan fungsi dari tiap tiap komponen. Dengan mengetahui tiap-tiap komponen dan fungsinya maka kita bisa tahu seberapa penting komponen itu bagi sistem akuaponik dan saat membangun akuaponik , maka kita bisa tahu bagaimana membangun sistem yang baik.




  

3. Episode ke-3 membahas tentang model/desain dasar akuaponik. Dengan mengetahui model atau desain dasar, kita bisa mengembangkan akuaponik yang akan kita bangun sesuai kondisi lahan yang ada di tempat kita. Semua bisa dilakukan jika kita mengetahui skema dasarnya.

Wana Wana Akuaponik Keluarga #3




4. Pada episode yang ke-4 membahas tentang pemipaan. Hal ini penting sekali karena akuaponik sangat berkaitan erat dengan pendistribusian air dari kolam sampai kembali ke kolam lagi setelah melewati beberapa tahapan. Banyak masalah terjadi jika kita asal menentukan ukuran pipa dll. Di episode ini, juga membahas pemipaan di masing masing komponen seperti SLO di kolam, Swirl dan  RFF untuk pengendapan. Dengan kita mengetahui teknik-teknik tersebut maka kita bisa memaksimalkan fungsi dari tiap-tiap komponen sehingga sistem bekerja dengan baik. Tentu dengan sistem yang baik tentu akan akan dihasilkan kualitas hidup ikan dan sayuran yang baik pula. 




Semua yang kita sampaikan adalah buah dari pengalaman ber-akuaponik selama ini. Selama berakuaponik pun kita tetap mengandalkan kotoran ikan sebagai sumber nutrisi utama tanpa ada penambahan lain dan itulah yang Wana Wana selalu pertahankan. 

Episode berikutnya kita akan masuk ke tahap penanaman, tentu kita berpedoman pada apa yang telah kita lakukan selama ini.

Semoga video Wana Wana bermanfaat terutama untuk kebutuhan hidup keluarga. Jangan lupa subscibe, like dan komen jika ada yang ingin ditanyakan, atau share jika ingin ikut berbagi dengan yang lain.

Salam Akuaponik Keluarga

Wana Wana

Friday, 12 June 2020

Update - Mini Akuaponik (Waktunya Panen Kangkung)

Hari ini 12 Juni 2020, sudah 26 hari Mini Akuaponik berjalan. Ada beberapa hal akan kita informasikan dari perkembangan akuaponik mini.

Ikan
Untuk kondisi ikan sampai saat ini sangat baik, bahkan makannya begitu lahap. Ikan sudah terlihat mulai lebih besar, setiap pelet yang kita berikan selalu habis. Hanya sayang kita tidak kepikiran untuk ambil sample. Kematian hanya terjadi di awal saja, saat ini hampir tidak ada.


Pengendapan 
Menggunakan ember cat besar pada dasarnya bisa berfungsi dengan baik karena ada banyak kotoran yang bisa mengendap. Yang menjadi masalah adalah jumlah ikan yang terlalu banyak, sehingga dengan wadah sekecil itu menampung kotoran ikan lele yang jumlahnya lebih dari 150 ekor sepertinya kwalahan, padahal lele terus bertumbuh besar. Akibat dari banyaknya kotoran, kotoran pun masuk ke bio kemudian ke wadah tanam dan ada yang kembali lagi ke kolam. Jika bukan lele tentu bisa tumbang ikannya. 




Jadi untuk wadah pengendapan bisa diperbesar wadahnya.

Biofilter
Kondisi biofilter begitu kotor karena banyak kotoran yang tak mengendap dai bak endapan, selain wadah kecil ditambah jumlah ikan sangat banyak.




Tanaman
Dan yang ditunggu tunggu tentu lebih ke tanaman he...
Sejak pembenihan sampai hari ke 26 ini, tanaman sama sekali tidak ada masalah, semua daun terlihat normal. Hanya sayangnya, biji yang kita masukkan terlalu banyak sehingga kangkung tumbuh saling berhimpitan dan bonggol tidak bisa membesar. Mungkin jika jumlah biji kita batasi tiap pot isi 5 saja, tentu hasilnya akan berbeda. Karena kangkung sudah bisa dipanen, kita akan coba lagi dengan mengatur jumlah biji tanaman pada penanaman berikutnya.


Tampak dari sisi Utara


Tampak dari sisi selatan

Kita tunggu Update selanjutnya dari Mini Akuaponik.


Kita sekarang juga memaksimalkan channel You tube Wana Wana dengan kontens khusus akuaponik, kita juga mulai berbagi tips-tips dari pengalaman kita selama ini.

Bisa SUBSCRIBE channel kami bila ingin terus mengikuti Akuaponik dari Wana Wana.




Salam Akuaponik Rumahan

Wana Wana

Wednesday, 27 May 2020

Mini Akuaponik

Berawal dari adanya virus corona yang membuat banyak orang harus tetap di rumah, maka Wana Wana mencoba membuat mini akuaponik dengan menggunakan bahan yang kebetulan sudah ada. Kenapa mini akuaponik, karena sebagian besar masyarakat memiliki lahan yang terbatas, bahan yang dibutuhkan tidak mahal dan membutuhkan listrik yang tidak terlalu besar. Adanya akuaponik mini ini semoga menjadi aktivitas baru yang sedikit bisa membantu memenuhi kebutuhan sayur dan lauk. Siapa yang tahu dimulai dari mini akuaponik akhirnya berkembang menjadi yang lebih besar lagi.

Untuk mini akuaponik ini bahan utama yang digunakan antara lain :
1. Gentong/drum plastik dengan volume sekitar 150 - 200 liter, harga Rp200.000 - Rp300.000.
2. 2 Ember cat 25 kg untuk filter (mekanik dan biologis), harga @ Rp20.000,-
3. Media filter (brush, bahan bekas potongan pipa, potongan botol bekas minuman fermentasi). 
4. Pompa air debit 500 l/h, daya 5 watt, harga < Rp100.000.
5. Pvc 3/4" dan 1 " dan penunjang seperti tee (T), siku sesuai desain. 
6. Growbed pipa 5" bekas dan pot ukuran 8 harga @ Rp450,- dengan media pasir malang.
7. Ikan lele 200 ekor, harga Rp200/ekor (masih kecil).
8. Benih kangkung.

Kurang lebih seperti ini desainnya.



Ember pengendapan (bekas) kebetulan sudah dilubang dari bawah jadi air dari kolam dialirkan lewat bawah. Supaya aliran dari kolam (input pengendapan) tidak menyembur ke atas, input ditutup menggunakan T ukuran 2,5", yang kebetulan ada bekas, untuk membelokkan arah aliran ke kanan dan ke kiri. Adanya pipa T 2,5" membuat aliran terpecah menjadi dua arah sehingga tidak terlalu kencang dan kotoran lumayan bisa mengendap.
Jadi semua hanya dari bahan yang kebetulan sudah ada, ember dan gentong biru di bawah filter digunakan sebagai penyangga.



Penampakan lengkap



Pengendapan



Biofilter



Tanaman.

Untuk tanaman bisa diperbanyak dengan menambah wadah, karena jika hanya 1 wadah seperti di foto, aliran air masih terlalu deras, jadi masih bisa dibagi untuk wadah tanam lain, selain itu jumlah ikan juga banyak.

Sistem sudah berjalan 10 hari, dibuat tanggal 17 Mei 2020. Ikan masih kondisi sehat, kematian terjadi saat awal karena dari bibit sudah banyak yang luka. O iya karena bibit terlalu kecil jadi kolam diberi suplai oksigen tambahan dengan aerator. 

*Perkembangan akan kita update nanti.


O iya Wana Wana membuat episode khusus membahas akuaponik di chanel Youtube, untuk episode pertama kita membahas :
1. Apa itu akuaponik,
2. Syarat membuat akuaponik,
3. Alat & bahan yang sering digunakan dalam akuaponik.

Bila berkenan, silahkan dikunjungi, jika ingin mendapatkan update bisa subscribe, kita akan buat bertahap mulai dari dasar, sehingga bisa lebih bermanfaat.






Salam Akuaponik

Wana Wana




Wednesday, 18 March 2020

Sistem Tanam Pasang Surut Tanpa Media Kerikil

Sampai saat ini saya masih sering mengalami kendala saat menanam sayuran darat seperti sawi dengan metode dft. Dari pengalaman selama ini, masalah utama yang sering terjadi adalah pasokan oksigen yang kurang, karena cenderung yang saya lakukan, bagian bawah rockwool masih tersentuh air. 
Dulu pernah mencoba dengan sistem mirip rakit apung dengan bagian bawah diberi aerator dan hasilnya, pertumbuhan tidak merata, ada bagian yang subur dan ada bagian yang tidak subur. Dari pengamatan, bagian yang subur adalah bagian yang bawahnya terkena banyak gelembung udara dari aerator, begitu sebaliknya. Tapi jika kita menggunakan banyak aerator tentu akan lebih boros di listrik, apalagi jika yang kita tanam sangat banyak atau luas.
Akhirnya mencoba cara baru yang suplai oksigen tidak dari aerator. Cara yang saya lakukan adalah dengan menggunakan sistem pasang surut, tapi tanaman tidak mengikuti irama pasang surut. Tanaman tetap berada di posisinya, hanya air yang mengalami pasang surut. Dengan cara ini, saat terjadi surut tanaman bisa bernafas dan saat pasang tanaman bisa mengambil nutrisi yang terbawa air. 
Memang metode ini sangat mirip pasang surut biasa, perbedaan terletak pada penggunaan media tanam. Jika cara biasanya selalu menggunakan media tanam seperti kerikil yang diisikan ke wadah tanam sampai penuh, cara yang coba saya terapkan hanya menggunakan rockwool ukuran 2,5 cm x 2,5 cm x 3 cm untuk 1 tanaman. Jadi bagian bak/wadah tidak ada media kerikil, hanya berisi air saja yang akan mengalami proses pasang surut terus menerus.
Untuk mencoba cara ini saya membongkar 2 growbed ibc yang sebelumnya terisi kerikil. Karena sebelumnya sudah menggunakan bell siphon untuk pasang surut jadi saya hanya tinggal menyingkirkan kerikil dan membuat dudukan untuk tanaman dalam hal ini netpot.




Penyangga dudukan untuk netpot saya pergunakan tali tampar seadanya yang saya ikat kencang ke besi yang ada di pinggir. Untuk penyangga netpot saya memanfaatkan karpet talang yang juga kebetulan ada bekas punya kakak yang tidak lagi terpakai.




Untuk membuat lubang dudukan netpot pada karpet, saya menggunakan bor tangan dengan mata bor hole saw dengan bagian bawah diberi landasan kayu balok. Untuk jarak tanam, saya terapkan 15 cm antar tanaman, tapi harus disesuaikan juga dengan tali tampar yang ada dibawahnya supaya tidak menghalangi lubang dudukan netpot. 







Setelah semua siap, tinggal kita pasang netpot mungkin sekalian bibit tanaman, tapi bisa juga sekalian pembibitan di tempat ini juga. 
Ingat... saya juga dalam proses melakukan percobaan, dalam hal ini faktor oksigen yang menjadi fokus saya, kesuburan tanaman tentu dipengaruhi banyak faktor terutama nutrisi, jadi jika terjadi ketidak suburan perlu kita telusuri. Cara ini hanya untuk inspirasi, kita bisa menggunakan bahan lain yang mungkin lebih baik. 




Dari perkembangan tanaman, sampai sejauh ini belum ada tanda tanda menguning di bagia tepi daun seperti yang terjadi pada dft. Semoga saja metode ini benar-benar cocok karena, menurut saya jauh lebih hemat, kita tidak perlu aerator ataupun media kerikil yang begitu banyak. Untuk menghindari nyamuk yang mungkin ada, di bak saya masukkan ikan wader 2 ekor.

O iya, lama pasang surut mungkin akan mempengaruhi jadi kita akan coba terus nanti kedepannya.



Salam Akuaponik 
Wana Wana




Sunday, 20 October 2019

Kelebihan & Kekurangan Beberapa Media Tanam

Sejak pertama ber-akuaponik sekitar tahun 2012, sudah berbagai macam media tanam digunakan. Berbagai media tanam dicoba tentu tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan hasil terbaik bagi pertumbuhan tanaman.
Dari pengalaman sejak pertama ber-akuaponik, kita akan coba rangkum berbagai media tanam yang pernah kita coba, semoga saja dari pengalaman ini bisa bermanfaat.

1. Batu kerikil untuk taman. 
Akuaponik pertama yang kita buat justru menggunakan batu kerikil yang biasa digunakan dalam dunia pertamanan, waktu itu kita juga membeli di tukang taman. Warna batu ada yang putih, ada yang hitam dengan ukuran yang kecil, bentuk lonjong dengan permukaan halus. Saat menggunakan batu ini, tanaman bisa tumbuh dengan baik dan cenderung tidak ada masalah, hanya saja batu ini punya permukaan yang halus, sehingga celah antar batu sangat rapat sekali atau sempit. Jika endapan kotoran tidak terfilter dengan baik, karena celah yang sempit, maka celah antar batu akan cepat tersumbat sehingga akan sangat mengganggu aliran air. Jika aliran air mulai terganggu tanaman pun akan menjadi korban seperti terjadinya busuk akar. Batu ini termasuk agak mahal dan berat dan seperti tidak berpori. 

2. Batu kerakal putih untuk taman.
Pernah juga menggunakan batu ini, tapi lupa posisi di artikel yang mana. Batu ini besar, bentuknya lonjong berwarna putih. Menggunakan batu ini terasa berat, saat proses tanam cenderung susah, karena celah antar batu yang sangat besar. Media yang terlalu besar dan padat kurang baik jika untuk "rumah bakteri" (istilah kita he..)

3. Arang kayu.
Sampai sekarang masih menggunakan untuk beberapa growbed, atau sekedar untuk lapisan bagian bawah pada sistem aliran atas. Media arang sebenarnya bagus untuk media tanam, karena ringan, banyak celah dan tentu saja sangat murah meriah. Hanya jika menggunakan media ini lebih baik jika dipecah terlebih dahulu supaya ukuran tidak terlalu besar, mungkin dibuat sekitar 1-3 cm kubik. Pengalaman menggunakan media ini, tanaman bisa tumbuh bagus dan subur, memang subur atau tidaknya tidak hanya bergantung faktor arang saja, tapi arang ikut berperan karena bentuknya membuat celah yang tidak terlalu sempit, sehingga aliran selalu lancar.
Saat pertama kali digunakan, akan banyak serbuk arang yang membuat kolam menjadi hitam, jadi lebih baik dicuci terlebih dahulu biar tidak terlalu banyak serbuk masuk ke kolam, walau tidak membuat ikan mati. Dari pengalaman, mungkin karena terlalu nyaman, sejuk dan banyak rongga pada permukaan media bagian atas, media arang sering digunakan oleh semut atau ulat untuk bersembunyi dan berkembangbiak.

4. Pecahan genting
Media yang satu ini murah meriah karena memanfaatkan barang sisa, kita masih menggunakan sampai sekarang.  Media pecahan genting termasuk bagus, banyak rongga dan tidak berat, hanya jika akan menggunakan, pecahlah terlebih dahulu menjadi ukuran kecil sekitar 1 cm kubik. Jika digunakan terlalu besar akan membuat banyak rongga yang terlalu lebar yang tentunya kurang bagus. Meski ukuran kecil, tapi karena permukaan tidak halus, masih terdapat ruang/celah untuk aliran air. Dengan media ini, saat menanam juga lebih mudah. 

5. Pasir Malang
Media ini awalnya media vavorit, karena ringan, berongga dan ukurannya yang kecil. Menanam menggunakan media pasir malang hasilnya bagus bisa dibilang lebih bagus dari yang lain. Pasir malang mudah digunakan, tapi perlu teknik khusus karena ukurannya yang kecil seperti tanah. Penyerapan pasir malang sangat bagus dan tidak terlalu menyimpan banyak air, ibarat tanah, pasir malang itu seperti tanah yang gembur. Kelemahan penggunaan pasir malang jika air kolam tidak terfilter dengan baik akan mudah sekali tersumbat, dan jika itu terjadi tanaman akan perlahan mulai tidak subur dan mati jika tidak segera ditangani. Jika menggunakan sistem aliran atas, aliran untuk pasir malang dibuat hampir menetes. Pasir malang harganya agak mahal jadi ya perlu dana lebih jika penggunaannya banyak he..

6. Batu split.
Batu yang biasa digunakan untuk bahan bangunan. Untuk kita media ini termasuk vavorit seperti pasir malang karena tidak terlalu berat dan berpori. Bentuk yang kasar membuat celah antar batu tidak terlalu sempit sehingga air mengalir lancar. Jika menggunakan batu split pilih yang ukuran kecil. Menanam dengan batu split hasilnya bagus seperti menggunakan pasir malang, dan kelebihan batu ini tidak mudah tersumbat, tidak seperti pasir malang. 


Nah, demikian pengalaman kita selama ber-akuaponik menggunakan berbagai media tanam, semoga bisa bermanfaat. Untuk foto nanti akan kita tambahkan. Sementara kita bagi video untuk akuaponik kolam fiber yang terbaru.







Salam Akuaponik 
Wana Wana


Saturday, 20 July 2019

Update-Gubuk Wana Wana 'Roboh' (DFT #4)

Salam akuaponik, salam jumpa lagi. Setelah melewati proses selama 40 hari, akhirnya sayuran akuaponik di sistem dft mulai bisa dipetik. Saat ini memang belum dipanen semua, hanya dipanen sesuai kebutuhan dan keinginan saja, karena semua sayuran kita konsumsi sendiri. 
Nah... selama proses menunggu 40 hari dari pembibitan tanggal 8 juni 2019 sampai sudah siap dikonsumsi 18 Juli 2019 apa kendala yang dihadapi dan bagaimana hasilnya, kita akan share di sini. 
Tanggal 8 Juni 2019 kita lakukan pembenihan langsung di tempat pembesaran. Rockwool kita potong-potong dengan ukuran panjang x lebar  = 2,5 cm x 2,5 cm dan tinggi 3 cm. Memilih tinggi 3 cm sebenarnya hanya mencoba saja, karena dari pengalaman, rockwool daya serap air begitu tinggi, sehingga jika terlalu pendek, rockwool akan terlalu banyak air. 
Setelah pemotongan dan biji dimasukkan ke rockwool, kemudian rockwool kita masukkan ke netpot yang tingginya 7 cm. Sejak awal pembuatan, air di dalam pvc kita atur supaya hanya bagian bawah rockwool sekitar 0,5 cm saja yang bersentuhan dengan air.  
Setelah semalam pemasangan ke pvc, pagi hari terlihat bagian atas rockwool tidak terlalu basah, dan juga mulai terlihat beberapa biji sudah mulai berkecambah, sayang proses itu tidak ada dokumen foto. Tapi ada dokumen perkembangan yang kita bagikan di sini.


Slada Ava Red usia 11 hari.

Slada grren romaine usia 11 hari.

Beberapa tanaman setelah usia 17 hari, dari 3 macam tanaman yaitu ava red, green romaine dan pakchoy, packcoy yang ternyata terlihat kurang bagus.









Ini packcoy yang terlihat kurang bagus.



Usia 21 hari.

Usia 29 hari


Usia 32 hari


Usia 38 hari
Selama proses pertumbuhan, setiap pagi selalu cek aliran dan diamati pertumbuhannya, memang ada beberapa yang gagal tumbuh, dari 24 lubang dalam satu pvc hanya sekitar 3 yang gagal tumbuh, mungkin itu resiko jika kita memilih langsung disemai di pembesaran. Pakcoy memang yang paling lambat,bahkan pertumbuhan sangat tidak merata. Kemungkinan memang kondisi atau cara tanam yang kurang pas, terutama kebutuhan oksigen. 
Selama mulai tumbuh sampai usia 40 hari jujur seperti ada rasa bosan menunggu, maklum ada harapan besar selain itu perawatan minim hanya perlu cek rutin aliran dan kebersihan pompa. Dan foto di bawah ini setelah menunggu penuh harap selama 40 hari.

sawi sendok/pakcoy (kanan) terlihat kurang subur.


Green romaina, rasanya renyah
dengan ada sedikit rasa manis setelah kita makan. 




Tanaman slada tumbuh dengan baik, meski hasil masih kurang maksimal, tapi untuk sawi terlihat sekali pertumbuhan kurang bagus, perbedaan  sawi sistem dft dan sawi sistem aliran atas terlihat jelas. Kedua sawi sendok/pakcoy di tanam dengan sumber nutrisi yang sama hanya beda cara tanam, hasilnya berbeda jauh.

Pakcoy dengan sistem aliran atas.

Ini saya sertakan dalam bentuk video, karena ternyata untuk desain saya tidak bisa membuat, jadi dengan video ini semoga ada gambaran.




Ini video akuaponik ibc sekalian ditampilkan.. he..



Istri bikin roti, dan kita santap burger ala Wana Wana.






Sekian dulu dari Wana Wana

Salam Akuaponik.