Tuesday, 22 September 2026

Tumbuh Bersama Akuaponik (14 Tahun)



Kita tidak pernah menyangka 14 tahun terlewati, hingga saat ini, menuju tahun ke-15, tetap setia mengembangkan dan menikmati sistem akuaponik. Kegagalan-kegagalan yang telah kita dapatkan, menjadi sebuah cerita lucu dan kadang konyol, jika diingat-ingat kembali. Bahkan, ketika membuka dan membaca tulisan lama di blog ini, ada rasa malu-malu lucu 😄. Tapi, dari situlah kita menikmati proses belajar dan dari hasilnya, kita bisa berbagi pengalaman, yang mungkin bisa bermanfaat. 

Sangat beruntung mengenal akuaponik, saat kita masih sebagai sebuah keluarga baru. Kita bisa memanfaatkan waktu, tenaga, pikiran dan biaya dengan baik untuk mencoba dan terus mencoba. Kehadiran akuaponik di pekarangan kita, memberikan banyak sekali manfaat. Konsumsi sayuran organik dan ikan segar, lingkungan yang sejuk, aneka binatang kecil yang ikut "menumpang" dan berkembang biak, bertambahnya teman dari berbagai daerah yang datang untuk berbagi pengalaman tentang akuaponik dan menjual hasil olahan akuaponik, adalah kebahagiaan yang kita dapat dalam berakuaponik.   








Seiring waktu, pengalaman-pengalaman yang kita dapatkan tentu bertambah, percobaan dan pengamatan masih kita lakukan, tapi, kita tidak lagi menggebu seperti dulu. Dari pengalaman itulah, kita mulai fokus pada sistem yang lebih hemat biaya, mudah perawatan, yang membuat ikan dan sayuran tumbuh sehat dan menghasilkan panenan yang stabil, dan pada bagaimana kita mengelola hasil panenan. Dari situlah, kita coba merangkum pengalaman-pengalaman itu, bagimana kita memilih dan merawat sistem akuaponik sebagai sebuah ekositem, sesuai yang kita harapkan.

  

Tentang Ikan

Akuaponik bukan hanya tentang sayuran, yang mungkin, kita akan lebih merasa puas dan "sombong", ketika kita sudah bisa menumbuhkan aneka sayur dalam sistem akuaponik yang kita bangun. Terkadang kita lupa, bahwa dalam dunia akuaponik, tidak hanya tentang sayuran saja, tetapi juga ada ikan sebagai penopang kehidupan sayuran. 



Ada beberapa jenis ikan yang coba kita pelihara dalam sistem akuaponik, dari jenis ukuran kecil seperti cethul, wader, bader, komet, dll., sampai yang ukuran lebih besar seperti nila, grasscarp, lele, koi, gurame, patin, tombro, tawes, dll. Memelihara berbagai jenis ikan, ada manfaatnya juga untuk kita, yaitu mendapatkan banyak pengetahuan tentang ikan. Kita bisa tahu seperti jenis pakan, cara berkembang biak, sifat kanibalisme, katahanan diri, rasa daging, susunan duri dalam daging, dll. Dari pengetahuan itulah, paling tidak, kita bisa memilih, memanfaatkan dan mengupayakan yang terbaik. 

Ketahanan diri, salah satu karakter ikan, yang perlu kita kenal, karena sangat penting, khususnya dalam akuaponik. Beberapa jenis ikan dapat hidup dalam lingkungan yang kotor dan minim oksigen, dan sebaliknya, beberapa jenis ikan, tidak mampu hidup dalam lingkungan tersebut. Jika kita memilih untuk membudidayakan jenis ikan yang lebih tahan di lingkungan minim oksigen (ketahanan tinggi), maka kita tidak terlalu kawatir terhadap perubahan pada sistem yang terjadi sewaktu-waktu, seperti terjadi pemadaman listrik beberapa jam, pompa mati, debit pompa mengalami penurunan akibat penyumbatan tanpa kita ketahui, dll. Sebaliknya, jika kita memilih untuk memelihara jenis ikan yang tidak tahan dalam lingkungan minim oksigen (ketahan rendah), maka kita harus mengupayakan lebih, supaya sistem tetap selalu bersih, meskipun sewaktu-waktu terjadi perubahan pada sistem, yang dapat menurunkan kualitas air. Karena karakternya, jenis ikan tertentu, kita butuhkan sebagai indikator dan "penjaga" dalam sistem akuaponik. Ikan tersebut, meski bukan sebagai ikan utama yang kita budidayakan, tapi kehadirannya kita butuhkan.

Ikan cethul, jenis ikan yang ukurannya sangat kecil, lebih banyak ada di permukaan, memiliki sifat ketahanan tinggi. Pakan alami ikan tersebut adalah cacing, larva serangga atau makluk kecil lain di dalam air seperti kutu air dan jentik nyamuk. karakter ini dapat kita manfaatkan untuk menjaga sistem akuaponik. Karena ketahanannya dan apa yang dimakan, ikan cethul dapat  kita tempatkan di bagian pengendapan yang tinggi amoniak, filter biologis dan growbed seperti pada sistem dft, sehingga area-area tersebut, dapat terbebas dari serangga dan hawan kecil lain, yang kehadirannya mungkin merugikan. 

Ikan nila, yang memiliki karakter ketahanan rendah, justru dapat digunakan sebagai indikator kebersihan kolam dan  penanda akan adanya sesuatu yang tidak beres pada sistem. Dalam satu sistem akuaponik, meski yang kita budidayakan adalah ikan lele, akan tetapi, kita akan menempatkan ikan nila di dalamnya, sekitar 1 sampai 4 ekor. Jika ikan nila sering berada di kedalaman, bukan di permukaan untuk menghirup oksigen, maka pertanda sistem dalam kondisi baik. Sebaliknya, jika ikan nila lebih sering berada di permukaan untuk menghirup oksigen, pertanda, bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sistem. Perilaku dari ikan nila tersebut dapat membantu kita, sehingga kita bisa segera melakukan pengecekan, seperti di bagian bak pengendapan yang mulai penuh, debit pompa yang menurun akibat pompa yang sudah kotor,  jalur pipa yang kotor, atau ada sesuatu hal lain yang mengganggu sistem sehingga kualitas air menurun.


Tentang Sayuran

Menanam dalam sistem akuaponik maupun konvensional, sebenarnya lebih banyak persamaannya, seperti kebutuhan cahaya, nutrisi, dll., yang semua tergantung dari jenis tanaman itu sendiri. Yang membedakan menanam sayuran dalam sistem akuaponik dengan sistem konvensional adalah, pada sistem akuaponik, tanaman jenis apapun, perakarannya "dipaksa" untuk lebih banyak bersentuhan dengan air atau hidup yang habitatnya di air. Sedangkan konvensional, jenis sayuran apapun, perakarannya "dipaksa" untuk hidup di tanah atau yang habitatnya di darat.  Jenis tanaman apapun, ketika "dipaksa" hidup di habitat darat, kemungkinan besar lebih mudah untuk bertahan atau berkembang, akan tetapi jika, "dipaksa" untuk hidup di habitat air, akan jauh lebih sulit untuk berkembang dan cenderung akan mati secara perlahan. 



Tidak semua tanaman bisa hidup dengan perakaran yang terus menerus terendam air. Selama ini, dalam berakuaponik, kita mencoba berbagai macam jenis sayuran, baik sayuran daun maupun sayuran buah. Dari sekian banyaknya kegagalan dan keberhasilan, ada hal mendasar yang akhirnya harus dipahami, ketika akan menanam sayuran-sayuran tersebut. Kita perlu mengenal dan memahami karakter tanaman yang akan kita tanam, salah satu diantaranya adalah,  apakah jenis tanaman air, yang perakarannya dapat terus menerus terendam air, atau jenis tanaman darat, yang perakarannya tidak bisa terus menerus terendam di dalam air. 

Bisa membedakan tanaman, apakah jenis tanaman air atau bukan itu sangat penting. Jika termasuk jenis tanaman air, maka sistem tanam apapun yang kita gunakan, kemungkinan besar akan berhasil, tanaman bisa tumbuh dengan baik, jika didukung nutrisi, cahaya yang cukup. Sebaliknya, jika bukan jenis tanaman air, meski nutrisi dan cahaya cukup, kita juga harus memilih sistem tanam yang cocok. Jika kita memaksakan, semua tanaman yang kita tanam dalam sistem akuaponik dianggap jenis tanaman air, maka kita harus mengupayakan, agar oksigen terlarut di dalam air tersebut, tinggi, karena disitulah letak permasalahannya.


Tentang Sistem Tanam

14 tahun bukanlah waktu yang sebentar, selama proses itu, berbagai sistem tanam kita coba, mulai dari pasang surut dengan bell siphon dan siphon apung, pasang surut menggunakan media dan tanpa media, rakit apung, Nutrient Film Technique (NFT) , Deep Flow Technique (DFT), aliran atas, vertikal, dan beberapa sistem tanam modifikasi. Dari berbagai sistem itu, kita mendapatkan hasil yang berbeda-beda, ada yang gagal dan ada yang berhasil. Keberhasilan dan kegagalan itu bukan semata-mata karena pilihan sistemnya, tetapi juga banyak faktor yang mempengaruhi, baik dari nutrisi, cahaya, oksigen terlarut, media tanam, pemilihan jenis tanaman dll..  

Setiap sistem memiliki kelebihan dan kekurangan, dan semua bisa kita terapkan. Pasang surut dengan siphon, adalah sistem yang sangat baik, semua jenis tanaman bisa diterapkan dengan sistem tanam ini, akan tetapi, kita harus rajin melakukan pengecekan. Jika ikan yang kita budidayakan banyak, tanpa adanya filter yang baik, kemungkinan besar, bell siphon akan sering bermasalah, bahkan growbed bisa menjadi "gudang" kotoran ikan. Sistem NFT dan vertikal, bagus untuk sayuran daun karena perakaran hanya bersentuhan dengan sedikit air, hanya saja, jika tempat kita sering terjadi pemadaman listrik, ditambah berada di daerah dataran rendah yang panas, maka itu akan menjadi masalah. Rakit apung, bagus untuk sayuran daun, hanya kita membutuhkan perangkat tambahan di luar pompa utama, yaitu aerator atau pompa tambahan, untuk menambah kandungan oksigen terlarut, dan itu akan membutuhkan lebih banyak daya listrik.

Akhirnya dari semua sistem tanam, semua kembali ke selera kita. Dari sekian sistem tanam yang telah kita coba selama bertahun-tahun, akhirnya kita bisa memilih, mana yang paling cocok untuk kita terapkan secara berkelanjutan. Ada 2 sistem tanam yang akhirnya kita pertahankan, yaitu aliran atas dan Deep Flow Technique (DFT). Aliran atas, kita khususkan untuk tanaman sayuran buah dan tanaman berumur panjang, seperti mint, kemangi. Sistem tanam DFT, kita khususkan untuk sayuran daun seperti sawi, selada, kangkung dan bayam brazil. 



Sistem aliran atas, kita pilih untuk menanam jenis tanaman sayuran buah. Selain sederhana, sistem ini mudah untuk dibuat, tidak membutuhkan perawatan yang ekstra, dan sayuran yang dihasilkan cukup memuaskan. Pada sistem tanam ini, jika suatu saat aliran air yang menuju ke sistem tanam ini terhenti beberapa jam atau hari (1-2 hari), tanaman tetap bisa bertahan. Karena bagian bawah/dasar dari sistem ini, masih menyisakan genangan air sekitar 10 cm. Genagan air tersebut yang akan menjaga media tanam tetap dalam kondisi basah. Keadaan ini, membuat perakaran tetap tidak akan kekurangan air untuk beberapa saat. 

Sistem Deep Flow Technique (DFT), kita pilih untuk menanam jenis sayuran daun. Sistem ini, sangat cocok untuk semua jenis sayuran daun, dan penempatannya-pun tidak memakan banyak ruang. Sistem  dapat diletakkan secara bertingkat maupun sejajar horisontal, di samping atau di atas kolam budidaya. Jika aliran air ke sistem sewaktu-waktu terhenti pada sistem ini, masih ada genangan air, sehingga tanaman tetap bisa bertahan. Jika menggunakan sistem ini, perlu diperhatikan ukuran pipa, ketika tanaman tumbuh subur dengan perakaran yang banyak, maka akan menimbulkan penyumbatan.


Tentang Media Tanam

Ada banyak jenis media tanam yang dapat digunakan dalam berakuaponik. Ada yang sengaja dibuat khusus untuk media tanam hidroponik/akuaponik seperti rockwool, hidroton dan ada yang bisa kita dapatkan di sekitar kita seperti kerikil, pasir, arang kayu, batu split, pecahan genting, dll. 



Media tanam yang didesain khusus seperti hidroton dan rockwool, tentu memiliki kelebihan, diantaranya memiliki bobot yang ringan, mudah menyerap air. Bagi yang memiliki dana lebih, maka 2 media tersebut bisa menjadi pilihan. Tapi, media yang ada di sekitar kita pun tidak kalah bagusnya, seperti kerikil, pasir, pecahan genting, dll.  Jika pilihan kita, menggunakan media yang ada di sekitar kita, maka kita perlu memilih atau mengupayakan agar media tersebut memiliki bobot yang tidak terlalu berat, ukuran tidak terlalu besar (kurang dari 1cm x 1 cm x 1cm), dan mampu menyerap air dengan baik.

Seiring waktu, dari banyak media yang kita coba, akhirnya bisa memilih media tanam yang tetap kita gunakan. Kerikil dan pasir malang adalah dua media tanam yang kita pilih. Ada beberapa alasan mengapa mempertahankan menggunakan media tersebut, yaitu karena murah, bisa digunakan secara terus menerus atau tidak sekali pakai langsung dibuang, mampu meyerap air dengan baik, bobotnya yang tidak terlalu berat dan yang pasti tanaman bisa tumbuh dengan baik.


Tentang Air

Kemarau yang panjang, sering menghadapkan kita pada situasi untuk memilih, antara terus menanam atau berhenti, demi ketersediaan sumber daya air yang lebih penting seperti memasak, minum dan kebersihan diri. Tapi, setelah mengenal akuaponik, situasi tersebut mulai berbeda. Dalam sistem akuaponik, air sebagian kecil diserap dan selebihnya akan terus berputar. Air yang digunakan untuk budidaya ikan, dialirakan dan digunakan untuk budidaya sayuran, dan dari budidaya sayuran, air akan akan dikembalikan dan digunakan kembali untuk budidaya ikan. Proses perputaran ini akan terus menerus, kita tidak perlu melakukan pengurasan, karena air dari tanaman yang kembali ke kolam akan kembali jernih seperti mata air. 



Di musim kemarau, kita tidak lagi kawatir untuk tetap budidaya sayuran dan ikan, karena sistem akuaponik sangat hemat air. Tapi, kita harus tetap menjaga, supaya ketersediaan air tanah tetap terjaga. Menanam pepohonan di pekarangan kita, membuat sumur resapan dan mengalirkan air hujan ke dalam tanah di pekarangan kita, bukan mengalirkan ke sungai adalah langkah yang terbaik.


Penutup

Dan pada akhirnya... sistem akuaponik yang telah dan akan kita bangun, semua merujuk dan berdasar dari pengalaman yang telah kita dapat selama ini. Tulisan di blog ini, dan video yang sudah kita bagikan lewat channel youtube Wana Wana, adalah rangkaian cerita dari sebuah perjalanan panjang. Tenaga, pikiran, waktu dan biaya yang kita keluarkan, tentu tidak sia-sia. Sekarang keluarga kita, tetap harus menikmati, meneruskan dan bertumbuh bersama sistem akuaponik sebagai sebuah ekosistem di pekarangan kita.  

Terima kasih, selamat berakuaponik dan jangan lelah untuk terus menghutankan pekarangan kita.

Salam hijau dari pekarangan rumah.

Wana Wana Akuaponik

Sunday, 9 May 2021

Akuaponik Mini #2

Salam jumpa lagi dengan Wana Wana, kali ini kita akan berbagi tentang pembuatan akuaponik mini. Akuaponik mini kali ini dibuat lebih lengkap daripada akuaponik mini sebelumnya, karena disertai rak untuk menempatkan tanaman di atas kolam dan filter, sehingga sistem menjadi lebih ringkas dan tidak memakan banyak tempat.


Akuaponik Mini

Dengan berbekal pengalaman kita selama ini, akhirnya kita mencoba mendesain dan membuat akuaponik mini dari keterbatasan tersebut. Secara keseluruhan, pembuatan akuaponik mini ini memakan biaya kurang lebih Rp800.000,- bisa kurang bisa lebih tergantung bahan yang kita gunakan, karena merk bahan yang kita gunakan adalah merk bahan yang lumayan bagus, seperti untuk pemipaan. Kebetulan juga ada banyak bahan tak terpakai yang masih sangat bagus di Wana Wana, sehingga bisa kita manfaatkan.

Bahan dan Pembuatan.

A. Rak Tanaman 

Untuk pembuatan rak tanaman, kita menggunakan pipa ukuran 3/4", secara otomatis penghubung pipa akan menggunakan ukuran sesuai pipa tersebut.



Untuk bahan bahan yang digunakan dalam pembuatan rak antara lain,

1. Pipa panjang 75 cm, jumlah  9 buah. Berfungsi untuk ketinggian rak.

2. Pipa panjang 50 cm, jumlah 8 buah. Berfungsi untuk panjang rak. 

3. Pipa panjang 25 cm, jumlah 12 buah. Berfungsi untuk lebar rak.

4. Pipa panjang 6 cm, jumlah 12 buah, penghubung atar knee/siku dan T.

5. siku/knee jumlah 8 buah, untuk posisi di gambar berwarna biru. 

6. T/Tee jumlah 22 buah, untuk posisi di gambar berwarna merah.

Total panjang pipa 3/4" yang dibutuhkan 14,47 meter, jadi kita bisa membutuhkan 4 lonjor, jika tiap lonjor panjang 4 meter.


Rak tanaman dengan pipa 3/4"

Semua bahan tinggal dirangkai sesuai gambar, boleh dilem, boleh tidak. Jika pipa menggunakan bahan bagus tentu sudah presisi dan kuat meski tanpa dilem.


B. Kolam dan Filter.


Untuk kolam dan filter kita menggunakan 3 buah ember, dan untuk penghubung antar ember kita menggunakan pipa ukuran 1,5". Pipa 1,5" yang kita gunakan sudah cukup untuk pengairan dari kolam sampai ke bak filter, dengan kemampuan pompa 600L/H. 

Untuk rincian bahan yang digunakan antara lain,

1. Ember 70 liter, jumlah 1 buah (warna merah), berfungsi untuk kolam ikan.

2. Ember 60 liter, jumlah 2 buah (warna hitam), berfungsi untuk filter mekanis/pengendapan dan biofilter.

3. Pipa 1,5 inc, 1 buah, berfungsi sebagai penghubung/aliran air antar ember.

4. Pasangan sockdrat dalam dan sockdrat luar 1,5 inc, jumlah 4 buah (pasang). Bisa diganti/menggunakan uniseal 4 buah ukuran 1,5 inc. 

5. Karet untuk sockdrat 8 buah supaya tidak bocor, biasa terjual terpisah. Jika kurang tebal bisa ditambah dengan karet ban dalam (motor), dibentuk bulat seperti karet sockdrat. Jika menggunakan uniseal, maka karet dan ban dalam tersebut tidak diperlukan.

6. Siku/knee ukuran 1,5" jumlah 7 buah.

7. Pompa akuarium AT102 (Atman) (600 L/H, 8 Watt) jumlah 1. Berfungsi untuk mengalirkan air dari biofilter ke tanaman.

8. Pipa Aquarium 1 buah.

9. Siku (pipa aquarium) 3 buah.

10. T/Tee (pipa akuarium) 1 buah.

11. Brush, jumlah 4 buah, berfungsi sebagai media tempat bakteri di biofilter.

 

Kolam ikan

Aliran air dari kolam (tempat memelihara ikan) yang membawa kotoran ikan dan sisa pakan akan mengalir menuju bak pengendapan. Di dalam kolam, kotoran yang sifatnya berat, cenderung akan mengendap di dasar kolam, supaya dapat terbawa ke bak pengendapan/filter mekanis maka perlu menggunakan teknik pemipaan Solids Lifting Outlet (SLO). Pada teknik ini, ujung bagian bawah pipa diletakkan di dasar kolam, sehingga kotoran yang mengendap di dasar kolam yang berada di dekatnya bisa tersedot bersama aliran air untuk dialirkan ke bak berikutnya.

Untuk itu, kita perlu membuat lubang di bagian samping posisi agak dekat dengan ujung atas ember. Untuk lebih jelas bisa lihat dambar di bawah ini. 


Kolam ikan


Dalam kolam ini, kita membutuhkan pasangan sockdrat (luar & dalam), T/Tee, pipa dari T ke dasar kolam, dan pipa penghubung sockdrat dan T.




Filter Mekanik/Pengendapan


Air dan kotoran dari kolam yang masuk ke filter mekanik akan dipisahkan. Cara pemisahan dilakukan dengan cara pengendapan. Supaya kotoran bisa mengendap, salah satu cara diantaranya dilakukan dengan teknik RFF (Radial Flow Filter). Teknik ini membelokkan aliran air dari kolam yang masuk ke bak pengendapan menuju ke atas/permukaan dengan mengunakan siku. Supaya air dan kotoran yang masuk ke bak pengendapan tidak menyebar dan bisa masuk ke bak berikutnya, maka pipa aliran diberi pembatas/dinding dengan menggunakan wadah/pipa yang lebih besar di sekeliling. Ujung atas dari pembatas harus lebih tinggi dari ketinggian air (lihat gambar). Dengan cara ini, air dan kotoran akan membentur penghalang, sehingga air bisa mengalir ke bawah dan kotoran bisa mengendap. Lubang keluar dari bak/filter mekanik dihadapkan ke atas tepat di bawah permukaan air, supaya hanya air bersih di bagian atas yang masuk ke bak berikutnya.


Untuk ember pengendapan ini kita harus membuat 2 lubang di samping ember, untuk aliran air masuk dari kolam dan keluar menuju ke biofilter. Posisi lubang bisa saling bersebrangan dan posisi lubang bisa di tengah, seperti gambar di atas atau di bawah. Untuk bahan yang dibutuhkan di filter mekanis ini adalah, pasangan sockdrat 2 buah, siku 2 buah, pembelok dari pipa 3", pipa penghubung sockdrat dan siku, pipa naik. Untuk lebih jelas lagi bisa dilihat gambar di bawah ini.







Biofilter

Air dari bak pengendapan bagian atas selanjutkan akan dialirkan ke biofilter. Biofilter diisi dengan banyak media. Fungsi dari media tersebut untuk tempat bakteri menempel (rumah bakteri). Peran bakteri di bak biofilter ini untuk menyerap amoniak dan mengubahknya menjadi nitri - nitrat. Nitrat merupakan hasil akhir yang nantinya akan diserap oleh tanaman, karena senyawa ini sangat dibutuhkan oleh tanaman. Nitrat pada jumlah tertentu akan meracuni ikan, sehingga adanya tanaman khususnya sayuran yang menyerapnya, maka membuat air yang kembali ke kolam akan kembali bersih.

Di dalam biofilter terdapat pompa yang berfungsi untuk mengalirkan air menuju ke wadah tanam. Supaya biofilter dapat bekerja dengan maksimal, maka aliran air yang masuk dan keluar harus diatur. Jika pompa diletakkan di dasar bak biofilter, maka aliran air yang masuk ke biofilter harus dibelokkan ke atas menuju ke permukaan. Karena pompa menyedot air di bagian bawah/dassar bak, maka air akan mengalir dari bak bagian atas menuju ke dasar bak, saat mengalir ke bawah inilah, aliran air dan amoniak akan melewati media yang ditempati banyak bakteri, sehingga amoniak dapat diserap oleh bakteri untuk dihasilkan menjadi nitrit-nitrat.



Lubang aliran dari filter mekanis ke biofilter bisa diposisikan di tengah. Untuk bahan yang digunakan di biofilter ini adalah pasangan sockdrat, pompa, siku, pipa penghubung siku/sockdrat dan pipa ke atas, brush dan pipa akuarium. Untuk lebih jelasnya bisa lihat gambar di bawah ini.


Biofilter


Masing masing ember (kolam, filter mekanis,biofilter) saling dihubungkan. Untuk lebih jelas bisa lihat gambar di bawah ini. Untuk pipa penghubung kolam dan pengendapan ada di sebelah ujung sana, dan untuk penghubung pengendapan dan biofilter terlihat jelas di ujung sini 😊
 




C. Wadah Tanam

Untuk bagian tanam menanam, kali ini kita menggunakan teknik DFT. Kita menggunakan teknik ini karena untuk sayuran kangkung, selada bisa bagus. Nah jika ingin dikembangkan tentu bisa dengan menambah growbed atau teknik tanam lain. 

Untuk penanaman, bahan yang kita gunakan antara lain,

1. Pipa 3", jumlah 1 buah. Berfungsi untuk menampung akar, mengalirkan air sekaligus penopang pot di atasnya.

2. Dop 3", jumlah  2 Buah. untuk menutup salah satu ujung pipa 3".

3. Oversock 3 " x 1 ", jumlah 2 buah. Berfungsi supaya ada genangan di pipa kurang lebih 1/2 bagian dari pipa.

4. Pot ukuran 8, jumlah 20 buah. Bagian samping pot diberi lubang untuk perakaran.

5. Pasir malang, secukupnya, berfungsi sebagai media tanam.

6. Biji kangkung secukupnya.

7. Siku 1", jumlah 2 buah, untuk aliran pembuangan menuju ke kolam.

8. T/Tee 1", jumlah 1 buah, untuk aliran pembuangan ke kolam.

9. Pipa 1 " , panjang sekitas 50 cm, sebagai penghubung oversock, siku 1" dan T". 

 


Dalam pembuatan, pipa 3 " kita potong menjadi 2 bagian yang sama. Tapi sebelumnya kita potong/ambil ujung pipa yang biasa untuk sambungan (diameter lebih besar), potongan tersebut kita gunakan untuk perisai/penghalang di bak pengendapan (lihat gambar di bak pengendapan). 

Setelah pipa terpotong menjadi 2 yang sama panjang, maka bisa kita lubang di bagian atas dengan menggunakan halsaw, seuaikan dengan ukuran pot, pastikan pot bisa masuk sampai menyisakan bagian atas. Untuk jarak lubang tanam adalah 15 cm. Jika sudah ujung ujung pipa kita tutup dengan dop dan oversock. Setelah itu bisa kita pasang sesuai pada gambar di atas. Demikian juga untuk aliran dari pipa 3" ke kolam bisa dilihat sesuai gambar. 

Jangan lupa tutup kolam diberi lubang. 1 lubang besar untuk pipa 1" yang posisinya di pinggir, jangan sampai tepat masuk di SLO. Lubang kecil kecil juga perlu dibuat supaya ada banyak oksigen dan sinar matahari masuk. Karena ikan yang digunakan adalah lele, maka tutup tersebut harus selalu dipasang supaya ikan tidak loncat keluar karena adanya suara gemericik air.

Di salah satu ujung pipa 3" yang di pasang dop/tutup pipa, perlu dibuat lubang untuk pipa aliran dari biofilter. Untuk diameter lubang bisa menyesuaikan diameter pipa. Jika semua sudah terpasang, isi air disemua bak sampai penih dan jalankan sistem.

Untuk penanaman kangkung, pasir malang disaring terlebih dahulu untuk memisahkan ukuran pasir yang besar dan kecil, untuk ukuran besar diletakkan di bagian bawah, bagian atas yang ukuran lebih kecil. Sebelum dimasukkan ke pot, pasir dibasahi terlebih dahulu, pasir dimasukkan sampai 3/4 bagian, setelah itu masukkan 10 biji kangkung merata dan tutup kembali dengan pasir malang. Untuk ikan bisa diisi 30 ekor, jangan terlalu kecil, rawan mati. 


Nah.. Meski akuaponik itu sistem yang bekerja otomatis, tapi kita perlu melakukan perwatan. Hal hal yang perlu kita lakukan dalam perawatan sistem akuaponik adalah:

1. Beri pakan secukupnya, jangan terlalu banyak (2 x sehari pagi dan sore)
2. Bersikan pipa akuarium jika terlihat kotor, berkala 1 minggu sekali lebih baik.
3. Bersihkan pompa berkala, bisa 1 minggu sekali.
4. Jika biofilter terlihat sangat kotor, jika ada endapan cukup sedot menggunakan selang dan jika brush sangat kotor, bisa dicuci dengan cara disemprot dangan selang.

5. Jika tanaman sudah dipanen, media pasir malang bisa dicuci dan bersihkan dari akar, setelah itu gunakan kembali. 
6. Jika di pipa tanaman (3") terlihat banyak endapan, sebelum dilakukan penanam kembali, endapan bisa disedot. 
7. Air pada sistem jangan dikuras atau diganti, jika ikan dipanen, cukup serok saja biarkan air tetap di sistem. 
8. Jika air berkurang karena penguapan atau diserap tanaman bisa ditambahkan.

Kiranya demikian sharing dari kami, mohon maaf jika masih banyak kekurangan. Jika ada pertanyaan bisa ditanyakan, di blog ini atau ke channel Youtube Wana Wana.
Semoga yang kami sharingkan bermanfaat.

Kebetulan kita membuat lagi akuaponik mini untuk Wana Wana sendiri dan video tutorial pembuatan sudah tayang di channel Youtube, bila berkenan silahkan ditonton.

Bagian pertama untuk pembahasan alat dan bahan



Video ke-2 tentang perakitan dan penjelasan untuk tiap tipa komponen.





Salam akuaponik keluarga 
Wana Wana 


Friday, 12 February 2021

Pembibitan Dengan Endapan Kotoran Ikan

Kali ini saya coba sharing pembibitan dengan kotoran ikan. Sebelumnya atau dulu pernah saya tulis juga, hanya kali ini ada sedikit perbedaan. Jika yang sebelumnya endapan langsung diambil dan disaring, setelah agak mengental kemudian bisa tanami. Ada sedikit efek jika endapan langsung ditanami, terutama jika kita tidak bisa membedakan mana endapan yang benar-benar sudah 'matang' atau aman dan endapan yang belum 'matang' atau mau bau menyengat. Jika masih berbau dan kita coba tanami, ada kemungkinan biji yang kita masukkan akan membusuk dan hal itu pernah saya alami.






Belajar dari pengalaman itulah, saya mencoba cara lain namun masih tetap menggunakan endapan kotoran ikan. Percobaan pertama berhasil, dengan hampir semua biji bisa tumbuh dengan baik, jika ada beberapa yang tidak tumbuh, itu akibat biji yang kemasannya sudah terbuka lama karena pemakaian yang hanya sedikit-sedikit. Percobaan pertama, tanaman sudah siap dipanen. Percobaan ke-dua juga berjalan baik dengan biji hampir semua tumbuh baik dan akan segera pindah tanam.

Cara yang saya gunakan kali ini adalah dengan minta bantuan cacing. Kotoran yang diambil dari bak endapan disaring menggunakan kain supaya air bisa keluar dan endapan tetap tertinggal. jika endapan sudah mengental, bisa dipindah ke sebuah wadah, dalam hal ini saya menggunakan pipa pvc bekas ukuran 5" yang dibelah menjadi 2. Penempatan wadah sebaiknya di tempat yang teduh dan tidak terkena banyak sinar, serta bebas dari guyuran air hujan.







Setelah itu masukkan cacing ke dalam wadah, saya menggunakan cacing yang sejak dulu dipelihara di growbed akuaponik, jadi tinggal ambil dan pindahkan. Jika endapan terlalu basah, cacing cenderung tidak mau, jadi pada satu sisi bisa ditambahkan tanah yang tidak terlalu basah untuk sementara, karena beberapa hari kemudian cacing akan bergerak menuju ke endapan kotoran.
Selama proses, tidak perlu diberi makan, karena cacing bisa makan dari endapan kotoran. Untuk mengetahui proses sudah selesai kita bisa cek dengan ciri, tanah sama sekali sudah tidak berbau, permukaan sudah banyak sekali 'pelet' kotoran cacing, dan warna endapan sudah kehitaman sangat mirip dengan tanah, jika diambil sangat terasa lembut. O iya, lama proses tergantung dari jumlah cacing, jika semakin banyak tentu akan semakin cepat.




Hasil dari proses oleh cacing itulah dapat kita gunakan untuk pembibitan. Untuk yang saya lakukan, dari wadah yang memanjang, akan saya ambil setengah bagian, dan setengah bagian berikutnya dibiarkan untuk 'rumah' cacing. Setengah bagian yang kosong bisa kita isi lagi dengan endapan baru dan seiring waktu, cacing dari endapan lama yang tidak diambil akan bergerak menuju ke endapan baru. Nah proses berikutnya endapan lama kita ambil dan kita isi yang baru, begitu seterusnya.

Dalam pembibitan saya menggunakan talang bekas yang saya potong, endapan yang sudah terproses tadi dimasukkan. Jika endapan agak kering bisa ditambah air dan diolah biar tidak terlalu kering. Endapan dibuat supaya permukaan rata, setelah itu dibuat garis-garis membentuk kotak-kotak untuk penempatan biji supaya teratur. Setiap kotak ada 1 biji, untuk ukuran bisa menyesuaikan.





 
Setelah semua kotak diisi biji, biji agak sedikit ditekan biar sedikit masuk. Setelah proses selesai tempatkan biji ditempat teduh dan ditutup supaya tidak kering dan bisa tumbuh. Jika tanah terlihat mengering sedikit diberi air. Jika biji masih bagus dan baru, 1 hari bisa mulai berkecambah, jika tidak, butuh 2 hari lebih baru bisa berkecambah. Setelah berkecambah, bisa tempatkan di tempat yang mendapatkan sinar matahari terutama pagi, dan jaga supaya jangan kering, tapi dari pengalaman, tidak akan kering karena lapisan tidak terlalu tipis.

Nah demikian pengalaman saya dalam pembibitan dengan menggunakan endapan kotoran ikan, semoga bermanfaat. Untuk video di channel Youtube Wana Wana juga sudah kita posting, jika ingin melihat.




Salam Akuaponik Keluarga 

Wana Wana

Wednesday, 23 September 2020

Mantapnya Tomat Akuaponik Sistem Aliran Atas

Sejak memulai usaha 'Wana Wana Burger Akuaponik',  mau tidak mau kita harus menanam banyak sayur yang dibutuhkan seperti selada, tomat, mentimun, dll. Ketersediaan sayuran itupun tidak boleh terputus, karena begitu tanaman akuaponik habis walau ikan masih, maka kami tetap tidak bisa menjual burger akuaponik, kami ingin menjual dari hasil akuaponik kami. Jadi kami belum berani menjual burger dalam jumlah besar, kami masih menjual dari teman ke teman melalui aplikasi WhatsApp. 






Untuk itulah, kami belajar mengelola kebun akuaponik, supaya bisa terus memanen tanpa berhenti. Untuk selada sempat kewalahan, tapi akhirnya kami evaluasi cara tanamnya, sehingga hasilnya lebih baik dan layak untuk kami jual dalam bentuk burger.

Selain selada, ada tomat yang menjadi kebutuhan pokok Wana Wana Burger Akuaponik, jadi harus juga tersedia. Untuk itulah, ember cat di akuaponik kolam fiber, yang sebelumnya untuk menanam berbagai sayuran, sekarang kita fungsikan sebagian besar untuk tomat. 

Tomat yang kita tanam adalah tomat Bareto. Ditanam dengan sistem aliran atas, media batu split. Ditanam tidak dalam waktu yang bersamaan, tapi berjarak, supaya tidak panen bersamaan tapi berkelanjuatan.







Untuk ikan, menggunakan ikan lele jumlahnya sekitar 150 ekor. Ikan lele di akuaponik kolam fiber ini adalah ikan dewasa khusus siap panen. Kita ada beberapa kolam, ikan dari kolam akuaponik lain kita sortir, yang sudah berukuran besar kita pindah di akuaponik kolam fiber ini sekaligus untuk mensuplai kebutuhan nutrisi tomat dan selada.

Penanaman awal sekitar bulan April-Mei dengan pencahayaan yang bagus, karena masuk di akhir musim penghujan, sehingga mendung mulai jarang terlihat. Perkembangan 2 pohon tomat memang luar biasa, daun terlihat hijau tua dan batang yang besar. Untuk pemeliharaan, setiap pohon hanya kami biarkan 2 cabang utama saja, dan cabang lain kita potong, begitu juga tunas airnya. Buah yang muncul relarif banyak dan ternyata besar-besar. Untuk urusan hama kita serahkan pada alam, tanpa melakukan penyemprotan, membiarkan hewan predator bekerja. 












Selang 1 bulan berikutnya, kita menanam lagi 5 pohon dan hasilnya pun memang luar biasa, di luar perkiraan kami. Memang ada 1 yang hasilnya kurang bagus, tapi itu tomat jenis lain. Sekarang,  kebutuhan tomat untuk Wana Wana Burger Akuaponik, kami tidak kekurangan. Saking melimpahnya, bahkan bebarapa kali kami bagikan ke keluarga, teman dan tetangga dan sebagian kami buat jus, sambal dan kita santap langsung. 









Dengan menjual Wana Wana Burger Akuaponik skala kecil, tujuan kami adalah untuk belajar, belajar bagaimana kami mengelola kebun mini kami supaya bisa memanen secara terus menerus dan bisa menjual burger kami setiap hari meski tidak banyak. Memang di luar dugaan juga, olahan burger kami banyak disukai, sehingga selalu saja ada yang membeli, bahkan banyak juga yang mencoba dan akhirnya ketagihan. Dengan memulai usaha dari kecil, kami bisa belajar dan terus melakukan evaluasi dari kebun hingga dapur, dari sayuran hingga daging dan roti. 

Untuk tomat dengan sistem aliran atas dengan nutrisi dari ikan lele memang luar biasa hasilnya. Kita sama sekali tidak menambahkan unsur dari luar, jadi hasil yang melimpah ini, nutrisi murni dipasok dari ikan lele. Dari penanaman tomat ini kami banyak belajar, bagaimana mengatur supaya bisa terus memanen tomat. Oh iya, dari hasil hitung, setiap pohon bisa menghasilkan tomat rata rata 40 buah dan besar-besar. Sekian sharing dari kami.



Bila berkenan ikuti juga kami di Channel Youtube  'Wana Wana' 

Salam Akuaponik Keluarga

Wana Wana




Friday, 17 July 2020

Wana Wana Burger Akuaponik

Akhirnya cita cita Wana Wana untuk menjual hasil panenan akuaponik perlahan mulai tercapai. Sejak panenan selada yang mulai stabil, ikan yang siap panen sewaktu waktu, akhirnya memberanikan diri menawarkan produk olahan kita. 


Wana Wana Burger Akuaponik 



Keraguan itu pasti ada, bahwa burger Wana Wana akan bisa diterima dan dinikmati, tapi tanpa kita mencoba dan memulai kita tak akan pernah tahu. Burger kita buat spesial, dari ikan dan sayuran budidaya akuaponik, agar berbeda dari burger yang sudah ada, mungkin bisa menjadi pelengkap atau alternatif pilihan. 
Kita hanya memproduksi terbatas, karena keterbatasan kita dalam budidaya sistem akuaponik, yang hanya memanfaatkan pekarangan rumah. Tapi, dengan managemen yang baik seperti mengatur pola panen ikan dan sayuran, kita berharap stock akan tersedia walau tidak banyak.
Kebetulan istri juga pernah sekolah di jurusan boga, sehingga roti burger bisa diproduksi sendiri, demikian juga olahan ikannya, dapat kita kreasikan sendiri. Kita tetap melakukan percobaan, demikian juga untuk patty-nya, sehingga burger yang dihasilkan, kita harapkan tidak mengecewakan.



Roti kita olah sendiri






Kami bersyukur bisa menghasilkan selada yang bagus.



Kita bersyurkur, akhirnya akuaponik yang kita bangun sejak 2012 dengan berbagai percobaan yang kita lakukan, akhirnya sampai pada hasil yang bisa kita olah dan kita jual. Tapi tetap, bahwa sayuran dan ikan untuk konsumsi keluarga tetap menjadi prioritas, karena bagaimanapun itu jauh lebih berharga. Meski dalam keterbatasan, kita berharap bisa menjual hasil olahan kita, dengan kualitas yang selalu kita jaga. 
Burger yang kita hasilkan kita beri nama 'Wana Wana Burger Akuaponik', karena memang burger yang dihasilkan adalah hasil dari ikan dan sayuran hasil budidaya akuaponik. Mungkin, ini adalah burger ikan akuaponik yang pertama di Indonesia atau bahkan dunia he.. Semoga burger Wana Wana dapat dinikmati oleh banyak orang, amin. 

Salam akuaponik keluarga

Wana Wana

Friday, 19 June 2020

Wana Wana Akuaponik Keluarga

Wana Wana membuat video untuk belajar akuaponik di channel Youtube. Video dibuat secara bertahap mulai dari episode pertama sampai saat ini episode ke-4 dan akan terus berlanjut, selain itu akan ada juga tips-tips selama ber-akuaponik. Video sengaja dibuat per-episode supaya bagi Sahabat Wana Wana yang baru mulai akuaponik pun bisa belajar dari dasar. 

Meskipun ada channel Youtube untuk belajar, pengalaman dalam ber-akuaponik tetap akan kita bagikan di blog ini. Berikut saya cantumkan video dari episode pertama sampai ke-4.

1. Untuk episode pertama membahas hal dasar yaitu apa itu akuaponik, syarat apa yang harus dipenuhi ketika akan membuat akuaponik dan penjelasan alat dan bahan apa saja yang biasa digunakan dalam akuaponik. Dengan mengetahui hal itu kita bisa memutuskan untuk langkah berikutnya dengan mencari lokasi yang tepat untuk membangun akuaponik di pekarangan kita.

Wana Wana Akuaponik Keluarga #1



2. Untuk episode yang ke-2 membahas komponen apa saja yang ada dalam akuaponik beserta penjelasan fungsi dari tiap tiap komponen. Dengan mengetahui tiap-tiap komponen dan fungsinya maka kita bisa tahu seberapa penting komponen itu bagi sistem akuaponik dan saat membangun akuaponik , maka kita bisa tahu bagaimana membangun sistem yang baik.




  

3. Episode ke-3 membahas tentang model/desain dasar akuaponik. Dengan mengetahui model atau desain dasar, kita bisa mengembangkan akuaponik yang akan kita bangun sesuai kondisi lahan yang ada di tempat kita. Semua bisa dilakukan jika kita mengetahui skema dasarnya.

Wana Wana Akuaponik Keluarga #3




4. Pada episode yang ke-4 membahas tentang pemipaan. Hal ini penting sekali karena akuaponik sangat berkaitan erat dengan pendistribusian air dari kolam sampai kembali ke kolam lagi setelah melewati beberapa tahapan. Banyak masalah terjadi jika kita asal menentukan ukuran pipa dll. Di episode ini, juga membahas pemipaan di masing masing komponen seperti SLO di kolam, Swirl dan  RFF untuk pengendapan. Dengan kita mengetahui teknik-teknik tersebut maka kita bisa memaksimalkan fungsi dari tiap-tiap komponen sehingga sistem bekerja dengan baik. Tentu dengan sistem yang baik tentu akan akan dihasilkan kualitas hidup ikan dan sayuran yang baik pula. 




Semua yang kita sampaikan adalah buah dari pengalaman ber-akuaponik selama ini. Selama berakuaponik pun kita tetap mengandalkan kotoran ikan sebagai sumber nutrisi utama tanpa ada penambahan lain dan itulah yang Wana Wana selalu pertahankan. 

Episode berikutnya kita akan masuk ke tahap penanaman, tentu kita berpedoman pada apa yang telah kita lakukan selama ini.

Semoga video Wana Wana bermanfaat terutama untuk kebutuhan hidup keluarga. Jangan lupa subscibe, like dan komen jika ada yang ingin ditanyakan, atau share jika ingin ikut berbagi dengan yang lain.

Salam Akuaponik Keluarga

Wana Wana

Friday, 12 June 2020

Update - Mini Akuaponik (Waktunya Panen Kangkung)

Hari ini 12 Juni 2020, sudah 26 hari Mini Akuaponik berjalan. Ada beberapa hal akan kita informasikan dari perkembangan akuaponik mini.

Ikan
Untuk kondisi ikan sampai saat ini sangat baik, bahkan makannya begitu lahap. Ikan sudah terlihat mulai lebih besar, setiap pelet yang kita berikan selalu habis. Hanya sayang kita tidak kepikiran untuk ambil sample. Kematian hanya terjadi di awal saja, saat ini hampir tidak ada.


Pengendapan 
Menggunakan ember cat besar pada dasarnya bisa berfungsi dengan baik karena ada banyak kotoran yang bisa mengendap. Yang menjadi masalah adalah jumlah ikan yang terlalu banyak, sehingga dengan wadah sekecil itu menampung kotoran ikan lele yang jumlahnya lebih dari 150 ekor sepertinya kwalahan, padahal lele terus bertumbuh besar. Akibat dari banyaknya kotoran, kotoran pun masuk ke bio kemudian ke wadah tanam dan ada yang kembali lagi ke kolam. Jika bukan lele tentu bisa tumbang ikannya. 




Jadi untuk wadah pengendapan bisa diperbesar wadahnya.

Biofilter
Kondisi biofilter begitu kotor karena banyak kotoran yang tak mengendap dai bak endapan, selain wadah kecil ditambah jumlah ikan sangat banyak.




Tanaman
Dan yang ditunggu tunggu tentu lebih ke tanaman he...
Sejak pembenihan sampai hari ke 26 ini, tanaman sama sekali tidak ada masalah, semua daun terlihat normal. Hanya sayangnya, biji yang kita masukkan terlalu banyak sehingga kangkung tumbuh saling berhimpitan dan bonggol tidak bisa membesar. Mungkin jika jumlah biji kita batasi tiap pot isi 5 saja, tentu hasilnya akan berbeda. Karena kangkung sudah bisa dipanen, kita akan coba lagi dengan mengatur jumlah biji tanaman pada penanaman berikutnya.


Tampak dari sisi Utara


Tampak dari sisi selatan

Kita tunggu Update selanjutnya dari Mini Akuaponik.


Kita sekarang juga memaksimalkan channel You tube Wana Wana dengan kontens khusus akuaponik, kita juga mulai berbagi tips-tips dari pengalaman kita selama ini.

Bisa SUBSCRIBE channel kami bila ingin terus mengikuti Akuaponik dari Wana Wana.




Salam Akuaponik Rumahan

Wana Wana

Wednesday, 27 May 2020

Mini Akuaponik

Berawal dari adanya virus corona yang membuat banyak orang harus tetap di rumah, maka Wana Wana mencoba membuat mini akuaponik dengan menggunakan bahan yang kebetulan sudah ada. Kenapa mini akuaponik, karena sebagian besar masyarakat memiliki lahan yang terbatas, bahan yang dibutuhkan tidak mahal dan membutuhkan listrik yang tidak terlalu besar. Adanya akuaponik mini ini semoga menjadi aktivitas baru yang sedikit bisa membantu memenuhi kebutuhan sayur dan lauk. Siapa yang tahu dimulai dari mini akuaponik akhirnya berkembang menjadi yang lebih besar lagi.

Untuk mini akuaponik ini bahan utama yang digunakan antara lain :
1. Gentong/drum plastik dengan volume sekitar 150 - 200 liter, harga Rp200.000 - Rp300.000.
2. 2 Ember cat 25 kg untuk filter (mekanik dan biologis), harga @ Rp20.000,-
3. Media filter (brush, bahan bekas potongan pipa, potongan botol bekas minuman fermentasi). 
4. Pompa air debit 500 l/h, daya 5 watt, harga < Rp100.000.
5. Pvc 3/4" dan 1 " dan penunjang seperti tee (T), siku sesuai desain. 
6. Growbed pipa 5" bekas dan pot ukuran 8 harga @ Rp450,- dengan media pasir malang.
7. Ikan lele 200 ekor, harga Rp200/ekor (masih kecil).
8. Benih kangkung.

Kurang lebih seperti ini desainnya.



Ember pengendapan (bekas) kebetulan sudah dilubang dari bawah jadi air dari kolam dialirkan lewat bawah. Supaya aliran dari kolam (input pengendapan) tidak menyembur ke atas, input ditutup menggunakan T ukuran 2,5", yang kebetulan ada bekas, untuk membelokkan arah aliran ke kanan dan ke kiri. Adanya pipa T 2,5" membuat aliran terpecah menjadi dua arah sehingga tidak terlalu kencang dan kotoran lumayan bisa mengendap.
Jadi semua hanya dari bahan yang kebetulan sudah ada, ember dan gentong biru di bawah filter digunakan sebagai penyangga.



Penampakan lengkap



Pengendapan



Biofilter



Tanaman.

Untuk tanaman bisa diperbanyak dengan menambah wadah, karena jika hanya 1 wadah seperti di foto, aliran air masih terlalu deras, jadi masih bisa dibagi untuk wadah tanam lain, selain itu jumlah ikan juga banyak.

Sistem sudah berjalan 10 hari, dibuat tanggal 17 Mei 2020. Ikan masih kondisi sehat, kematian terjadi saat awal karena dari bibit sudah banyak yang luka. O iya karena bibit terlalu kecil jadi kolam diberi suplai oksigen tambahan dengan aerator. 

*Perkembangan akan kita update nanti.


O iya Wana Wana membuat episode khusus membahas akuaponik di chanel Youtube, untuk episode pertama kita membahas :
1. Apa itu akuaponik,
2. Syarat membuat akuaponik,
3. Alat & bahan yang sering digunakan dalam akuaponik.

Bila berkenan, silahkan dikunjungi, jika ingin mendapatkan update bisa subscribe, kita akan buat bertahap mulai dari dasar, sehingga bisa lebih bermanfaat.






Salam Akuaponik

Wana Wana