Kita tidak pernah menyangka 14 tahun terlewati, hingga saat ini, menuju tahun ke-15, tetap setia mengembangkan dan menikmati sistem akuaponik. Kegagalan-kegagalan yang telah kita dapatkan, menjadi sebuah cerita lucu dan kadang konyol, jika diingat-ingat kembali. Bahkan, ketika membuka dan membaca tulisan lama di blog ini, ada rasa malu-malu lucu 😄. Tapi, dari situlah kita menikmati proses belajar dan dari hasilnya, kita bisa berbagi pengalaman, yang mungkin bisa bermanfaat.
Sangat beruntung mengenal akuaponik, saat kita masih sebagai sebuah keluarga baru. Kita bisa memanfaatkan waktu, tenaga, pikiran dan biaya dengan baik untuk mencoba dan terus mencoba. Kehadiran akuaponik di pekarangan kita, memberikan banyak sekali manfaat. Konsumsi sayuran organik dan ikan segar, lingkungan yang sejuk, aneka binatang kecil yang ikut "menumpang" dan berkembang biak, bertambahnya teman dari berbagai daerah yang datang untuk berbagi pengalaman tentang akuaponik dan menjual hasil olahan akuaponik, adalah kebahagiaan yang kita dapat dalam berakuaponik.
Seiring waktu, pengalaman-pengalaman yang kita dapatkan tentu bertambah, percobaan dan pengamatan masih kita lakukan, tapi, kita tidak lagi menggebu seperti dulu. Dari pengalaman itulah, kita mulai fokus pada sistem yang lebih hemat biaya, mudah perawatan, yang membuat ikan dan sayuran tumbuh sehat dan menghasilkan panenan yang stabil, dan pada bagaimana kita mengelola hasil panenan. Dari situlah, kita coba merangkum pengalaman-pengalaman itu, bagimana kita memilih dan merawat sistem akuaponik sebagai sebuah ekositem, sesuai yang kita harapkan.
Tentang Ikan
Akuaponik bukan hanya tentang sayuran, yang mungkin, kita akan lebih merasa puas dan "sombong", ketika kita sudah bisa menumbuhkan aneka sayur dalam sistem akuaponik yang kita bangun. Terkadang kita lupa, bahwa dalam dunia akuaponik, tidak hanya tentang sayuran saja, tetapi juga ada ikan sebagai penopang kehidupan sayuran.
Ada beberapa jenis ikan yang coba kita pelihara dalam sistem akuaponik, dari jenis ukuran kecil seperti cethul, wader, bader, komet, dll., sampai yang ukuran lebih besar seperti nila, grasscarp, lele, koi, gurame, patin, tombro, tawes, dll. Memelihara berbagai jenis ikan, ada manfaatnya juga untuk kita, yaitu mendapatkan banyak pengetahuan tentang ikan. Kita bisa tahu seperti jenis pakan, cara berkembang biak, sifat kanibalisme, katahanan diri, rasa daging, susunan duri dalam daging, dll. Dari pengetahuan itulah, paling tidak, kita bisa memilih, memanfaatkan dan mengupayakan yang terbaik.
Ketahanan diri, salah satu karakter ikan, yang perlu kita kenal, karena sangat penting, khususnya dalam akuaponik. Beberapa jenis ikan dapat hidup dalam lingkungan yang kotor dan minim oksigen, dan sebaliknya, beberapa jenis ikan, tidak mampu hidup dalam lingkungan tersebut. Jika kita memilih untuk membudidayakan jenis ikan yang lebih tahan di lingkungan minim oksigen (ketahanan tinggi), maka kita tidak terlalu kawatir terhadap perubahan pada sistem yang terjadi sewaktu-waktu, seperti terjadi pemadaman listrik beberapa jam, pompa mati, debit pompa mengalami penurunan akibat penyumbatan tanpa kita ketahui, dll. Sebaliknya, jika kita memilih untuk memelihara jenis ikan yang tidak tahan dalam lingkungan minim oksigen (ketahan rendah), maka kita harus mengupayakan lebih, supaya sistem tetap selalu bersih, meskipun sewaktu-waktu terjadi perubahan pada sistem, yang dapat menurunkan kualitas air. Karena karakternya, jenis ikan tertentu, kita butuhkan sebagai indikator dan "penjaga" dalam sistem akuaponik. Ikan tersebut, meski bukan sebagai ikan utama yang kita budidayakan, tapi kehadirannya kita butuhkan.
Ikan cethul, jenis ikan yang ukurannya sangat kecil, lebih banyak ada di permukaan, memiliki sifat ketahanan tinggi. Pakan alami ikan tersebut adalah cacing, larva serangga atau makluk kecil lain di dalam air seperti kutu air dan jentik nyamuk. karakter ini dapat kita manfaatkan untuk menjaga sistem akuaponik. Karena ketahanannya dan apa yang dimakan, ikan cethul dapat kita tempatkan di bagian pengendapan yang tinggi amoniak, filter biologis dan growbed seperti pada sistem dft, sehingga area-area tersebut, dapat terbebas dari serangga dan hawan kecil lain, yang kehadirannya mungkin merugikan.
Ikan nila, yang memiliki karakter ketahanan rendah, justru dapat digunakan sebagai indikator kebersihan kolam dan penanda akan adanya sesuatu yang tidak beres pada sistem. Dalam satu sistem akuaponik, meski yang kita budidayakan adalah ikan lele, akan tetapi, kita akan menempatkan ikan nila di dalamnya, sekitar 1 sampai 4 ekor. Jika ikan nila sering berada di kedalaman, bukan di permukaan untuk menghirup oksigen, maka pertanda sistem dalam kondisi baik. Sebaliknya, jika ikan nila lebih sering berada di permukaan untuk menghirup oksigen, pertanda, bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sistem. Perilaku dari ikan nila tersebut dapat membantu kita, sehingga kita bisa segera melakukan pengecekan, seperti di bagian bak pengendapan yang mulai penuh, debit pompa yang menurun akibat pompa yang sudah kotor, jalur pipa yang kotor, atau ada sesuatu hal lain yang mengganggu sistem sehingga kualitas air menurun.
Tentang Sayuran
Menanam dalam sistem akuaponik maupun konvensional, sebenarnya lebih banyak persamaannya, seperti kebutuhan cahaya, nutrisi, dll., yang semua tergantung dari jenis tanaman itu sendiri. Yang membedakan menanam sayuran dalam sistem akuaponik dengan sistem konvensional adalah, pada sistem akuaponik, tanaman jenis apapun, perakarannya "dipaksa" untuk lebih banyak bersentuhan dengan air atau hidup yang habitatnya di air. Sedangkan konvensional, jenis sayuran apapun, perakarannya "dipaksa" untuk hidup di tanah atau yang habitatnya di darat. Jenis tanaman apapun, ketika "dipaksa" hidup di habitat darat, kemungkinan besar lebih mudah untuk bertahan atau berkembang, akan tetapi jika, "dipaksa" untuk hidup di habitat air, akan jauh lebih sulit untuk berkembang dan cenderung akan mati secara perlahan.
Tidak semua tanaman bisa hidup dengan perakaran yang terus menerus terendam air. Selama ini, dalam berakuaponik, kita mencoba berbagai macam jenis sayuran, baik sayuran daun maupun sayuran buah. Dari sekian banyaknya kegagalan dan keberhasilan, ada hal mendasar yang akhirnya harus dipahami, ketika akan menanam sayuran-sayuran tersebut. Kita perlu mengenal dan memahami karakter tanaman yang akan kita tanam, salah satu diantaranya adalah, apakah jenis tanaman air, yang perakarannya dapat terus menerus terendam air, atau jenis tanaman darat, yang perakarannya tidak bisa terus menerus terendam di dalam air.
Bisa membedakan tanaman, apakah jenis tanaman air atau bukan itu sangat penting. Jika termasuk jenis tanaman air, maka sistem tanam apapun yang kita gunakan, kemungkinan besar akan berhasil, tanaman bisa tumbuh dengan baik, jika didukung nutrisi, cahaya yang cukup. Sebaliknya, jika bukan jenis tanaman air, meski nutrisi dan cahaya cukup, kita juga harus memilih sistem tanam yang cocok. Jika kita memaksakan, semua tanaman yang kita tanam dalam sistem akuaponik dianggap jenis tanaman air, maka kita harus mengupayakan, agar oksigen terlarut di dalam air tersebut, tinggi, karena disitulah letak permasalahannya.
Tentang Sistem Tanam
14 tahun bukanlah waktu yang sebentar, selama proses itu, berbagai sistem tanam kita coba, mulai dari pasang surut dengan bell siphon dan siphon apung, pasang surut menggunakan media dan tanpa media, rakit apung, Nutrient Film Technique (NFT) , Deep Flow Technique (DFT), aliran atas, vertikal, dan beberapa sistem tanam modifikasi. Dari berbagai sistem itu, kita mendapatkan hasil yang berbeda-beda, ada yang gagal dan ada yang berhasil. Keberhasilan dan kegagalan itu bukan semata-mata karena pilihan sistemnya, tetapi juga banyak faktor yang mempengaruhi, baik dari nutrisi, cahaya, oksigen terlarut, media tanam, pemilihan jenis tanaman dll..
Setiap sistem memiliki kelebihan dan kekurangan, dan semua bisa kita terapkan. Pasang surut dengan siphon, adalah sistem yang sangat baik, semua jenis tanaman bisa diterapkan dengan sistem tanam ini, akan tetapi, kita harus rajin melakukan pengecekan. Jika ikan yang kita budidayakan banyak, tanpa adanya filter yang baik, kemungkinan besar, bell siphon akan sering bermasalah, bahkan growbed bisa menjadi "gudang" kotoran ikan. Sistem NFT dan vertikal, bagus untuk sayuran daun karena perakaran hanya bersentuhan dengan sedikit air, hanya saja, jika tempat kita sering terjadi pemadaman listrik, ditambah berada di daerah dataran rendah yang panas, maka itu akan menjadi masalah. Rakit apung, bagus untuk sayuran daun, hanya kita membutuhkan perangkat tambahan di luar pompa utama, yaitu aerator atau pompa tambahan, untuk menambah kandungan oksigen terlarut, dan itu akan membutuhkan lebih banyak daya listrik.
Akhirnya dari semua sistem tanam, semua kembali ke selera kita. Dari sekian sistem tanam yang telah kita coba selama bertahun-tahun, akhirnya kita bisa memilih, mana yang paling cocok untuk kita terapkan secara berkelanjutan. Ada 2 sistem tanam yang akhirnya kita pertahankan, yaitu aliran atas dan Deep Flow Technique (DFT). Aliran atas, kita khususkan untuk tanaman sayuran buah dan tanaman berumur panjang, seperti mint, kemangi. Sistem tanam DFT, kita khususkan untuk sayuran daun seperti sawi, selada, kangkung dan bayam brazil.
Sistem aliran atas, kita pilih untuk menanam jenis tanaman sayuran buah. Selain sederhana, sistem ini mudah untuk dibuat, tidak membutuhkan perawatan yang ekstra, dan sayuran yang dihasilkan cukup memuaskan. Pada sistem tanam ini, jika suatu saat aliran air yang menuju ke sistem tanam ini terhenti beberapa jam atau hari (1-2 hari), tanaman tetap bisa bertahan. Karena bagian bawah/dasar dari sistem ini, masih menyisakan genangan air sekitar 10 cm. Genagan air tersebut yang akan menjaga media tanam tetap dalam kondisi basah. Keadaan ini, membuat perakaran tetap tidak akan kekurangan air untuk beberapa saat.
Sistem Deep Flow Technique (DFT), kita pilih untuk menanam jenis sayuran daun. Sistem ini, sangat cocok untuk semua jenis sayuran daun, dan penempatannya-pun tidak memakan banyak ruang. Sistem dapat diletakkan secara bertingkat maupun sejajar horisontal, di samping atau di atas kolam budidaya. Jika aliran air ke sistem sewaktu-waktu terhenti pada sistem ini, masih ada genangan air, sehingga tanaman tetap bisa bertahan. Jika menggunakan sistem ini, perlu diperhatikan ukuran pipa, ketika tanaman tumbuh subur dengan perakaran yang banyak, maka akan menimbulkan penyumbatan.
Tentang Media Tanam
Ada banyak jenis media tanam yang dapat digunakan dalam berakuaponik. Ada yang sengaja dibuat khusus untuk media tanam hidroponik/akuaponik seperti rockwool, hidroton dan ada yang bisa kita dapatkan di sekitar kita seperti kerikil, pasir, arang kayu, batu split, pecahan genting, dll.
Media tanam yang didesain khusus seperti hidroton dan rockwool, tentu memiliki kelebihan, diantaranya memiliki bobot yang ringan, mudah menyerap air. Bagi yang memiliki dana lebih, maka 2 media tersebut bisa menjadi pilihan. Tapi, media yang ada di sekitar kita pun tidak kalah bagusnya, seperti kerikil, pasir, pecahan genting, dll. Jika pilihan kita, menggunakan media yang ada di sekitar kita, maka kita perlu memilih atau mengupayakan agar media tersebut memiliki bobot yang tidak terlalu berat, ukuran tidak terlalu besar (kurang dari 1cm x 1 cm x 1cm), dan mampu menyerap air dengan baik.
Seiring waktu, dari banyak media yang kita coba, akhirnya bisa memilih media tanam yang tetap kita gunakan. Kerikil dan pasir malang adalah dua media tanam yang kita pilih. Ada beberapa alasan mengapa mempertahankan menggunakan media tersebut, yaitu karena murah, bisa digunakan secara terus menerus atau tidak sekali pakai langsung dibuang, mampu meyerap air dengan baik, bobotnya yang tidak terlalu berat dan yang pasti tanaman bisa tumbuh dengan baik.
Tentang Air
Kemarau yang panjang, sering menghadapkan kita pada situasi untuk memilih, antara terus menanam atau berhenti, demi ketersediaan sumber daya air yang lebih penting seperti memasak, minum dan kebersihan diri. Tapi, setelah mengenal akuaponik, situasi tersebut mulai berbeda. Dalam sistem akuaponik, air sebagian kecil diserap dan selebihnya akan terus berputar. Air yang digunakan untuk budidaya ikan, dialirakan dan digunakan untuk budidaya sayuran, dan dari budidaya sayuran, air akan akan dikembalikan dan digunakan kembali untuk budidaya ikan. Proses perputaran ini akan terus menerus, kita tidak perlu melakukan pengurasan, karena air dari tanaman yang kembali ke kolam akan kembali jernih seperti mata air.
Di musim kemarau, kita tidak lagi kawatir untuk tetap budidaya sayuran dan ikan, karena sistem akuaponik sangat hemat air. Tapi, kita harus tetap menjaga, supaya ketersediaan air tanah tetap terjaga. Menanam pepohonan di pekarangan kita, membuat sumur resapan dan mengalirkan air hujan ke dalam tanah di pekarangan kita, bukan mengalirkan ke sungai adalah langkah yang terbaik.
Penutup
Dan pada akhirnya... sistem akuaponik yang telah dan akan kita bangun, semua merujuk dan berdasar dari pengalaman yang telah kita dapat selama ini. Tulisan di blog ini, dan video yang sudah kita bagikan lewat channel youtube Wana Wana, adalah rangkaian cerita dari sebuah perjalanan panjang. Tenaga, pikiran, waktu dan biaya yang kita keluarkan, tentu tidak sia-sia. Sekarang keluarga kita, tetap harus menikmati, meneruskan dan bertumbuh bersama sistem akuaponik sebagai sebuah ekosistem di pekarangan kita.
Terima kasih, selamat berakuaponik dan jangan lelah untuk terus menghutankan pekarangan kita.
Salam hijau dari pekarangan rumah.
Wana Wana Akuaponik









No comments:
Post a Comment