Sunday, 9 May 2021

Akuaponik Mini #2

Salam jumpa lagi dengan Wana Wana, kali ini kita akan berbagi tentang pembuatan akuaponik mini. Akuaponik mini kali ini dibuat lebih lengkap daripada akuaponik mini sebelumnya, karena disertai rak untuk menempatkan tanaman di atas kolam dan filter, sehingga sistem menjadi lebih ringkas dan tidak memakan banyak tempat.


Akuaponik Mini

Akuaponik mini ini, merupakan salahsatu dari beberapa program di sebuah dusun/RT di Bantul Yogyakarta. Program ini adalah program pengabdian masyarakat dari STIKES Panti Rapih Yogyakarta yang menyasar ke keluarga yang memiliki balita. Tujuan dengan adanya percontohan akuaponik ini, diharapkan keluarga yang memiliki balita tersebut mampu menyediakan ikan dan sayuran dari pekarangan rumahnya sendiri, karena kita tahu betapa ikan dan sayuran memiliki manfaat besar untuk tubuh kita.

Nah dari program ini, kebetulan Wana Wana diajak untuk ikut terlibat membantu, karena terkait dangan salahsatu programnya yaitu akuaponik. Ada sebuah tantangan baru dalam pembuatan akuaponik mini ini, karena kita harus membuat sebuah akuaponik yang bisa diterima, dengan biaya yang murah dan tidak memakan banyak ruang atau tempat. Satu hal yang menarik juga adalah pembuatan rak, yang kami belum pernah membuat sebelumnya. Program ini pun bagi Wana Wana sangat berguna untuk menambah pengalaman dalam ber-akuaponik.

Dengan berbekal pengalaman kita selama ini, akhirnya kita mencoba mendesain dan membuat akuaponik mini dari keterbatasan tersebut. Secara keseluruhan, pembuatan akuaponik mini ini memakan biaya kurang lebih Rp800.000,- bisa kurang bisa lebih tergantung bahan yang kita gunakan, karena merk bahan yang kita gunakan adalah merk bahan yang lumayan bagus, seperti untuk pemipaan. Kebetulan juga ada banyak bahan tak terpakai yang masih sangat bagus di Wana Wana, sehingga bisa kita manfaatkan.

Bahan dan Pembuatan.

A. Rak Tanaman 

Untuk pembuatan rak tanaman, kita menggunakan pipa ukuran 3/4", secara otomatis penghubung pipa akan menggunakan ukuran sesuai pipa tersebut.



Untuk bahan bahan yang digunakan dalam pembuatan rak antara lain,

1. Pipa panjang 75 cm, jumlah  9 buah. Berfungsi untuk ketinggian rak.

2. Pipa panjang 50 cm, jumlah 8 buah. Berfungsi untuk panjang rak. 

3. Pipa panjang 25 cm, jumlah 12 buah. Berfungsi untuk lebar rak.

4. Pipa panjang 6 cm, jumlah 12 buah, penghubung atar knee/siku dan T.

5. siku/knee jumlah 8 buah, untuk posisi di gambar berwarna biru. 

6. T/Tee jumlah 22 buah, untuk posisi di gambar berwarna merah.

Total panjang pipa 3/4" yang dibutuhkan 14,47 meter, jadi kita bisa membutuhkan 4 lonjor, jika tiap lonjor panjang 4 meter.


Rak tanaman dengan pipa 3/4"

Semua bahan tinggal dirangkai sesuai gambar, boleh dilem, boleh tidak. Jika pipa menggunakan bahan bagus tentu sudah presisi dan kuat meski tanpa dilem.


B. Kolam dan Filter.


Untuk kolam dan filter kita menggunakan 3 buah ember, dan untuk penghubung antar ember kita menggunakan pipa ukuran 1,5". Pipa 1,5" yang kita gunakan sudah cukup untuk pengairan dari kolam sampai ke bak filter, dengan kemampuan pompa 600L/H. 

Untuk rincian bahan yang digunakan antara lain,

1. Ember 70 liter, jumlah 1 buah (warna merah), berfungsi untuk kolam ikan.

2. Ember 60 liter, jumlah 2 buah (warna hitam), berfungsi untuk filter mekanis/pengendapan dan biofilter.

3. Pipa 1,5 inc, 1 buah, berfungsi sebagai penghubung/aliran air antar ember.

4. Pasangan sockdrat dalam dan sockdrat luar 1,5 inc, jumlah 4 buah (pasang). Bisa diganti/menggunakan uniseal 4 buah ukuran 1,5 inc. 

5. Karet untuk sockdrat 8 buah supaya tidak bocor, biasa terjual terpisah. Jika kurang tebal bisa ditambah dengan karet ban dalam (motor), dibentuk bulat seperti karet sockdrat. Jika menggunakan uniseal, maka karet dan ban dalam tersebut tidak diperlukan.

6. Siku/knee ukuran 1,5" jumlah 7 buah.

7. Pompa akuarium AT102 (Atman) (600 L/H, 8 Watt) jumlah 1. Berfungsi untuk mengalirkan air dari biofilter ke tanaman.

8. Pipa Aquarium 1 buah.

9. Siku (pipa aquarium) 3 buah.

10. T/Tee (pipa akuarium) 1 buah.

11. Brush, jumlah 4 buah, berfungsi sebagai media tempat bakteri di biofilter.

 

Kolam ikan

Aliran air dari kolam (tempat memelihara ikan) yang membawa kotoran ikan dan sisa pakan akan mengalir menuju bak pengendapan. Di dalam kolam, kotoran yang sifatnya berat, cenderung akan mengendap di dasar kolam, supaya dapat terbawa ke bak pengendapan/filter mekanis maka perlu menggunakan teknik pemipaan Solids Lifting Outlet (SLO). Pada teknik ini, ujung bagian bawah pipa diletakkan di dasar kolam, sehingga kotoran yang mengendap di dasar kolam yang berada di dekatnya bisa tersedot bersama aliran air untuk dialirkan ke bak berikutnya.

Untuk itu, kita perlu membuat lubang di bagian samping posisi agak dekat dengan ujung atas ember. Untuk lebih jelas bisa lihat dambar di bawah ini. 


Kolam ikan


Dalam kolam ini, kita membutuhkan pasangan sockdrat (luar & dalam), T/Tee, pipa dari T ke dasar kolam, dan pipa penghubung sockdrat dan T.




Filter Mekanik/Pengendapan


Air dan kotoran dari kolam yang masuk ke filter mekanik akan dipisahkan. Cara pemisahan dilakukan dengan cara pengendapan. Supaya kotoran bisa mengendap, salah satu cara diantaranya dilakukan dengan teknik RFF (Radial Flow Filter). Teknik ini membelokkan aliran air dari kolam yang masuk ke bak pengendapan menuju ke atas/permukaan dengan mengunakan siku. Supaya air dan kotoran yang masuk ke bak pengendapan tidak menyebar dan bisa masuk ke bak berikutnya, maka pipa aliran diberi pembatas/dinding dengan menggunakan wadah/pipa yang lebih besar di sekeliling. Ujung atas dari pembatas harus lebih tinggi dari ketinggian air (lihat gambar). Dengan cara ini, air dan kotoran akan membentur penghalang, sehingga air bisa mengalir ke bawah dan kotoran bisa mengendap. Lubang keluar dari bak/filter mekanik dihadapkan ke atas tepat di bawah permukaan air, supaya hanya air bersih di bagian atas yang masuk ke bak berikutnya.


Untuk ember pengendapan ini kita harus membuat 2 lubang di samping ember, untuk aliran air masuk dari kolam dan keluar menuju ke biofilter. Posisi lubang bisa saling bersebrangan dan posisi lubang bisa di tengah, seperti gambar di atas atau di bawah. Untuk bahan yang dibutuhkan di filter mekanis ini adalah, pasangan sockdrat 2 buah, siku 2 buah, pembelok dari pipa 3", pipa penghubung sockdrat dan siku, pipa naik. Untuk lebih jelas lagi bisa dilihat gambar di bawah ini.







Biofilter

Air dari bak pengendapan bagian atas selanjutkan akan dialirkan ke biofilter. Biofilter diisi dengan banyak media. Fungsi dari media tersebut untuk tempat bakteri menempel (rumah bakteri). Peran bakteri di bak biofilter ini untuk menyerap amoniak dan mengubahknya menjadi nitri - nitrat. Nitrat merupakan hasil akhir yang nantinya akan diserap oleh tanaman, karena senyawa ini sangat dibutuhkan oleh tanaman. Nitrat pada jumlah tertentu akan meracuni ikan, sehingga adanya tanaman khususnya sayuran yang menyerapnya, maka membuat air yang kembali ke kolam akan kembali bersih.

Di dalam biofilter terdapat pompa yang berfungsi untuk mengalirkan air menuju ke wadah tanam. Supaya biofilter dapat bekerja dengan maksimal, maka aliran air yang masuk dan keluar harus diatur. Jika pompa diletakkan di dasar bak biofilter, maka aliran air yang masuk ke biofilter harus dibelokkan ke atas menuju ke permukaan. Karena pompa menyedot air di bagian bawah/dassar bak, maka air akan mengalir dari bak bagian atas menuju ke dasar bak, saat mengalir ke bawah inilah, aliran air dan amoniak akan melewati media yang ditempati banyak bakteri, sehingga amoniak dapat diserap oleh bakteri untuk dihasilkan menjadi nitrit-nitrat.



Lubang aliran dari filter mekanis ke biofilter bisa diposisikan di tengah. Untuk bahan yang digunakan di biofilter ini adalah pasangan sockdrat, pompa, siku, pipa penghubung siku/sockdrat dan pipa ke atas, brush dan pipa akuarium. Untuk lebih jelasnya bisa lihat gambar di bawah ini.


Biofilter


Masing masing ember (kolam, filter mekanis,biofilter) saling dihubungkan. Untuk lebih jelas bisa lihat gambar di bawah ini. Untuk pipa penghubung kolam dan pengendapan ada di sebelah ujung sana, dan untuk penghubung pengendapan dan biofilter terlihat jelas di ujung sini 😊
 




C. Wadah Tanam

Untuk bagian tanam menanam, kali ini kita menggunakan teknik DFT. Kita menggunakan teknik ini karena untuk sayuran kangkung, selada bisa bagus. Nah jika ingin dikembangkan tentu bisa dengan menambah growbed atau teknik tanam lain. 

Untuk penanaman, bahan yang kita gunakan antara lain,

1. Pipa 3", jumlah 1 buah. Berfungsi untuk menampung akar, mengalirkan air sekaligus penopang pot di atasnya.

2. Dop 3", jumlah  2 Buah. untuk menutup salah satu ujung pipa 3".

3. Oversock 3 " x 1 ", jumlah 2 buah. Berfungsi supaya ada genangan di pipa kurang lebih 1/2 bagian dari pipa.

4. Pot ukuran 8, jumlah 20 buah. Bagian samping pot diberi lubang untuk perakaran.

5. Pasir malang, secukupnya, berfungsi sebagai media tanam.

6. Biji kangkung secukupnya.

7. Siku 1", jumlah 2 buah, untuk aliran pembuangan menuju ke kolam.

8. T/Tee 1", jumlah 1 buah, untuk aliran pembuangan ke kolam.

9. Pipa 1 " , panjang sekitas 50 cm, sebagai penghubung oversock, siku 1" dan T". 

 


Dalam pembuatan, pipa 3 " kita potong menjadi 2 bagian yang sama. Tapi sebelumnya kita potong/ambil ujung pipa yang biasa untuk sambungan (diameter lebih besar), potongan tersebut kita gunakan untuk perisai/penghalang di bak pengendapan (lihat gambar di bak pengendapan). 

Setelah pipa terpotong menjadi 2 yang sama panjang, maka bisa kita lubang di bagian atas dengan menggunakan halsaw, seuaikan dengan ukuran pot, pastikan pot bisa masuk sampai menyisakan bagian atas. Untuk jarak lubang tanam adalah 15 cm. Jika sudah ujung ujung pipa kita tutup dengan dop dan oversock. Setelah itu bisa kita pasang sesuai pada gambar di atas. Demikian juga untuk aliran dari pipa 3" ke kolam bisa dilihat sesuai gambar. 

Jangan lupa tutup kolam diberi lubang. 1 lubang besar untuk pipa 1" yang posisinya di pinggir, jangan sampai tepat masuk di SLO. Lubang kecil kecil juga perlu dibuat supaya ada banyak oksigen dan sinar matahari masuk. Karena ikan yang digunakan adalah lele, maka tutup tersebut harus selalu dipasang supaya ikan tidak loncat keluar karena adanya suara gemericik air.

Di salah satu ujung pipa 3" yang di pasang dop/tutup pipa, perlu dibuat lubang untuk pipa aliran dari biofilter. Untuk diameter lubang bisa menyesuaikan diameter pipa. Untuk penampakan gambar, kurang lebih seperti gambat di bawah ini.



Jika semua sudah terpasang, isi air disemua bak sampai penih dan jalankan sistem.

Untuk penanaman kangkung, pasir malang disaring terlebih dahulu untuk memisahkan ukuran pasir yang besar dan kecil, untuk ukuran besar diletakkan di bagian bawah, bagian atas yang ukuran lebih kecil. Sebelum dimasukkan ke pot, pasir dibasahi terlebih dahulu, pasir dimasukkan sampai 3/4 bagian, setelah itu masukkan 10 biji kangkung merata dan tutup kembali dengan pasir malang. Untuk ikan bisa diisi 30 ekor, jangan terlalu kecil, rawan mati. 


pemasangan rak.


Pemasangan sistem dan penjelasan ke peserta.




Usia 1 minggu setelah pasng sistem.



Usia 2 minggu setelah pasang sistem.


Setelah dua minggu, terlihat kangkung sudah mulai besar dan tampak hijau. Dan itu membuat kita senang dan bahagia.. He...

Nah.. Meski akuaponik itu sistem yang bekerja otomatis, tapi kita perlu melakukan perwatan. Hal hal yang perlu kita lakukan dalam perawatan sistem akuaponik adalah:

1. Beri pakan secukupnya, jangan terlalu banyak (2 x sehari pagi dan sore)
2. Bersikan pipa akuarium jika terlihat kotor, berkala 1 minggu sekali lebih baik.
3. Bersihkan pompa berkala, bisa 1 minggu sekali.
4. Jika biofilter terlihat sangat kotor, jika ada endapan cukup sedot menggunakan selang dan jika brush sangat kotor, bisa dicuci dengan cara disemprot dangan selang.

5. Jika tanaman sudah dipanen, media pasir malang bisa dicuci dan bersihkan dari akar, setelah itu gunakan kembali. 
6. Jika di pipa tanaman (3") terlihat banyak endapan, sebelum dilakukan penanam kembali, endapan bisa disedot. 
7. Air pada sistem jangan dikuras atau diganti, jika ikan dipanen, cukup serok saja biarkan air tetap di sistem. 
8. Jika air berkurang karena penguapan atau diserap tanaman bisa ditambahkan.

Kiranya demikian sharing dari kami, mohon maaf jika masih banyak kekurangan. Jika ada pertanyaan bisa ditanyakan, di blog ini atau ke channel Youtube Wana Wana.
Semoga yang kami sharingkan bermanfaat.

Salam akuaponik keluarga 
Wana Wana 




 


Friday, 12 February 2021

Pembibitan Dengan Endapan Kotoran Ikan

Kali ini saya coba sharing pembibitan dengan kotoran ikan. Sebelumnya atau dulu pernah saya tulis juga, hanya kali ini ada sedikit perbedaan. Jika yang sebelumnya endapan langsung diambil dan disaring, setelah agak mengental kemudian bisa tanami. Ada sedikit efek jika endapan langsung ditanami, terutama jika kita tidak bisa membedakan mana endapan yang benar-benar sudah 'matang' atau aman dan endapan yang belum 'matang' atau mau bau menyengat. Jika masih berbau dan kita coba tanami, ada kemungkinan biji yang kita masukkan akan membusuk dan hal itu pernah saya alami.






Belajar dari pengalaman itulah, saya mencoba cara lain namun masih tetap menggunakan endapan kotoran ikan. Percobaan pertama berhasil, dengan hampir semua biji bisa tumbuh dengan baik, jika ada beberapa yang tidak tumbuh, itu akibat biji yang kemasannya sudah terbuka lama karena pemakaian yang hanya sedikit-sedikit. Percobaan pertama, tanaman sudah siap dipanen. Percobaan ke-dua juga berjalan baik dengan biji hampir semua tumbuh baik dan akan segera pindah tanam.

Cara yang saya gunakan kali ini adalah dengan minta bantuan cacing. Kotoran yang diambil dari bak endapan disaring menggunakan kain supaya air bisa keluar dan endapan tetap tertinggal. jika endapan sudah mengental, bisa dipindah ke sebuah wadah, dalam hal ini saya menggunakan pipa pvc bekas ukuran 5" yang dibelah menjadi 2. Penempatan wadah sebaiknya di tempat yang teduh dan tidak terkena banyak sinar, serta bebas dari guyuran air hujan.







Setelah itu masukkan cacing ke dalam wadah, saya menggunakan cacing yang sejak dulu dipelihara di growbed akuaponik, jadi tinggal ambil dan pindahkan. Jika endapan terlalu basah, cacing cenderung tidak mau, jadi pada satu sisi bisa ditambahkan tanah yang tidak terlalu basah untuk sementara, karena beberapa hari kemudian cacing akan bergerak menuju ke endapan kotoran.
Selama proses, tidak perlu diberi makan, karena cacing bisa makan dari endapan kotoran. Untuk mengetahui proses sudah selesai kita bisa cek dengan ciri, tanah sama sekali sudah tidak berbau, permukaan sudah banyak sekali 'pelet' kotoran cacing, dan warna endapan sudah kehitaman sangat mirip dengan tanah, jika diambil sangat terasa lembut. O iya, lama proses tergantung dari jumlah cacing, jika semakin banyak tentu akan semakin cepat.




Hasil dari proses oleh cacing itulah dapat kita gunakan untuk pembibitan. Untuk yang saya lakukan, dari wadah yang memanjang, akan saya ambil setengah bagian, dan setengah bagian berikutnya dibiarkan untuk 'rumah' cacing. Setengah bagian yang kosong bisa kita isi lagi dengan endapan baru dan seiring waktu, cacing dari endapan lama yang tidak diambil akan bergerak menuju ke endapan baru. Nah proses berikutnya endapan lama kita ambil dan kita isi yang baru, begitu seterusnya.

Dalam pembibitan saya menggunakan talang bekas yang saya potong, endapan yang sudah terproses tadi dimasukkan. Jika endapan agak kering bisa ditambah air dan diolah biar tidak terlalu kering. Endapan dibuat supaya permukaan rata, setelah itu dibuat garis-garis membentuk kotak-kotak untuk penempatan biji supaya teratur. Setiap kotak ada 1 biji, untuk ukuran bisa menyesuaikan.





 
Setelah semua kotak diisi biji, biji agak sedikit ditekan biar sedikit masuk. Setelah proses selesai tempatkan biji ditempat teduh dan ditutup supaya tidak kering dan bisa tumbuh. Jika tanah terlihat mengering sedikit diberi air. Jika biji masih bagus dan baru, 1 hari bisa mulai berkecambah, jika tidak, butuh 2 hari lebih baru bisa berkecambah. Setelah berkecambah, bisa tempatkan di tempat yang mendapatkan sinar matahari terutama pagi, dan jaga supaya jangan kering, tapi dari pengalaman, tidak akan kering karena lapisan tidak terlalu tipis.

Nah demikian pengalaman saya dalam pembibitan dengan menggunakan endapan kotoran ikan, semoga bermanfaat. Untuk video di channel Youtube Wana Wana juga sudah kita posting, jika ingin melihat.




Salam Akuaponik Keluarga 

Wana Wana