Wednesday, 8 January 2014

Akuaponik Ikan Koi

Selama ini, kami mengandalkan air kolam koi untuk menyiram tanaman, dan hasilnya memang luar biasa, menurut kami. Tidak hanya itu, tanaman sirih belanda yang akarnya masuk ke filter kolam koi, tumbuh dengan sangat subur, daunnya sangat besar dan lebar. Untuk lebih mengoptimalkan manfaat air kolam koi, kami membangun akuaponik lagi, dan kami beri nama "Akuaponik Ikan Koi". Mengapa akuaponik ikan koi, ya... karena sumbangan kotoran ikan terbesar berasal dari ikan-ikan koi.  Meskipun jumlah ikan koi hanya 9, tapi karena masing-masing beratnya sudah hampir 1 kg, tentu menghasilkan kotoran yang lumayan banyak. Rencana, akuaponik ikan koi akan kami tanami terong, cabai paprika, dan tomat sebagai tanaman utama. Memang kami belum tahu pasti apakah akan berhasil, tapi kami harus mencoba. 

Berkat air kolam koi, sirih belanda tumbuh tak terkendali.

Karena akan kami tanami tanaman yang memiliki perakaran panjang/dalam, maka media tempat pananaman yang kami pakai memiliki ukuran yang lebih tinggi dari Akuaponik Edisi ke-2. Untuk media tanam, kami menggunakan ember bekas cat dengan tinggi sekitar 40 cm. Lokasi yang pilih sengaja lokasi yang banyak mendapatkan sinar matahari supaya pertumbuhannya dapat maksimal. 

Proses Pengerjaan
Jujur, proses pengerjaan akuaponik ikan koi jauh lebih rumit, karena kami ingin membangun tanpa mengorbankan apa yang sudah kami bangun dengan jerih payah kami sendiri. Kami ingin "pancuran" tetap berfungsi dengan baik, dan itu yang menjadi masalah utama. Lokasi pancuran yang tinggi sempat membuat kami pesimis, karena media tanam tentu harus lebih tinggi dari pancuran dan kami kawatir pompa tidak dapat berfungsi dengan baik. Selain itu, karena akuaponik harus lebih tinggi dari pancuran, tentu membutuhkan bahan yang lebih, terutama untuk penopang media tanam. Beruntung kami masih memiliki kayu bekas pendopo yang sudah tidak terpakai. 
Setelah media tanam, bell siphon dan bahan-bahan lain telah siap, ujicoba pertama kami lakukan, pada tanggal 29 Desember 2013. Air dari kolam, masuk ke filter, dari bak filter terakhir, air dialirkan menuju media akuaponik. Air yang tersaring dari akuaponik, dialirkan menuju bak penampungan sementara, dan dialirkan menuju ke pancuran. Ujicoba pertama hanya menggunakan 1 media tanam, air kolam yang dialirkan ke akuaponik menggunakan pipa ukuran 3/4". Dari akuaponik menuju bak penampungan menggunakan pipa ukuran 1" dan hasilnya..... GAGAL. Sebenarnya kegagalan itu bisa diakali dengan memperbesar pipa dari bak penampungan ke pancuran, tapi bahan yang digunakan tidak ada di pasaran.


Masih dalam proses.

Fungsi dari bak penampungan sendiri, sebenarnya untuk pengendapan, sehingga kolam koi selalu terlihat bening, karena fungsi utama kolam koi adalah untuk keindahan dari bentuk, warna dan "tarian" koi.

Berpikir dan berpikir lagi untuk merubah strategi supaya akuaponik bisa berhasil. Tanggal 5 Januari 2014, kami lakukan ujicoba lagi, kali ini tanpa menggunakan bak penampungan. Pikiran kami berubah, selama ini,  tanpa akuaponik air kolam sudah melewati filter biologi, dan air yang dihasilkan sudah bening, jadi air dari akuaponik langsung dialirkan ke pancuran.
Air dari filter kolam, kami alirkan ke akuaponik dengan pipa ukuran 3/4". Untuk aliran ke pancuran, dari akuaponik, menggunakan pralon ukuran 2,5". Dan untuk ujicoba kali ini, BERHASIL, air mengalir lancar.

Tempat media tanam terbuat dari plastik dan setiap hari terkena paparan sinar matahari, pasti tidak akan awet. Untuk menjaga keawetan tempat media tanam, kami membungkus dengan bagor bekas. Dan untuk proses pembungkusan, istri yang melakukan, maklum hasil yang saya lakukan tidak rapi (no 1, paling kiri), berbeda dengan hasil bungkusan istri (no 3 dan 4), lebih rapi dan enak dipandang mata heee...


Tempat media tanam dibungkus bagor bekas.

Desain perisai berbeda dengan Akuaponik Edisi ke-2.

Pipa 1" yang masuk ke pipa 2,5".
Penanaman...
Setelah beberapa hari ujicoba dan tidak ada masalah, maka langkah selanjutnya adalah penanaman.

8 Januari 2014 

kami mulai melakukan penanaman terong medan dan paprika. Kebetulan kami sudah mempersiapkan benih jadi tinggal kami pindah ke akuaponik.


Terong medan, sebenarnya masih terlalu kecil.


Paprika

9 Januari 2014

Kami juga melakukan penanaman terong ungu, dan buncis. Benih kami semai langsung di akuaponik dengan menggunakan kapas, tapi sayang tidak kami foto, baterai kamera pas habis he...

13 Januari 2014

Setiap pagi rasa penasaran selalu hadir, apakah biji yang kami semai langsung pada tanggal 9 Januari 2014 sudah mulai tumbuh. Sayang... sudah 4 hari tak ada tanda-tanda kehidupan yang muncul di sela-sela bebatuan akuaponik. Akhirnya, kami tak pedulikan lagi, karena mungkin sudah tidak mau tumbuh. Pada hari ini, kami mencoba memasukkan biji tomat chery yang kami panen dari akuaponik edisi ke-2. Harapan kami, biji tomat akan tumbuh, karena kebutuhan tomat di keluarga kami termasuk tinggi, selain dikonsumsi, istri memakainya untuk masker he...

21 Januari 2014

Melihat apa yang terjadi pada Akuaponik Ikan Nila (Akuaponik Edisi Ke-2), kerikil di salah satu media tanam kami ganti dengan yang lebih besar (krakal). Kami belum tahu apakah ada perbedaan, nanti setelah besar baru akan terlihat.

Terong medan, cabe paprika dan loncang

Sekian dulu ya...ikuti terus perkembangannya... Jangan lupa ikuti juga perkembangan Akuaponik Ikan Nila (Akuaponik Edisi Ke-2)

29 Januari 2014

Perkembangan tanaman sampai hari ini..




Bak 1, sudah mulai ceria..


Bak 2, cabe paprika semakin besar..


Bak 3, Paling besar .


Bak 4, masih meragukan..

6 Februari 2014

Pertumbuhan tanaman sepertinya menunjukkan perkembangan yang baik, untuk cabe paprika di bak 2 dan bak 3 sudah menunjukkan tanda-tanda akan berbunga. Memang ada sedikit masalah untuk akuaponik ikan koi, kebetulan posisinya persis di bawah ujung atap jemuran, sehingga ketika hujan tanaman terkena air, tapi kemarin (5 Februari 2014) sudah bisa diatasi. "Monggo" yang ingin melihat foto-foto perkembangannya.


Bak 1. Sudah lebih baik dibandingkan 2 minggu yang lalu.



Bak 2. Semakin tinggi dan subur.



Bak 3. Bunga akan segera  muncul.



Bak 4. Mungkin karena umur terong medan yang lama,
maka perkembangannya lambat.


13 Februari 2014

Bak 1. Semakin tinggi terutama tomat cherynya.

Bak 2. Semakin rimbun, ada tambahan tomat chery.

Bak 3. Cabe tidak sendiri lagi, ada buncis dan tomat chery.

Bak 4. Semoga semakin subur terong....


Foto bersama dulu... he...

17 Februari 2014

Tanggal 13 Februari 2014 terjadi letusan Gunung kelud, dan ternyata abu dari G. Kelud sampai di tempat kami. Pukul 05.00 pagi saat kami bangun, terlihat dari jendela, tanaman kami penuh dengan abu, sontak kami langsung lari keluar dan ternyata, pekarangan belakang kami sudah penuh dengan abu. 


Dampak letusan Gunung Kelud


Kolam ikan koi termasuk yang menjadi korban, air sudah keruh berwarna kecoklatan. Rasa panik akan keselamatan ikan luar biasa, waktu itu kami mengira ikan-ikan kami sudah mati, tapi setelah kami cek mereka masih hidup dan berada di dasar kolam. 
Terpaksa kolam kami kuras 100 %, dan mungkin tanaman akuaponik ikan koi akan terkena imbasnya karena sistem harus dimulai dari nol. Semoga tanaman masih mendapatkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh subur, terutama tanaman paprika yang sudah mulai berbunga.

21 Februari 2014

Senang rasanya melihat tanaman di akuaponik tumbuh subur. Hari ini kami bagikan perkembangan khusunya tanaman.

Bak 1. Tanaman tomat sudah mulai berbunga.


Bak 2.  Paprika dan tomat sudah berbunga, untuk paprika masih
tanda tanya apakah akan berbuah... harus optimis.


Bak 3. Tertinggi diantara yang lain, semoga buncispun
bisa berbuah.


Bak 4. Terong medan mulai menunjukkan "taringnya".

26 Februari 2014

Jangan bosan melihat perkembangan tanaman akuaponik ikan koi ya... Sudah 1 minggu sejak update sebelumnya, meskipun kolam direstart ulang tapi rupanya pertumbuhan tanaman masih bagus.


Bak 1. Pertumbuhan tomat chery begitu cepat,
dan sekarang mulai berbunga.


Bak 2. Untuk saat ini bak 2 yang paling rimbun, bunga cabe
paprika sudah mekar.


Bak 3. Tomat sudah tidak kuat berdiri tegak, cabe paprika
tumbuh paling tinggi.


Bak 4. Sabar menanti wujud terong medan.


Foto bersama.


5 Maret 2014

Melihat perkembangan tanaman akuaponik rasanya semakin menyenangkan, karena tanaman tumbuh dengan pesat dan sepertinya subur. Akan tetapi, untuk tanaman paprika ada sesuatu yang tidak beres, bunga yang telah mekar, sekitar 2 hari  kemudian tangkainya menguning dan gugur, harapan yang tertunda he....


Terlihat subur.


Dan sekarang lagi mencari permasalahan dan cara mengatasinya, dengan banyak bertanya kepada para pakar tanaman, atau mungkin ada yang bersedia memberi masukan pada kami.


8 Maret 2014

Berusaha mencari informasi, dan itu yang sedang kami lakukan. Ada seorang teman yang memberi informasi mengenai masalah pada tanaman paprika, kemungkinan unsur K yang kurang atau kondisi air kolam yang terlalu asam. Beliau mengatakan kondisi yang baik jika berada tidak jauh dari PH 7 (netral). 
2 hari yang lalu saya mencoba memasukkan puluhan daun ketapang, karena menurut informasi, daun tersebut mampu menurunkan kadar keasaman air. Sehari kemudian tepatnya 7 Maret 2014, air kolam berubah menjadi kecoklatan akibat efek daun ketapang. Masih penasaran dengan PH nya, kemarin sore 7 Maret, kami membeli alat untuk tes PH. Setelah kami tes sesuai petunjuk PH, warna lebih cenderung ke level PH 8.


Bagaimana menurut Anda, apakah PH = 8 ?

Kami masih menunggu apakah ada efeknya. Bagaimanapun ini adalah pengalaman baru bagi kami, tidak ada salahnya kami mencoba karena sebuah pengalaman adalah berharga.

Untuk perkembangan tanaman, buah tomat chery sudah mulai menunjukkan diri, semoga semakin banyak dan besar sehingga kami dapat menikmati hasilnya he...

Semakin terasa menyenangkan.

11 Maret 2014

Setiap pagi saat matahari terbit, mata selalu ingin melihat sesuatu yang berbeda di tanaman akuaponik, perubahan yang lebih baik adalah harapannya. Untuk cabe paprika selalu berbunga namun akhirnya gugur, kenyataan yang tidak diratapi dalam kekecewaan, namun tetap disyukuri dan selalu berusaha mencari solusi. Dan foto untuk hari ini.....


Bak 1. Terong Medan mulai berbunga.

Bak 1. Buah tomat chery yang mulai membesar.

Bak 2. Mulai berbuah juga.

Bak 3. Buahku baru 1 he...

Bak 4. Terong medan juga mulai berbunga.


Foto Bersama.
14 Maret 2014

Tidak sabar ingin berbagi kegembiraan, karena paprika yang dinantikan akhirnya bisa berbuah. Mungkin kerontokan yang terjadi selama ini karena proses penyerbukan yang kurang berhasil. Kami memang mencoba menggoyang-goyangkan pohon paprika dan sempat juga saya "semprot" udara bertekanan dengan menggunakan alat yang biasa digunakan untuk "menyemprot" air ke tanaman, tujuannya supaya terjadi penyerbukan. Mungkinkah karena hal tersebut...?, semoga. Kita akan coba lagi untuk paprika yang lain.


Bak 2. Masih kecil, tapi bagi kami  adalah sebuah hadiah.

Bak 2. Buah paling besar di pohon yang sama.

Bak 2. Pohon yang sama, buah yang berbeda lagi.


18 Maret 2014

Kami update perkembangan tanaman ya... Tapi tidak semua, kami fokuskan pada paprika.


Bak 2. Paprika yang paling besar.

Bak 2. Satunya lagi....

Bak 2. Satunya lagi he...

Bak 4. Terong medan yang mulai mekar.

Bak 1. Tomat chery semakin membesar.


19 Maret 2014

Kemaren hujan deras, akibatnya salah satu tanaman paprika di bak 3 patah, kecewa juga rasanya, tapi semua sudah terjadi. Dari pengalaman itulah sekarang kami pasang kayu untuk penyangga. Dibalik sebuah kejadian pasti ada hikmah yang bisa kita petik. 


Paprika yang patah.


Akhirnya kami pasang penyangga.




24 Maret 2014

Akuaponik ikan koi ada mainan baru yaitu media tempat penanaman dengan menggunakan pralon, sebenarnya akan kami gunakan untuk kolam torn/tangki air yang tidak terpakai, tapi karena kami masih konsentrasi membuat gubuk akuaponik "Wana Wana", akhirnya daripada nganggur akhirnya kami tambahkan pada akuaponik ikan koi.
Untuk paprika pada bak 2 sudah semakin besar dan menggoda, dan untuk pohon yang satunya lagi (bak 2), juga sudah mulai berbuah meskipun masih kecil, senang rasanya he... Keadaan yang berbeda untuk terong medan, sampai saat ini hanya berbunga, buah belum nampak satupun. Kita doakan semoga lekas berbuah he...


Bak 2. Pohon yang lain juga berbuah.

Mainan baru untuk akuaponik ikan koi.

Bak 2. Sudah besar, ingin rasanya segera memetik he...


3 April 2014

Akhirnya.... Tomat chery sudah bisa dipetik/dipanen, itu artinya... bahwa tomat chery bisa ditanam dalam akuaponik semakin jelas terbukti.


Bak 1. Giliran Istri tercinta mengolahnya....

Tapi sayang, di lain sisi ada berita kurang baik, daun tomat chery terserang jamur, daun seperti terbakar. Tapi kami anggap itu adalah sebuah proses, karena kita semakin tahu beragam panyakit, tentu saja kita juga berusaha mengatasi. 


Daun tomat chery terserang jamur.

kepada koi, wader, sapau-sapu dan koki makasih ya... sebagai bonus kalian kami foto ya... hehe...


Merekapun menikmati segarnya air kolam...

Untuk paprika.., masih terus berkembang semakin besar, dan karena baru pertama kali menanam, kami tidak tahu kapan kami bisa memanen... he...

Mulai menjadi pesaing paprika di pohon yang lain..


Uang Lima Ratus perak hanya sebagai pembanding...


8 April 2014

Hari ini kami kehilangan ikan koki kami tercinta Si Gentong.. Si Gentong adalah salah satu penghuni ikan kolam koi yang paling lama. Sejak kami menyelesaikan pembuatan kolam pada pertengahan tahun 2011, Si Gentong-lah yang justru paling kuat, mulai dari ujicoba kolam, serangan kutu air, Si Gentong bisa bertahan, sedangkan lebih dari 10 koi tidak bisa bertahan..
Selamat Jalan Gentong, terimakasih telah membuat hari-hari kami benar-benar terhibur oleh tingkah lucumumu......

Gentong.. Setiap oarang yang melihatmu langsung jatuh cinta he...



10 April 2014

Kemarin siang saat libur kerja karena adanya pemilu, istri berniat memasak, setelah mencari dan mencari di kebun, tidak ketemu juga yang dicari...ternyata sayuran sudah habis. Terlalu fokus dalam membuat "Gubuk" Akuaponik, sampai kami lupa bahwa persediaan sayuran di kebun sudah habis. Akhirnya istri meminta untuk memetik satu buah cabe paprika, untuk disayur oseng-oseng, dicampur dengan "janggle", jagung yang masih sangat muda. 
Kami sebernarnya tidak tahu kapan boleh dipetik, tapi setelah disayur.. hmm enak juga... krenyes.. krenyes.. rasanya seperti makan sayur di acara resepsi pernikahan... he..he..he...


Paprika perdana dioseng-oseng...


17 April 2014

Setelah begitu lama menanti.. akhirnya paprika menunjukkan perubahan warna sebagai pertanda bahwa dia sudah mulai menua. Melihat perubahannya terasa begitu spesial, karena baru pertama kali ini menyaksikan. Setiap hari kami selalu mencoba mengamati perubahan warnanya, mulai dari hijau muda, hijau tua, hijau kemerahan, hingga muncul warna merah yang cantik. Kami juga baru tahu, bahwa paprika yang kami tanam adalah paprika merah, karena waktu itu, kami membeli juga yang warna kuning he....


Pohon berbeda, kami belum tau akan berubah jadi warna apa..?

Bagaimana.. cantik bukan.. he....

Tapi dibalik keberhasilan ini, kami khawatir dengan hama yang mulai merajalela. Musim hujan memang penuh hama, tapi tak apalah, pada saatnya nanti kami harus memiliki ramuan khusus, tapi organik, untuk mengurangi hama. Yang terpenting saat ini adalah pembuktian, bahwa paprika bisa ditanam di akuaponik. 

Untuk tomat chery tidak lagi kami update, karena memang sudah ok... dan sudah terbukti cocok di akuaponik. Berbeda dengan terong medan, sampai saat ini belum berbuah juga, tanda-tanda kegagalan untuk kali ini.


21 April 2014


Hari minggu 20 April 2014, ada perayaan di keluaga, kamipun membuat pizza, tapi sayang istri hanya membeli 1 paprika, yah.. dengan berat hati kami harus memetik 1 paprika ujicoba di akuaponik ikan koi, tapi tak apalah, demi keluarga harus nomor satu he....



Mereka berdua mulai memerah dan harus berpisah...

Cantik juga meski belum 100% merah...


Penampakan dalam, sama dengan paprika bisanya..


Tinggal santap deh..., istri emang TOP BGT...


4 Mei 2014

Akhirnya 2 Mei 2014, 3 paprika yang tersisa kami petik semua, 2 paprika sudah tua, satu lagi perkembangannya kurang maksimal.

Mereka dari pohon berbeda,
tapi masih dalam satu ember (media tanam)

Ukuran lebih besar, dalam 1 pohon hanya ada 2 buah.

Ukuran lebih kecil, dalam 1 pohon ada 4 buah.

Memang paprika bisa tumbuh dengan baik, bahkan bisa berbuah, dan itu adalah sebuah keberhasilan bagi kami dalam melakukan ujicoba perdana. Akan tetapi, seiring perkembangan, satu persatu tanaman banyak terserang hama/penyakit, baik tomat maupun paprika, meskipun mereka masih tetap tumbuh dan berbuah.
Setiap hari kami selalu mengamati mulai dari tanaman hingga media tanam, seiring dengan semakin buruknya kondisi tanaman, hal tersebut ternyata sebanding dengan banyaknya lumut yang muncul dipermukaan media tanam. Kehadiran lumut memang sangat tidak diharapkan, karena kehadirannya lebih banyak merugikan.

Kehadiran lumut yang merugikan.


Akibat kehadiran lumut, air tidak bisa mengalir lancar, selain itu, nutrisi yang seharusnya untuk tanaman utama menjadi berkurang karena terserap oleh lumut. Akibat kurangnya pasokan nutrisi, tanaman menjadi lebih mudah terserang penyakit, mungkin kondisinya sama dengan kita saat kekurangan gizi, maka kita akan mudah terserang berbagai penyakit. Tentu pengalaman ini sangat berguna, terutama untuk melakukan perbaikan guna mencegah kehadiran lumut pada media tanam.

Dari cara kami mengalirkan air ke media tanam, ternyata ada kekurangannya, terutama untuk media tanam yang tidak terlalu luas, dan kekurangan itu antara lain,
1. Permukaan akan selalu basah, sehingga membuat lumut dapat tumbuh, akibatnya permukaan dipenuhi lumut, air tidak bisa mengalir dengan lancar, dan nutrisi berkurang terserap lumut.
2. Permukaan selalu basah/lembab sehingga menjadi tempat bersarangnya bakteri dan jamur, dan akibatnya tanamanpun menjadi sasaran.
3. Akar merusaha mencari sumber air, karena cara kami mengalirkan langsung di atas permukaan media, sehingga akar banyak berkembang di permukaan, akibatnya aliran air terhambat dan terjadi banyak genangan di permukaan.


Untuk penanaman selanjutnya, kami tidak akan mengalirkan air begitu saja, ada sedikit modifikasi dengan memasukkan pipa lebih ke dalam, sehingga permukaan tetap kering. Semoga modifikasi ini akan membawa perubahan yang lebih baik.


Supaya lebih bermanfaat, data akan kami lengkapi.
1. Luas kolam (P x L x T) = 1,9 x 1,3 x 0,6 m3 =  1, 482 m3  (beton)
2. Luas filter (P x L x T) = 1,7 x 0,45 x 0,6 m3 =  0, 459 m3  (Filter vegetasi dari beton )
3. Ukuran pompa = 3400 liter/jam.
4. Media tempat menanam menggunakan ember bekas cat ukuran 25 kg sebanyak 4 buah.
5. Ukuran bell siphon ¾ “ (untuk bagian pasang) 
6. Media tanam batu split
7. Jumlah ikan
            a. Ikan koi = 9 ekor berat  lebih dari 3 kg/ekor
            b. Ikan sapu sapu = 2 ekor berat lebih dari 1 kg/ekor
            c. Ikan koki = 1 ekor

            d. Ikan wader (bintik 2, pari, pedang ) = lebih dari 50 ekor.
8. Ketinggian media tanam sekitar 1 - 1,5 m dari pompa air

Keterangan pada pompa air yang kami gunakan.

Untuk tanaman terong medan, tanaman tumbuh dengan baik tapi tidak bisa berbuah, tentu ada maslah dengan nutrisi tertentu.

Pengalaman kami ini semoga bermanfaat.

Friday, 27 December 2013

Pak Mail dan Sayuran Organiknya

Di saat cuaca cerah pada pagi hari, saya dan istri sering bersepeda. Rute yang kami lalui terkadang berubah-ubah, tapi semua rute melewati area persawahan. Sungguh sesuatu yang memang mengasyikkan bagi kami, selain menyehatkan, suguhan pemandangan yang indah dan menyejukkan benar-benar membuat kami merasa fresh. 
Waktu itu, pemandangan kami tertuju pada sesuatu yang benar-benar berbeda. Sejauh mata memandang tanaman padi cukup mendominasi, tapi, yang satu ini menarik. Lahan memanjang dan tidak terlalu luas dipenuhi atap plastik dangan bentuk yang menyerupai rumah. Kami mencoba mendekat, karena kami penasaran, aktivitas apa yang ada di lahan tersebut. Ternyata, lahan tersebut penuh dengan berbagai macam sayuran, ada slada, cabe, sawi, loncang, buncis. Waktu itu kami mencoba mencari siapa pemilik kebun tersebut, tapi sayang tidak tak seorangpun di tempat tersebut.

Atap yang tersusun rapi dan menarik.

Karena rasa ingin tahu yang besar, beberapa hari kemudian, saya sengaja mendatangi lagi tempat tersebut. Waktu yang tepat, ada seseorang di lahan itu, badannya kecil, memakai topi bulat, kaos lengan panjang, bersepatu bot dan sedang meyiram tanaman dengan memakai gembor. Langsung saya dekati dan saya coba bertanya, siapa pemilik lahan tersebut, tentu dengan nada yang halus he... Dengan wajah yang penuh senyum dan sedikit tertawa kecil, si bapak menjawab bahwa dia pemiliknya. Kamipun berkenalan, tapi, karena suaranya yang samar-samar menyebutkan namanya, saya agak ragu apakah namanya benar-benar Pak Mail he.. Sambil mengikuti ke mana arah Pak Mail menyiram tanamannya, dari mulut saya, banyak pertanyaan yang terlontar dan Pak Mail dengan senyumnya yang khas berusaha menjawab pertanyaan saya ( kayak wartawan aja ya... he...). 

Bagaimana indah bukan ?

Perjuangan Pak Mail...
Pak Mail menanam sayuran organik, banyak pelanggan yang datang secara langsung mengambil hasil panennya. Apa yang telah dilakukannya hingga saat ini berhasil, ternyata tidak mudah. Dulu, sebelum menggarap lahannya, Pak Mail bekerja di sebuah perusahaan, tapi akhirnya memilih keluar dan menggarap lahan yang diwariskan oleh kedua orang tuanya, luas lahan Pak Mail sekitar 800 m2. Yang membuat saya terkesima adalah keteguhannya untuk menanam sayuran organik dan perjuangannya dalam menawarkan hasil panennya. Tidak mudah meyakinkan kepada orang atau perusahan bahwa sayuran yang dihasilkannya benar-benar organik. Selain itu, harga sayuran organik lebih mahal dari sayuran non-organik, membuat usaha untuk menjual hasil panennya semakin terasa berat. Pak Mail bergerilnya dari toko-toko penjual sayuran hingga restoran-restoran ternama untuk menawarkan hasil panennya, sesuatu yang saya sendiri belum mampu melakukannya.
Ya... kesuksesan Pak Mail dan lahan organiknya membuat Pak mail sering diundang menjadi pembicara dalam acara-acara yang bertemakan pertanian organik. Tidak hanya itu, lahan yang indah yang dikelolanya sering dikunjungi oleh orang yang ingin sekedar melihat atau belajar seperti saya he... Keterbukaan dan keiklasan untuk berbagi dari diri Pak Mail membuat saya dan mungkin orang lain terasa betah berlama-lama di lahan Pak mail.

Tanam dan panen secara bergilir.

Pak Mail mengolah lahannya...
Dalam melakukan perawatan khususnya penyiraman, Pak mail tidak mengandalkan air selokan yang ada disamping lahannya, karena Pak Mail menyadari, air selokan tersebut sudah tercemar oleh bahan bahan kimia yang digunakan oleh petani lain seperti pupuk dan pestisida untuk pembasmi hama. Pak Mail membuat sumur sendiri di lahannya, sehingga air untuk penyiraman benar-benar bebas bahan-bahan kimia. Selain itu, karena lahannya bersebelahan dengan lahan milik orang lain, maka di setiap sisi lahannya dibuat tanggul dan selokan untuk mengalirkan air resapan dari lahan tetangga yang tercemar.
Dalam pemupukan, Pak Mail mengandalkan pupuk kandang, dan pupuk cair buatan sendiri. Untuk pupuk kandang, Pak Mail sudah memiliki langganan dari seseorang yang yang memproduksi kompos dari ternak sapi yang dikelola secara kelompok. Dan sekarang pun saya juga ikut-ikutan jadi pelanggan kompos di tempat tersebut
Dalam mengatasi hama, Pak Mail mengandalkan ramuan alami yang dibuat sendiri, saya juga pernah diberitahu tapi lupa, karena memang banyak bahan yang digunakan terutama dedaunan dan saya waktu itu belum begitu banyak mengenal.
Untuk setiap bedeng, Pak Mail tidak menanam dengan tanaman yang sama secara terus menerus karena menurutnya itu tidak baik. Jika saat ini bedeng A ditanamani sawi, maka setelah panen, tanaman selanjutnya akan berbeda, bisa loncang atau yang lain. Saya pernah membaca sebuah berita. Di suatu daerah yang banyak menanam tanaman sejenis pada lahan yang sama, akhirnya lama kelamaan selain produksi semakin menurun, banyak ditemui hama dan penyakit. Ya.. mungkin itu alasan Pak Mail.

Pembibitan yang dilakukan Pak Mail.
Di lain waktu, di sore hari yang cerah, saya sengaja mampir di lahan Pak Mail, jujur, rasanya senang melihat sayuran di lahan Pak Mail. Saat kami sedang berbincang, istri dan anak Pak Mail datang, ternyata.. saat sore hari, istri dan anak Pak Mail sering ikut membantu. Sungguh suasana yang begitu indah di sebuah persawahan. Kami pun saling berbincang ke sana kemari dalam suasana yang begitu menyenangkan, ya... karena kami semua mencintai pertanian, lahan pertanian seolah-olah adalah rumah kedua bagi kami.

Lubang-lubang yang siap ditanami.


Cabai yang tumbuh subur.

Sebuah pengalaman dan pelajaran berharga bagi saya dan keluarga, keberadaan Pak Mail memotivasi keluarga kami dalam menanam sayuran organik di pekarangan rumah. Doakan ya.... semoga kelak kami bisa seperti Pak Mail dan sayuran organiknya... amin....  

Thursday, 19 December 2013

Mari Menanam Sawi

Di keluarga kami, sawi sudah menjadi tanaman yang wajib ada di pekarangan. Sejak awal kami menanam, mulai dari menanam di tanah langsung, di polibag, di pot dan di aquaponik, sawi seolah-olah menjadi tanaman primadona. Berbagai variasi makanan seperti sayur oseng-oseng, sayur bobor, lalapan, campuran bakso, campuran mi godok, dan masih banyak lagi, semuanya menghadirkan sawi di dalamnya. Warnanya yang hijau mengundang nuansa segar dalam masakan.  

Tanaman sawi banyak jenisnya, tapi yang sering menghiasi pasar-pasar atau warung-warung adalah sawi sendok sawi yang pangkalnya besar seperti sendok, sawi bakso sawi yang sering kita jumpai di mangkok saat makan bakso, sawi putih sawi yang warnanya putih, dan masih banyak lagi sebenarnya tapi saya tidak hapal he.....

Dari sekian banyak jenis sawi, sawi bakso dan sawi sendok yang sering kami tanam, kami pernah menanam sawi putih tapi hanya sekali. Cara tanam dari ketiga jenis sawi pada dasarnya sama dan mudah. Lansung ya akan saya bagikan pengalaman saya dalam menanam sawi. Sebagai catatan, penanaman yang akan saya bagikan adalah menanam dengan media pot dan sebenarnya sama untuk polibag.

Persiapan lahan..
Selama ini, tempat atau arena kami menanam kami beri atap berupa plastik anti "UV", sayang harga per meter saya lupa, nota saya cari sudah tidak ada he..., alasan kami yang utama adalah air hujan. Dari pengalaman ketika awal kami mulai menanam, ketika musim hujan, lahan kami hancur karena gerusan air hujan yang begitu deras. Saat musim panas, atap tetap kami pasang karena bisa mengurangi panas yang berlebihan, selain itu juga menjaga tanah agar tidak mengalami penguapan yang berlebihan. Dalam memasang atap, untuk sisi bagian timur dibuat lebih tinggi, dan bagian barat lebih rendah, tujuannya supaya sinar matahari pagi yang masuk bisa mengenai tanaman 100%.

Pot yang kami gunakan.
Untuk media tanam, kami menggunakan campuran pupuk kandang, cocopit, arang sekam padi dengan perbandingan 1:1:1, pot diisi sampai kira-kira menyisakan jarak sekitar 1 cm dari bibir wadah. Pot yang kami gunakan mempunyai ukuran dengan diameter sekitar 20 cm. Selama ini setelah pot diisi media, kami biarkan sambil menunggu persemaian, tapi setiap hari tetap kami siram. Jangan lupa nyari cacing trus dimasukkan he...

Proses penyampuran cocopit, pupuk kandang dan
arang sekam padi. 
Persemaian
Dalam melakukan persemaian, saya kadang menggunakan besek atau wadah yang sudah tidak terpakai dengan media sama dengan yang di pot. Setelah media siap, biji kita sebar merata, kemudian kita tutup dengan ketebalan antara 1-3 cm. Penyiraman setiap hari pagi dan sore dengan menggunakan gembor yang memiliki lubang air lembut supaya persemaian kita tidak rusak. Mungkin lebih baik kalo persemaian terkena sinar mentari pagi.
Terkadang pas lagi males... (kadang-kadang lo he...) biji tidak kami semai ditempat khusus, tapi langsung tanam di pot, tapi... menurut saya hal itu kurang baik, karena terkadang ada biji yang tidak tumbuh, selain itu karena biji sawi yang kecil sehingga untuk mengambil satu biji aja susah...


Persemaian kami.
Penanaman
Setelah 2-3 minggu atau daun sudah berjumlah 3-4 helai, tanaman sudah siap dipindah ke media pot atau yang memiliki akuaponik bisa dipindah ke media tanam. Lebih baik proses penanaman dilakukan pada sore hari sekitar jam 4 - 5, atau matahari sudah mulai tenggelam untuk menghindari layu, dan itu yang selalu kami lakukan. Dalam proses pencabutan tanaman dari persemaian hati-hati ya jangan sampai bagian akarnya putus. Sebelum ditanam lebih baik media di pot disiram dahulu, begitu juga setelah penanaman, untuk akuaponik tentu tidak perlu he...
Sudah siap untuk dipindah ke pot.


Sawi yang baru saja dipindah.

Perawatan
Perawatan untuk tanaman sawi menurut pengalaman kami cukup mudah. Keluarga kami melakukan penyiraman setiap sore, untuk musim hujan kadang dua hari sekali, maklum....matahari jarang "nongol".... Jangan lupa siram pake air kolam kalo ada, air cucian beras atau bahasa kerennya "leri" juga boleh he...
Untuk masalah hama, menanam di pot atau polibag lebih mudah penanganannya. Setiap hari atau ketika menyiram bisa sambil memeriksa tanaman, jika dijumpai hama segera ambil dan matikan, bisa dipencet seperti yang kami lakukan, kalo hamanya ulat, atau belalang ambil trus dikasih ke ikan, ikan pasti senang banget. 

Panen
Setelah umur 1,5 bulan sawi bisa di panen, jangan lebih dari 2 bulan, karena ketika dimasak dan dimakan sudah agak keras. Kami biasa memanen hanya mengandalkan penglihatan, kira-kira sudah besar langsung kita petik. Sawi yang umurnya kurang dari 1,5 bulan biasanya masih "krenyes-krenyes" , lebih enak dan seger. 

Banyak yang bolong dimakan hama.

Siap dipanen

Masih muda

Panen
Nah... sekian dulu ya... selamat menanam....

Thursday, 12 December 2013

Membuat Aquaponik Yuk....

Jujur, dulu tepatnya sekitar awal tahun 2012, saat pertama kali menemukan sistem akuaponik saya benar-benar bingung, maklum, karena sejak saya kecil terbiasa menanam menggunakan media tanah. Waktu itu, mencari informasi dalam bahasa indonesia masih sangat susah, jangankan buku, informasi di internet masih jarang, mungkin karena di Indonesia belum banyak dikenal. Saya mencoba mempelajari dengan lebih banyak mengandalkan foto dan video. 
Nah... untuk pembaca yang masih kurang mengenal akuaponik dan ingin membuatnya, saya akan mencoba memberikan informasi yang saya ambil dari berbagai sumber dan saya kolaborasikan dengan pengalaman saya. 

Akuaponik (Aquaphonic)...
Akuaponik adalah gabungan dari  budidaya ikan atau disebut akuakultur dan budidaya sayuran /tanaman dalam satu kesatuan sistem yang saling menguntungkan. Keberadaan ikan, tanaman dan bakteri merupakan unsur yang sangat penting, karena keberadaan ketiga unsur tersebut melahirkan simbiosis mutualisme yaitu suatu hubungan yang saling menguntungkan. Ikan menyumbang kotoran dan sisa pakan yang di dalamnya mengandung amonia. Bakteri menyaring dan mengubah amonia menjadi nitrat, zat yang berfungsi sebagai pupuk bagi tanaman. Tanaman memasok oksigen yang diperlukan ikan.


Simbiosis mutualisme dalam akuaponik


Karena akuaponik merupakan gabungan budidaya ikan dan budidaya sayuran/tanaman, maka hasil yang kita dapat tentu tidak hanya ikan, tapi juga tanaman khususnya sayuran. 

Hidroponik...
Mungkin untuk menambah wawasan kita, berikut saya bagikan beberapa teknik dalam hidroponik yang saya kutip dari majalah TRUBUS, hal tersebut perlu, karena dalam akuaponik menerapkan teknik-teknik hidroponik.

1. Nutrient Film Technique (NFT), merupakan teknik hidroponik yang menjadikan akar tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal (2-3 mm) dan tersikulasi secara terus menerus sehingga tanaman dapat memperoleh air, nutrisi, dan oksigen yang cukup. 

2. NFT tanpa Greenhouse, merupakan modifikasi metode NFT tanpa penaung atau greenhose. Teknik ini sangat revolusioner mengingat biaya investasi pembuatan greenhouse cukup mahal.

3. Aeroponik atau pengabutan, merupakan metode budidaya tanpa tanah dengan memberikan air dan nutrisi pada tanaman dalam bentuk butiran kecil atau kabut. Pengabutan berasal dari air dari bak penampungan yang disemprotkan menggunakan nozel sehingga nutrisi lebih cepat terserap akar tanaman. Penyemprotan berdasarkan durasi waktu yang diaur menggunakan pengatur waktu. Penyemprotan ke bagian akar tanaman yang sengaja digantung. Air dan nutrisi yang telah disemprot akan masuk menuju bak penampungan untuk disemprotkan kembali.

4. Substrat atau Drip irrigation, merupakan teknik hidroponik yang memberikan air dan nutrisi dalam bentuk tetesan. Tetesan diarahkan tepat pada daerah perakaran tanaman agar tanaman dapat langsung menyerap air dan nutrisi yang diberikan.

5. Floating Hydroponyc System (FHS) atau rakit apung, merupakan teknik hidroponik dengan menanam tanaman pada lubang stirofom yang mengapung di atas permukaan larutan nutrisi dalam suatu bak penampung atau kolam sehingga akar tanaman terapung atau terendam dalam larutan nutrisi.

6. Wick System atau sistem sumbu merupakan teknik sederhana yang menghubungkan nutrisi dan media tanam dengan perantara sumbu. Air dan nutrisi akan sampai ke akar tanaman dengan memanfaatkan prinsip daya kapilaritas air. Cara kerjanya mirip kompor minyak tanah.

Merancang Sistem...

Ada banyak model akuaponik, mulai dari yang sederhana sampai ke tingkat yang lebih kompleks, dan di sini saya akan berbagi untuk sistem yang sederhana, tujuannya supaya kita lebih mudah untuk memahami. Untuk sistem yang akan saya bagikan adalah akuaponik sistem pasang surut. Akuaponik sistem pasang surut adalah sistem dimana air di media tanam akan mengalami pasang surut secara otomatis dengan bantuan alat yang bernama bell siphon yang bisa kita buat sendiri.

Untuk membuat akuaponik pasang surut sederhana menurut saya, membutuhkan beberapa komponen utama antara lain,
1. Kolam ikan.
2. Pompa air.
3. Bak/wadah untuk menanam (grow bed)
4. Media tanam.
5. Bell Siphon.

1. Kolam Ikan
Untuk kolam, kita bisa menggunakan berbagai macam kolam, bisa kolam beton, kolam fiber, kolam terpal, kolam dari box ibc, dll. Mungkin bagi yang sudah memiliki kolam, kita bisa memanfaatkan.

2. Pompa air.
Dalam hal ini, pompa air yang dimaksud, adalah pompa air khusus kolam. Dalam memilih pompa air, kita harus menyesuaikan dengan volume dari kolam ikan, dalam arti pompa yang dipilih harus dapat menguras total air kolam ikan dalam satu jam. Jadi jika volume kolam 1000 liter, minimal pompa yang dipilih adalah pompa yang memiliki debit 1000 liter/jam. Tentu saja kita juga harus mempertimbangkan ketinggian dari media tanam yang akan kita aliri air, jadi perlu dilihat juga saat memilih pompa, berapa ketinggian yang dapat dijangkau oleh pompa tersebut, sehingga sistem dapat bekerja dengan baik.

3. Bak/wadah untuk menanam (grow bed)
Ada banyak wadah yang bisa kita gunakan, tapi yang terpenting, wadah tersebut harus tahan air, tidak mudah pecah dan tidak bocor, karena wadah tersebut nantinya akan di isi media tanam dan selalu digenangi air dari kolam.
Untuk ukuran, sebaiknya memilih wadah jangan terlalu kecil, karena nanti tidak bisa berfungsi maksimal, dan hanya memuat sedikit tanaman, tapi juga jangan terlalu luas, karena jika terlalu luas maka air di dalam kolam bisa habis. Mungkin sebagai gambaran, jika luas kolam P x L = 1 m x 1 m dan tinggi 70 cm, kita bisa menyediakan wadah atau grow bed dengan luas yang sama 1 m x 1 m dan tinggi 30 cm. Nantinya, ketinggian air kolam hanya akan berkurang kira-kira setinggi 15-20 cm, hal tersebut, karena di dalam media tanam ada bagian yang selalu kering yaitu bagian permukaan, sekitar 5 cm, bagian yang mengalami pasang surut yaitu bagian tengah setinggi 15 cm dan bagian yang akan selalu tergenang air yaitu bagian bawah sekitar 5 cm.

4. Media tanam.
Untuk beberapa model akuaponik seperti rakit apung, NFT tidak memerlukan media, akan tetapi untuk pasang surut lebih sering memerlukan media tanam, meskipun bisa tanpa media. Media tanam memiliki beberapa fungsi yaitu, sebagai pijakan akar tanaman sehingga bisa berdiri dengan kuat, sebagai media filter dan sebagai tempat menempel bakteri nitrifikasi, karena bakteri tersebut bersifat nonmotil yaitu menempel pada suatu permukaan benda.
Untuk media tanam sendiri bisa bermacam-macam dan saya pernah mencoba beberapa seperti  batu kerakal, kerikil, arang kayu, pecahan genting, pecahan batu bata dan bisa juga dilakukan kombinasi batu krakal arang kayu dan tanah dengan menerapkan sistem pasang surut dikombinasikan dengan sistem sumbu.

5. Bell siphon
Bell siphon adalah suatu alat yang yang bekerja secara otomatis sehingga air di wadah atau grow bed bisa mengalami pasang surut. Alat tersebut dapat kita buat sendiri dengan mudah. Untuk membuat bell siphon bisa di artikel dengan judul Cara Membuat Bell Siphon

Untuk lebih memperjelas alur dalam akuaponik, saya coba tuangkan dalam gambar di bawah ini.

Skema Akuaponik (Aquaphonic)

Bakteri Baik...
Jika kita memang membuat sistem dari awal, maka setelah sistem jadi, kita perlu menumbuhkan bakteri baik, karena dalam sistem baru belum banyak bakteri baik. Untuk menumbuhkannya kita dapat melakukan dengan bebarapa cara
1. Menambahkan air dari kolam  milik orang lain atau tetangga he..., yang tentunya sistem kolamnya sudah matang.
2. Bisa juga dengan menambahkan dari air sungai, tapi tentu lebih beresiko, kita tentu sudah tahu bagaimana kondisi air sungai di sekitar kita, kecuali, sungai di sekitar kita memang masih jernih tidak banyak terkontaminasi limbah.
3. Sabar menunggu supaya sistem terbentuk sekitar 1 sampai 3 minggu.
4. Di toko ikan hias sebenarnya juga banyak dijual penumbuh bakteri baik, kita tinggal memasukkan dalam sistem sesuai takaran yang dianjurkan.

Untuk yang sudah memiliki kolam dan ingin membuat akuaponik tentu sudah tidak perlu menumbuhkan bakteri baik, karena kolam yang sudah matang biasanya banyak bakteri baik yang tinggal di bak filter seperti yang saya miliki he...

Cahaya...
Dalam menanam, cahaya sangat diperlukan, karena merupakan salah satu unsur pokok bagi tanaman untuk bisa tumbuh dengan subur. Jadi lebih baik, sebelum membuat akuaponik, pilih lokasi yang mendapatkan banyak sinar matahari, khususnya untuk media tanam. Mungkin bisa kita menerapkan sistem indoor dalam ruangan tertutup, tapi tentunya kita akan membutuhkan lampu khusus tanaman, dan di sisi lain kebutuhan listrik akan jauh lebih banyak.

Penanaman...
Dari pengalaman saya, untuk penanaman seperti, sawi, slada, loncang, sledri, bayam, tomat, kangkung, lebih baik jika tanaman di semai terlebih dahulu pada media tanah, setelah umur bibit sudah siap tanam, barulah kita pindah ke media tanam pada sistem akuaponik. Untuk cara menanam berbagai sayuran, tunggu di tulisan berikutnya.


Tambahan...
Dari pengalaman akuaponik mini yang pertama, di dalam media tanam ternyata banyak cacing entah datang dari mana, untuk itu, carilah cacing dan masukkan ke tempat media tanam, itu juga saya lakukan pada akuaponik adisi ke-2, karena kotoran cacing memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk tanaman.

Menurut saya secara pribadi, setiap daerah atau negara memiliki keunikan masing-masing, mulai dari jenis ikan, tanaman, media tanam, iklim, dll, jadi petunjuk yang ada hanyalah sebagai dasar, dan kita masih bisa mengembangkan dengan cara kita masing-masing.
Ke depan, dunia akan semakin banyak kehilangan lahan untuk bercocok tanam, tentu kehadiran sistem akuaponik bisa menjadi solusi yang tepat.

Jika ada yang salah, mohon masukkannya.....Selamat mencoba, semoga bermanfaat.....

NB: Apa yang saya tulis di atas masih bersifat dasar, ada banyak hal yang belum bisa tersampaikan di sini, tapi seiring waktu, tambahan-tambahan yang juga tak kalah penting saya sampaikan pada postingan yang lain yang terkait dengan akuaponik.
Untuk kelanjutannya, bisa dibaca Membuat Akuaponik Yuk #2.


Ini saya coba bagikan video akuaponik dari kolam koi yang sudah ada dan kemudian saya upgrade menjadi akuaponik, untuk desain dan keterangan lengkap bisa dilihat di Akuaponik Kolam Koi II






    

Terimakasih..


Friday, 6 December 2013

Sayuran Organik Di Pekarangan - Pot

Berubah.. berubah... ya... setelah sekian lama kami menanam sayuran dengan menggunakan polibag, akhirnya kami harus mengakhirinya. Tentu perubahan itu bukan tanpa alasan, dan alasan kami adalah keindahan dan resapan air.
Kami menanam dengan memanfaatkan pekarangan di sekitar rumah, tentu saja keindahan juga penting untuk kami. Setiap hari kami menatap pekarangan kami, dan sepertinya ada yang kurang enak dipandang, terutama polibagnya. Meskipun polibag diatur dengan rapi tetap saja kurang "sreg"... Yang membuat kami kurang "sreg" adalah ujung bagian atas, ketika masih awal mungkin masih rapi dengan bentuk yang masih melingkar, tapi lama-lama sering berjalannya waktu, ujung polibag mulai ga jelas bentuknya... mungkin saya kasih istilah "mleot" he..... 
Kondisi yang masih lumayan rapi
Bukan hanya masalah keindahan menurut kami, tapi waktu itu masalah resapan air yang menjadi kendala. Memang polibag memiliki lubang di bagian bawah, akan tetapi, masalah sering terjadi karena lubang sering tertutup papan penyangga, sehingga membuat tanaman yang kurang suka banyak air tumbuh tidak maksimal, bahkan untuk tanaman tertentu bisa mati. 
Pernah kami mengamati dan membedakan secara langsung tanaman sawi yang kami tanam. Waktu itu sudah waktunya panen, ada yang subur ada yang tidak dan kami berusaha mencari permasalahannya. Setelah mencari dan mencari, kami secara tidak sengaja merasakan perbedaan yaitu berat antara polibag dari sawi yang subur dan yang tidak, lalu kami keluarkan tanah di dalamnya. O..o..o... ternyata sawi yang subur memiliki tanah yang agak basah, sedangkan yang tidak subur tanahnya basah terutama di bagian bawah yang mengandung banyak air. Kami usut lebih jauh lagi kenapa bisa terjadi, dan yang menjadi "biang kerok", ternyata lubang untuk saluran air terhalang oleh papan.
Ya... itu sekilas alasan kenapa kami beralih menggunakan pot. Desain pot tentu lebih baik karena lebih kaku, lubang untuk saluran air lebih besar dan ujung pada bagian bawah terdapat kaki penyangga, sehingga lubang air tidak akan tertutup. 
Dalam cara kami menanam tidak ada perbedaan antara menggunakan pot dan polibag. Penyiraman, komposisi tanah, jarak tanam dan jumlah tanaman dalam satu pot tetap sama. Setelah sekian lama bahkan sampai sekarang menggunakan pot, kami dapat merasakan bahwa masalah yang kami alami ketika menggunakan polibag, semua telah sirna. 


Hijau..
Keindahan yang kami inginkan selama ini tercapai, sekarang dengan menanam menggunakan pot pekarangan kami menjadi lebih indah dan rapi.


Tentu lebih rapi.
Di mata terasa menyegarkan....

Kami juga kagum dengan kesuburannya.
Dari hasil panen, hampir semua tanaman bisa tumbuh subur, tentu juga karena dukungan si pembajak kecil  dan air kolam ikan

Mari.... dari sekarang kita olah setiap jengkal pekarangan kita untuk menjadi lebih bermanfaat bagi keluarga kita.....

Sekian dulu... selamat bertani.....

Wednesday, 4 December 2013

Masalah Seputar Bell Siphon

Ternyata semakin hari semakin banyak yang ingin menanam dengan sistem akuaponik (Aquaphonic). Memang sistem ini menarik, karena menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda, meskipun sebenarnya di alam bebas pun kita bisa banyak menemui, hanya saja kita belum mengenalnya. Dari tulisan saya yang berjudul "Cara membuat Bell Siphon" dan "Update-Cara Membuat Bell Siphon" ternyata banyak yang mencoba untuk mempraktekkannya. Dalam prosesnya, ternyata ada yang menemui permasalahan dan itu adalah sesuatu yang wajar, karena dengan masalah-masalah  itu sistem yang kita miliki bisa semakin lebih baik dan bahkan menjadi lebih sempurna. 
Pada tulisan ini, akhirnya saya berusaha mencoba merangkum permasalahan itu dan mencoba mencari solusinya. Tentu solusi itu saya dapatkan dengan cara melakukan eksperimen, karena dengan cara itulah saya bisa  benar-benar mendapatkan solusi terbaik.
Tapi saya bukanlah seorang ahli, jika memang ada yang menemukan solusi yang lebih baik dan benar tentu akan menjadi sebuah masukan yang sangat baik dan akhirnya sistem yang kita buat akan menjadi benar-benar sempurna, dan bagi pembaca yang tertarik tentu akan sangat-sangat berguna.


1. Apakah Menggunakan selang aerator adalah kebutuhan wajib ? 

Sistem air surut
Menggunakan selang aerator seperti apa yang saya buat adalah bukan kebutuhan wajib artinya kita bisa membuat sistem air surut tanpa menggunakan selang aerator. Kita bisa membuat titik terendah dengan membuat lubang di pralon secara langsung pada  sistem air surut. Sebagai gambaran seandainya kita ingin titik terendah air surut berada di sekitar titik 1, maka kita bisa membuat lubang di titik tersebut, demikian juga jika ingin titik terendah ada di sekitar titik 2, lubang dapat kita buat di sekitar titik tersebut, hal tersebut berlaku untuk titik-titik yang lain. Tapi tentu jangan membuat 2 titik secara langsung, ketika kita ingin titik terendah berada di titik 2, tetapi kita membuat lubang pada titik 2 dan pada titik 1 maka air surut terendah akan terjadi pada titik 1. 

2. Apakah Sistem air pasang bisa menggunakan ukuran yang lebih besar ?


Sistem air pasang

Tentu bisa, tapi ada yang perlu diperhatikan yaitu debit air. Semakin besar sistem pasang yang kita buat tentu harus diimbangi dengan debit air yang akan masuk ke sistem tersebut. Saya sudah mencoba bereksperimen dengan ukuran 1" dan memang bisa tapi degan debit yang lebih besar.
    
3. Air sudah mencapai pasang maksimal, tetapi tidak bisa surut.
Kemungkinan ada beberapa hal yang menyebabkan masalah tersebut, yaitu karena sistem yang mengalami kebocoran terutama pada bagian sistem air surut,  debit air yang terlalu kecil atau sebaliknya debit air yang terlalu besar. Jika kebocoran terjadi maka air yang masuk ke dalam sistem air pasang tidak bisa saling menutup, sehingga bisa digambarkan air sungai yang masuk dan keluar danau melalui sungai yang berbeda, demikian juga untuk debit air yang masuk terlalu kecil. Untuk debit yang terlalu besar yang melebihi debit maksimal dari pralon pada sistem air pasang maka tidak akan terjadi surut, bahkan yang terjadi air akan luber.

4. Apakah bagian perisai harus diberi lubang-lubang sampi ke ujung bagian atas ?
Tentu tidak perlu, hanya dari pengalaman, ketika media tanam sudah berjalan lama maka akan banyak akar tanaman dan endapan kotoran, hal tersebut tentu akan menyebabkan lubang-lubang tertutup dan air yang masuk ke bell siphon bisa terhambat, atau dengan kata lain semakin banyak lubang maka air yang akan keluar melalui bell siphon akan semakin lancar. 

5. Mengapa harus memakai pipa pralon, bukan memakai barang bekas seperti botol sprit, dll ?
Ya... alasan saya memakai pralon, karena masalah keawetan, keindahan dan kelancaran. Untuk hanya sekedar ujicoba dan belajar tentu tidak masalah, akan tetapi apabila sudah kita terapkan tentu berbeda. Kita tentunya tidak ingin banyak masalah terjadi, disisi lain kita berharap apa yang kita buat tentu bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Pada ujicoba saya yang pertama yaitu Akuaponik Mini bahan untuk bagian air pasang hanya menggunakan ujung dari botol sprit yang saya potong dan memang bisa berjalan dengan baik, akan tetapi semakin lama masalahpun semakin sering ditemui.

6. Mengatasi bell siphon karena debit air yang kurang.
Kita sudah terlanjur membuat bell siphon, tenyata setelah dicoba tidak berfungsi karena debit air yang terlalu kecil. Untuk mengatasinya, kita dapat memasukkan selang (panjang cukup 5 cm) ke dalam pralon pada sistem air pasang (lihat gambar di bawah).

Memasukkan selang ke sistem air pasang. 

Kebetulan kasus tersebut pernah saya alami. Air dari kolam saya alirkan menggunakan 1 pompa yang kemudian saya bagi empat untuk disalurkan ke masing-masing media tanam. Salah satu sistem sering mengalami masalah karena mendapatkan debit yang paling kecil. Akhirnya saya atasi dengan memasang selang ke sistem air pasang, dan sampai sekarang tidak bermasalah lagi. Ukuran pralon 3/4" dan selang 3/4" , supaya bisa masuk harus dilakukan pemaksaan  he......


Bisa memakai siku, masih kurang tambah increaser/reducer.


Atau kita dapat juga memberi siku (yang diberi tanda lingkaran pink), adanya siku akan sedikit menghambat laju dari air. Jika masih kurang bisa menambah pipa increaser/reducer (yang diberi tanda lingkaran kuning), hasilnya jauh lebih baik.

Jangan lupa untuk menjaga kebersihan pompa air kolam, bersihkan secara berkala untuk menjaga keawetan pompa dan tentunya menjaga kestabilan debit air. Jangan lupa pula membersihkan jalur pipa air, karena dalam waktu lama akan terdapat kotoran yang menghambat aliran air.

Sangat penting menjaga kebersihan pompa air kolam.

Mungkin sekian dulu, apabila ada kesulitan lain yang datang, tentu akan saya tambahkan.
Semakin lebih baik.... itu harapan untuk kita semua....
Semoga bermanfaat...





Sunday, 1 December 2013

Hama... Oh... Hama...

Mungkin akan sangat menjengkelkan saat melihat tanaman yang kita sayangi hancur karena hama ataupun peyakit, semua yang telah kita lakukan seolah-olah tiada gunanya. Masih beruntung jika hanya 1 atau 2 tanaman, bayangkan jika hampir semua tanaman terserang hama. Mungkin pengalaman itu pernah kita alami terutama bagi kita yang hoby dalam menanam. Apa yang harus kita lakukan, mungkin itu adalah pertanyaan yang sering timbul saat kita mengalami hal itu. 
Pengalaman itu pernah bahkan sering keluarga kami alami, terutama saat awal-awal kami menanam. Tanaman sawi sendok yang banyak dihinggapi hewan kecil seperti kutu, taneman seledri yang mengalami busuk akar akhirnya mati, tanaman loncang yang membusuk,  tomat yang berbuah lebat tiba-tiba ujung buahnya mengalami pembusukan, pohon cabe yang sudah berbuah tiba-tiba menguning dan akhirnya mati, Buah cabe, pepaya dan tomat yang buahnya membusuk dan serangan besar-besaran dari kelompok belalang. Itu adalah sebagian pengalaman yang benar-benar pernah kami alami dalam menanam di pekarangan kecil kami.

Contoh pengalaman yang pernah kami alami,
buah tomat yang mulai membesar, semua ujungnya membusuk.

Tidak hanya jengkel.... stres pun kami alami karena kami tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman, mencari informasi di dunia maya, bahkan membeli buku yang khusus membahas penanggulangan hama kami coba. Yang lebih parah keyakinan kami hampir goyah, kami hampir menggunakan bahan kimia dalam menangani hama, memang... dengan bahan kimia mungkin semua hama bisa mati, akan tetapi tentu hewan lain yang sebenarnya menguntungkan pasti ikut mati juga, bukan hanya itu bahan kimia yang menempel pada tanaman tentu akan kita santap juga nantinya... Sebuah solusi yang kurang tepat saya rasa. 
Dari informasi-informasi yang telah kami dapat, kami memilih mengatasi dengan pestisida alami, dengan mengandalkan buah dan dedaunan. Tentu tidak semudah yang kita duga, mengapa...? Kita bisa lihat disekeliling kita, tanaman sudah mulai habis, mencari daun nimba, buah brotowali, daun tembakau, dll.. ternyata sudah susah. Kami pun mencoba meramu dari apa yang ada disekitar kami seperti cabe, daun tomat, daun pepaya, bawang putih, daun sirsat tapi sayang... tidak terlalu manjur.., hama-hama itu masih menjarah tanaman kami. Mungkin permasalahannya kami kurang tekun. Dan menyerah... itulah akhirnya yang kami lakukan.
Tentu menyerah bukan berarti kalah, kami tetap mencari alternatif lain. Pernah dengar pepatah mengatakan, mencegah lebih baik dari pada mengobati, nah..... dan itulah jalan yang akhirnya kami lakukan. 

Ya... langkah pencegahan akhirnya coba kami lakukan, tentu kami harus banyak belajar untuk melakukan nya, banyak membaca dari buku dan internet adalah jalannya. Memang tidak mudah melakukan pencegahan, tapi itu akan lebih baik dan hasilnya adalah apa yang telah kami rasakan saat ini. Saya pribadi pernah membaca, entah dari mana sumbernya... lupa...., apa yang dikatakan intinya adalah begini ketika tanaman itu bisa tumbuh dengan subur maka tanaman itu tidak akan mudah terserang penyakit. Kata-kata itu yang saya pegang, hingga saat ini.


Suaranya yang lucu membuat kami selalu terhibur.

Modal pengalaman yang telah kami dapatkan mengajarkan kami untuk bisa menjaga supaya tanaman yang kami tanam bisa tumbuh dengan dengan subur.

Unsur tanah...
Dari tulisan saya sebelumnya dengan judul Si Pembajak Kecil Yang Terabaikan, saya ingin menunjukkan bahwa tanah yang mengandung banyak nutrisi, tanah yang gembur adalah kondisi tanah yang sangat ideal untuk tanaman bisa tumbuh dengan subur. Selama ini, untuk menjaga tersedianya nutrisi, kami mengandalkan pupuk kandang dan kotoran ikan. Sejak awal akan menanam, pupuk kandang, cocopit, arang sekam padi dan tanah adalah standart kami, dan cacing tanah akan kami masukkan setelah persiapan tanah selesai. Dari pengalaman selama ini, tanpa adanya cacing tanah, semakin lama kondisi tanah akan semakin padat, dan air yang kami siramkan terlalu lama meresap dan tidak merata. Kondisi berbeda saat ada cacing tanah, setiap hari seperti ada kegiatan membajak di dalam tanah, air sangat cepat menyerap, dan tanah benar-benar gembur sehingga udara tersedia sangat banyak yang tentunya sangat baik untuk mikroba yang ada di sekitar akar tanaman. Unsur tanah dalam hal ini tentu harus mengandung banyak nutrisi dan gembur.

Unsur air...
Haus... tentu tanaman juga merasakan, untuk menjaga supaya tanaman tidak kehausan kita harus selalu menjaga jangan sampai tanaman kekurangan air. Saat tanaman mulai layu harus secepatnya kita siram jika tidak, jangan harap nyawanya akan tertolong he... Tentu kita tidak perlu menunggu tanaman layu, penyiraman seharusnya selalu dilakukan setiap hari. Dari pengalaman, saat musim hujan, kami melakukan penyiraman 2 hari sekali dan itu pada sore hari, tapi saat musim panas/kemarau harus setiap hari, karena air yang ada di tanah tentu juga mengalami penguapan. Selama ini kami selalu mengandalkan air kolam ikan untuk penyiraman. Pada tulisan saya sebelumnya dengan judul Hebatnya Air Kolam Ikan... saya ingin menunjukkan bahwa betapa air kolam ikan benar-benar menyuburkan, karena dengan menyiram menggunakan air kolam tidak hanya air tetapi pupuk juga didapatkan oleh tanaman. Itulah mengapa selama ini keluarga kami selalu mengandalkan air kolam ikan dalam penyiraman.

Unsur Cahaya...
Ketika unsur tanah dan air tercukupi belum tentu tanaman bisa tumbuh dengan subur. Pengalaman pertama dalam hidup yang saya alami tentang unsur cahaya adalah waktu saya masih tinggal di Panti Asuhan. Waktu itu saya menanam pohon tomat dalam satu bedeng, awalnya tomatpun tumbuh dengan subur tapi semakin lama pertumbuhan itu tidak biasa, tomat terus bertambah tinggi bahkan waktu itu lebih dari satu meter, pertumbuhan itu membuat pohon tomat saya menjadi rapuh dan mau tidak mau harus ditopang dengan bambu. Waktu itu saya kira tidak ada masalah, tapi setelah sekian  lama tumbuh ternyata buah yang dihasilkan sangat mengecewakan, kecil-kecil dan jumlahnya sedikit. Waktu itu saya belum begitu paham, tapi setelah bertahun tahun terus menanam akhirnya dari pengalaman yang didapatkan saya bisa semakin mengerti, dan akhirnya saya juga tahu mengapa waktu itu pertumbuhan tomat yang saya tanam terus tumbuh tinggi seolah-olah tidak terkendali, dan cahaya... itulah penyebabnya. Tanaman dalam hidupnya selalu berusaha untuk mendapatkan cahaya. Ketika sinar terhalang, maka jalan satu-satunya bagi tanaman adalah berusaha lebih tinggi dari apa yang menjadi penghalangnya, dan ketika cahaya itu tidak didapatkan sama sekali, akhirnya lama-kelamaan tanaman itu akan mati. Dari pengalaman itulah dalam setiap menanam, saya selalu mencari cara supaya tanaman saya bisa selalu mendapatkan cahaya. Dan mungkin perlu untuk dicatat, meskipun cahaya dibutuhkan tapi kadar itu berbeda untuk setiap tanaman.

Kesuburan yang terjaga adalah hal yang sangat penting untuk menjaga supaya tanaman tidak mudah terserang panyakit. Tentu ada hal-hal lain yang harus diperhatikan juga untuk menjaga supaya tanaman kita tidak terserang penyakit/hama.

Menjaga jarak tanam...
Ya.. dari pengalaman, tanaman yang terlalu berdekatan tentu tidak baik. Selain karena faktor nutrisi yang direbutkan, daun-daun dari tanaman yang berdekatan bisa saling tumpang tindih sehingga cahaya yang didapatkan kurang maksimal. Selain itu, jika dalam menanam terlalu dekat satu dengan yang lain, biasanya derah tersebut akan sangat rimbun, nah... biasanya hama tanaman akan sangat suka ditempat itu. Mungkin seperti kita, tentu kita lebih suka di tempat yang sejuk daripada yang panas.

Lingkungan tempat menanam...
Pernah saya membaca sebuah buku, bahwa tempat kita menanam sebaiknya memiliki tempat yang bersih, dalam artian jangan sampai tempat kita menanam disekitarnya banyak terdapat tumpukan sampah daun, karena hama juga banyak bersembunyi ditumpukan tersebut. Memang itu benar, perbedaan memang terjadi ketika saya mulai membersihkan lingkungan tempat menanam, karena sebelumnya sampah daun kami kumpulkan dibawah tempat kami menanam.

Biarkan alam bekerja...
Memang saya bingung mencari kata-kata yang pas, tapi maksud saya begini, di alam ini tentu ada yang namanya rantai makanan, tentu kita sudah tau.... Nah kita hanya perlu mengenal sedikit saja dari binatang disekitar kita, dan kemudian membiarkan mereka hidup dengan caranya sendiri selama itu tidak mengganggu dan merugikan kita. Di pekarangan kami, kodok bencok kami biarkan asalkankan jumlahnya tidak terlalu banyak, karena mereka meyantap serangga yang ada di tanaman, cicak yang ada ditempat kami juga banyak, mereka berjasa karena selain nyamuk mereka juga menyantap kupu-kupu, yang kita tahu kupu kupu bisa menjelma menjadi ulat. Laba-laba, saya sendiri sering melihat laba-laba dengan jaringnya menangkap belalang dan hewan kecil lain. Dan yang baru saya tahu setelah membaca majalah TRUBUS adalah, bahwa capung adalah sahabat petani.  Tentu masih banyak hewan lain yang berjasa membantu kita, hanya kita terkadang tidak mau tahu dan akhirnya mengusir bahkan membunuh mereka.

Menanam secara tumpang sari...
Cara ini secara tidak sengaja kami lakukan, karena kami ingin supaya sebagian besar sayuran yang ingin kami masak tersedia dipekarangan kami. Ternyata cara ini memiliki manfaat dalam pengendalian hama. Dan yang sedikit saya tau, bahwa menanam dengan berbagai jenis sayuran akan membuat hama terganggu, karena setiap tanaman memiliki aroma yang berbeda-beda, atau bahasa orang awam seperti saya hama akan bingung memilih tanaman kesukaannya...

Tangan kita jangan malas...
Kita sendirilah yang akhirnya juga berperan mengendalikan hama. Untuk ulat, belalang kami selalu menangkap dengan tangan kami sendiri, selain karena mereka merugikan, mereka adalah makanan bergizi untuk ikan-ikan kami. Di belakang tempat kami tinggal kebetulan masih berupa hamparan sawah, saat musim panen tiba, sudah pasti pekarangan kami diserbu belalang, mengandalkan binatang predator tentu tidak mungkin, jadi kami yang harus membantu mereka.


Hama memang tidak akan pernah bisa sirna meskipun mereka merugikan kita, tapi di alam ini kita tidak hidup sendiri, banyak makluk hidup lain yang menggantungkan hidupnya pada hama itu. Selama ini, kami hanya percaya bahwa alam sudah memberi yang terbaik, sekarang tinggal bagaimana kita bisa menyelaraskan diri dengan alam sekitar kita.
Dan yang perlu menjadi catatan, mulai sekarang sebisa mungkin dalam mengendalikan hama jangan menggantungkan pada obat kimia, karena keberadaanya justru akan menghancurkan kehidupan kita, dan kelak anak cucu kita tidak akan pernah menikmati alam ciptaan Tuhan yang maha sempurna ini.

Mungkin itu sekelumit pengalaman kami dalam menjaga tanaman dan lingkungan kami... semoga bermanfaat...