Sunday, 26 February 2017

Update Akuaponik IBC 2017_01

Setelah sekian lama, ingin rasanya meng-update akauponik ibc, walau tanaman di akuaponik ini sedang merana. Posisinya yang terlalu dekat rumah, menyebabkan kurangnya sinar matahari, bahkan hampir 90% seperti saat ini, saat matahari berada di sebelah selatan katulistiwa. Pada saat matahari kurang bersahabat, akuaponik tetap berjalan walau kurang maksimal. Tapi jangan salah, akuaponik tidak hanya sayuran, tapi juga ikan, walau merana dari segi sayur, ikan justru sebaliknya, kami sering mengambil untuk lauk, karena tujuan utama kami memang untuk kebutuhan gizi keluarga. 

 
Jika ada saudara datang bisa masak ikan he..

 
Karena kami bertiga kami ambil cukup 3 saja.


Meskipun sayuran di akuaponik ibc sedang 'istirahat', kami bisa mengambil sayuran dari akuaponik lain atau yang kami tanam di pot.  Sayuran dan ikan terkadang kami kombinasikan menjadi menu yang lezat menurut selera kami. Seperti di bawah ini, dengan mengumpulkan sayuran di kebun dan mengambil ikan di akuaponik ibc untuk membuat sop ikan makanan kesukaan kami.


Semua dari pekarangan kami.

 
Sop ikan favorit kami.

Kami mengambil ikan hanya yang sudah besar, dan memang lumayan, bobot ikan nila yang biasa kami ambil antara 500-750 gr.


 
Senang bisa panen kapanpun kita mau.

Terlalu asyik kami menikmati ikan, tidak terasa ikan mulai habis terutama di akuaponik ibc. Memang sejak pertama sekitar 2 tahun yang lalu, kami hanya membeli sekali ikan nila, setelah itu ikan beranak pinak sampai sekarang, dan yang kami ambil sekarang entah turunan keberapa he..
Kebetulan kami ingin menambah growbed untuk menanam sayuran terutama cabe dari kolam ibc, sehingga kami perlu menambah ikan lagi supaya nutrisi terpenuhi, selain itu jumlah ikan nila juga semakin sedikit.
Kemarin sore setelah growbed siap kami membeli ikan lele sebanyak 5 kg, yang isinya setelah dihitung ada 380 ekor, kata penjual umur lele sekitar 1 bulan. Lele kami masukkan ke kolam ibc 1 yang sebelumnya ikan nila yang tersisa tidak lebih dari 20 ekor kami pindahkan ke kolam ibc 2.






Growbed baru dengan sistem aliran atas.


Selain lele kami membeli nila 2 kg, yang jumlahnya 25 ekor. maksud kami supaya lele baru ini ini bisa kawin dengan lele yang lama yang tinggal di ibc 2.








 
Pedro sedang menghitung lele he...

Setelah lele masuk kolam, pagi ini lele dalam kondisi sehat mau makan. O iya air kolam sengaja tidak kami ganti meskipun kami masukkan 100% ikan baru di ibc 1, alasan kami sistem sudah bagus atau 'matang'.


Kondisi lele pagi ini.


8 Maret 2017

Masalah ternyata datang setelah pembelian ikan baru, beberapa hari kemudian ikan nila yang baru saja dibeli ternyata bergelimpangan, kemungkinan karena jamur. Sama seperti dulu di awal, ikan banyak yang sakit dan akhirnya mati, untuk antisipasi terpaksa kolam dikuras. 
Untungnya kami diberi penghiburan meski ikan nila baru banyak yang mati. Setelah dikuras, kami bisa melihat ikan  gurame yang kami pelihara sejak akuaponik ibc kami bangun, mungkin sudah sekitar 2,5 tahun, kami ambil salah satu dan kami foto 'klik' he... Bukan tanpa alasan, kami begitu senang dan heran, meski ukuran luas kolam hanya 1mx1m, tapi ikan gurame dapat tumbuh besar.





Trimakasih.

Update Akuaponik Sistem Sumbu #3

Setelah tanaman sawi tidak berkembang dengan baik, akhirnya kami memanen dan memasaknya meskipun kecil dan sedikit, bagaimanapun itu adalah hasil yang tetap harus diterima dan dinikmati, tapi jangan salah, sawi itu tetep bebas pestisida he... 
Setelah panen, beberapa hari kemudian kami coba tanam kangkung dengan 2 butir biji yang langsung dimasukkan di rockwool, dengan cara membuat lubang kecil. Sebelum biji kami masukkan kami coba tuang dulu di air, biji yang mengambang kami buang, dan yang kami tanam biji yang tenggelam. 
Biji kami masukkan ada yang tanggal 29 Januari untuk 3 lajur dan lajur berikutnya kalo tidak salah tanggal 1 Februari 2017, sekitar 2 hari kemudian mulai tumbuh.  
Seperti sebelumnya, kami mengamati pergerakan akar, memang perakaran kangkung begitu cepat, bahkan ada beberapa yang langsung menembus ke kain flanel lurus menuju ke air, dan tidak melewati jalur kain flanel.


 
Sekitar hari ke-8, perakaran sudah mulai begitu banyak.


Berbeda dengan tanaman sawi sebelumnya, bak tempat menanam sekarang tentunya sudah jauh lebih 'matang', karena sistem jauh lebih lama, sehingga meskipun bak ini digunakan sebagai penampung kotoran, setidaknya akan lebih banyak nutrisi yang bisa diserap.
Sama seperti sebelumnya, sinar matahari masih menjadi kendala utama, tanaman di area ini sekitar jam 10 pagi baru mendapatkan sinar, itu belum ditambah cuaca yang sering hujan, jadi terlihat tanaman kangkung lebih jangkung. Meskipun begitu, dari yang kami perhatikan, tidak ada tanda tanda tanaman atau ujung daun menguning sebagai tanada kekurangan nutrisi.


Sekitar hari ke-22.
Meskipun tidak bisa hijau pekat, tapi tanaman terlihat sehat, mungkin karena 100% dari kotoran ikan.


Sekitar hari ke-26







Jika dilihat dari samping.


Jika kami amati, tidak terlihat hama yang sembunyi dibalik daun, tanaman terlihat mulus, semoga setelah panen pertama, cabang semakin banyak sehingga semakin rimbun..




Akhirnya setelah umur kurang lebih satu bulan, tanggal 29 Februari kami panen, karena masih muda ketika dimakan rasanya memang jauh lebih enak dibandingkan setelah pemotongan atau setelah panen ke-2 dan seterusnya. Kangkung memang tidak rimbun, karena penanaman hanya 1-2 biji tiap netpot tapi itu cukup buat kami.

28 Maret 2017

Setelah pemangkasan/panen pertama, pertumbuhan kangkung semakin bagus, hal itu kemungkinan besar karena perakarannya yang semakin banyak dan luas.

 
Satu sisi panen, sisi lain tumbuh..

Trimakasih.

Wednesday, 8 February 2017

'Bank' Sampah Daun




Sejak awal, kami ingin memiliki hunian yang menyatu dengan alam, sehingga pemandangan hijau menyegarkan, udara yang bersih dan sejuk, bisa kami dapat dan rasakan dari dalam rumah kami. Untuk itulah kami banyak menanam pepohonan, baik buah, bunga dan sayuran. Kami ingin rumah kami sejuk karena tanaman yang kami tanam bukan karena mesin ac (air conditioner), kami ingin rumah kami segar bukan karena parfum atau wewangian buatan, namun kesegaran alami dari tanaman yang kami tanam, kami ingin udara di lingkungan kami bersih bukan karena mesin pembersih udara, tapi karena tanaman yang kami tanam. Dan semua itu sekarang sudah dan terus kami wujudkan meskipun jauh dari sempurna, setidaknya kami berusaha menciptakan hunian yang menyatu dengan alam yang penuh pepohonan.
Meskipun pekarangan kami tidak terlalu luas, namun banyaknya pepohonan, menyisakan sampah daun yang begitu banyak. Mungkin bagi sebagian orang, dengan menanam banyak pepohonan akan menyusahkan, karena kita harus membersihkan setiap hari, belum ketika sudah rimbun, kita harus melakukan pemangkasan. Memang benar anggapan itu, namun jika kita mau menggali lebih dalam lagi, tentu manfaat yang didapat dengan banyak menanam pohon akan jauh lebih banyak bahkan tak ternilai manfaatnya.
Sampah daun memang menjadi kendala, tapi jika dimanfaatkan kembali tentu akan menjadi berkah bagi kita atau alam lingkungan sekitar kita. Dulu kami telah membuat 'Lubang kehidupan' untuk tempat kami menampung sampah daun di titik titik tertentu sekaligus sebagai resapan air, namun rupanya lubang tersebut tak mampu menampung banyaknya daun yang setiap hari berjatuhan, sehingga kami membutuhkan tempat yang lebih besar lagi.


 
Daun menumpuk setelah pemangkasan.

Ketika 'lubang kehidupan' sudah tak mampu menampung sampah daun kami, kami mengumpulkan daun di tempat tertentu yang langsung bersentuhan atau beralaskan tanah dan tempatnya sejuk, tidak kering, lama-lama daun yang bagian bawah akan membusuk, bahkan semakin lama banyak cacing berkumpul di tempat itu. Tidak hanya cacing, akar tanaman yang berada disekitarnya pun akan menjalar ke tumpukan daun yang telah membusuk dan menjadi tanah tersebut.
Berbekal pengalaman itulah kami mencoba membuat wadah yang lebih besar, supaya dapat menampung lebih banyak daun dan bisa kami manfaatkan sebagai pupuk. Wadah kami buat dari tong air yang sudah tidak terpakai dan kami membuatnya secara sederhana saja berdasar  pada apa yang kami amati di lingkungan kami.

Cara membuat...
1. Membuat lubang di seluruh badan tong, supaya ada banyak oksigen bisa masuk, bagian bawah juga harus diberi lubang, semakin banyak semakin bagus, bahkan alasnya dipotong juga ndak papa, supaya bisa bersentuhan langsung dengan tanah.

 
Melubangi tong.

 2. Dibuatkan pintu dibagian bawah yang bertujuan untuk mengambil daun yang sudah menjadi pupuk, karena lapisan bawah adalah lapisan yang paling duluan masuk sehingga paling cepat menjadi pupuk.



Dibuatkan pintu.


3. Tempatkan di tempat yang teduh, dibawah pohon akan lebih baik, supaya sampah yang ada di dalam tidak kering, selain itu cacing dan bakteri pengurai akan senang he.. Jnagn diberi alas, biarkan bersentuhan dengan tanah langsung, terbenam tentu baik kalo wadahnya tidak besar.



Tempatkan ditempat yang teduh.


4. Masukkan sampah daun, jika mau, dipotong kecil-kecil supaya proses pembusukan lebih cepat, kalo bisa kayu jangan dimasukkan karena prosesnya lama, lebih baik untuk kayu bakar he...





 5. Karena kami membiarkan berproses secara alami, maka prosesnya agak lama dalam hitungan bulan mungkin sekitar 6 bulan. Jika dilubang samping sudah ada banyak kotoran cacing yang keluar, itu pertanda bagian bawah sudah ada daun yang menjadi tanah, coba dicek dengan membuka pintu yang sudah kita buat.


Bagian bawah sudah menjadi pupuk, kotoran cacing terlihat .




Tanah yang sudah menjadi pupuk bisa kita gunakan langsung untuk menanam, kalo kami biasa kami gunakan untuk menanam sayuran di pot.


Ini salah satu contohnya.

Demikian sedikit pengalaman kami dalam mengelola sampah daun di pekarangan kami. Trimakasih

Salam Hijau

Wana Wana


Sunday, 29 January 2017

Update Akuaponik Sistem Sumbu #2

Seperti sebelumnya, pertumbuhan tanaman sawi begitu lambat, sebagai perbandingan, tanaman sawi yang ditanam di dalam pot dengan media tanah sudah tumbuh besar, sedangkan pada sistem sumbu ini masih kecil. Akan tetapi, sejak akar mulai masuk ke dalam air dan umur sistem di dalam bak yang terus bertambah, sepertinya ada perkembangan yang lebih baik, meskipun bisa dikatakan sudah terlambat karena usia tanaman sawi sudah mulai menua, tapi jika hanya untuk diamati tentu tak masalah.


Pertumbuhan mulai bagus, meskipun terlanbat.

 
Di pot sudah berkembang pesat.

Meskipun ada masalah dipertumbuhan, ada yang jauh lebih menarik dari tanaman sawi ini. Matahari yang jarang muncul, dan hujan yang terus menerus, tentu membuat banyak hama akan singgah di tanaman termasuk di sawi ini. Pada tanaman sawi di akuaponik kolam koi dan di pot, banyak daun yang menggulung ke dalam, seperti ada hewan penghuni di balik daun, pemandangan berbeda terjadi pada tanaman sawi yang bersistem sumbu, meskipun pertumbuhan lambat karena kekurangan nutrisi, namun tidak ada satupun daun yang menggulung ke dalam, semua daun tampak tidak ada keanehan alias normal. Dari pengamatan ini, kemungkinan besar hama enggan bersembunyi di balik daun karena adanya pantulan cahaya dari cd/dvd bekas. Semoga saja hal ini benar adanya. 

  
Terlihat banyak daun menggulung (akuaponik kolam koi)    

 
Karena sejak awal ada siji yang tidak tumbuh, yang kemudian kami coba menanam selada air yang justru membusuk, kini kami mencoba menanam kangkung. Harapan kami akan ada atau terlihat perbedaannya dengan tanaman sawi.


Biji kangkung yang mulai berkecambah.

Semoga perlahan ada yang bisa diambil dari pengalaman ini.





Monday, 26 December 2016

Update Akuaponik Sistem Sumbu (Wick System)

Seperti yang telah kami utarakan pada artikel sebelumnya  Akuaponik Sistem Sumbu, bahwa kami baru pertama kalinya melakukan pembenihan dengan media rockwall, jadi pengalaman kami masih 'nol' sehingga kami siap menerima dan belajar dari kegagalan yang akan terjadi. 
Setelah benih kami masukkan ke dalam lubang kecil di rockwall menggunakan lidi, kemudian benih kami tutup dengan plastik hitam, selang 2 hari benih mulai pecah dan berkecambah. Benih kami jemur di atap untuk mendapatkan sinar pagi. Supaya tidak kehabisan air, pada wadah diisi air kolam kira-kira sampai ketinggian 0,5 cm. 
Yah... namanya juga belajar, belum bisa memahami karakteristik rockwall. Beberapa hari kemudian beberapa tanaman justru membusuk, demikian juga biji yang mulai tumbuh ikut membusuk. Memang ada beberapa yang bisa bertahan hidup karena terselamatkan oleh kemiringan dalam kami meletakkan wadah pembenihan saat dijemur, jadi yang tidak tergenang air, bisa tumbuh baik walau hanya sedikit. 
Gagal iya... tapi saya senang bisa mendapatkan pengalaman ini. Rockwall memang memiliki sifat penyerapan air yang sangat tinggi, begitu wadah diberi air, dengan cepat rockwall akan menyerapnya. Dan dalam proses pembenihan, kebanyakan air atau menggenang justru akan menyebabkan kegagalan.

Kegagalan penyemaian pertama dan susahnya mendapatkan sinar matahari pagi membuat kami mencoba alternatif lain, sekaligus mencoba bereksperimen dengan benih.
Kali ini kami melakukan pembenihan secara langsung. Rockwall kami masukkan ke dalam netpot, dan kemudian benih kami masukkan ke dalam rockwall tersebut, jadi tidak terpisah. Kendala utama adalah cahaya pagi yang tidak kami dapatkan karena terhalang gedung, baru sekitar jam 9-10 bisa tersentuh cahaya. Kami belum benar-benar tahu apakah nantinya benih akan kutilang (kuning, tinggi, langsing) akibat kurang cahaya pagi, tapi kami harus mencoba. 
Tanggal 20 Desember 2016, tepatnya sore hari, kami memasukkan benih sawi kedalam rockwall, kami selalu mengamati apakah proses kapilaritas terjadi ketika rockwall bersentuhan dengan kain flanel sebagai sumbunya, karena kami takut benih tidak tumbuh akibat kekeringan. Selang 2 hari biji sudah terlihat berkecambah dan rockwall masih dalam kondisi basah, tahap pertama sukses he... 




Perjalanan akar dan daun...
Benih yang pertama kali disemai terpisah dan masih hidup tidak kami buang namun kami pindah bersamaan dengan kami melakukan pembenihan langsung. Kami ingin tahu apkah ada perbedaan dalam pertumbuhannya, antara semai langsung dengan semai terpisah.

Hari ke-3...
Setiap hari kami lihat perkembangannya dan hari ke-3 tepatnya tanggal 23 Desember 2016, kami dokumentasikan baik akar dan daunnya. Benih yang disemai terpisah daunnya mulai menguning sebagai tanda kurang nutrisi, bisa dimaklumi karena akar belum banyak dan nutrisi hanya diambil dari rockwall yang mungkin hanya sedikit menyerap nutrisi. Namun akar dari semai terpisah tersebut mulai menjalar menuju ke bawah, ke sumber air/nutrisi. Dari 7 tanaman semai terpisah, meskipun tidak terkena sinar matahari pagi, tapi pertumbuhan mereka terlihat normal, tidak tinggi dan langsing.



Salah satu dari semai yang terpisah.
 

Akar mulai keluar (semai terpisah)

 Untuk pembenihan langsung, biji mulai berkecambah.


Usia 3 hari.

Hari ke-4...
Benih yang disemai langsung, terlihat daun hijaunya, dan setelah kami angkat, beberapa tanaman akarnya sudah menembus kain flanel.


Akar sudah menembus kain flanel.


Daun muda sudah mulai terlihat.

Hari ke-6...
Mulai terlihat lebih jelas lagi perkembangannya dan yang membuat kami senang, apa yang kami kawatirkan dengan kutilang ternyata sampai hari ke-6 ini belum terjadi.
Di bawah ini foto beberapa tanaman yang disemai terpisah, daun sejati terlihat menguning, dan akar sudah mulai banyak menembus kain flanel.






Akar sudah banyak yang menembus kain flanel.


Di bawah ini foto tanaman yang disemai langsung, terlihat pertumbuhannya normal dan rata rata akar sudah  menembus kain flanel.


Terlihat normal




Akar yang menembus kain flanel.


Penampakan hari ke-6,
21 Januari 2017

Sepertinya proses pertumbuhan tanaman dengan sistem sumbu apalagi dengan wadah yang cukup dalam memang sangat lambat, karena tanaman yang sama yang ditanam di tanah sudah besar. Jika kami amati, akar menjalar menyusuri kain flanel untuk bisa masuk ke dalam air, sedangkan kain flanel arahnya melengkung tidak tegak lurus sehingga perjalanannya semakin 'jauh' yang tentunya membutuhkan lebih banyak energi. wadah yang kami gunakan untuk menampung limpahan dari air kolam juga cukup dalam yaitu 40 cm, jadi endapan dan nutrisi kemungkinan berada di bagian dasar kolam, dan untuk menjangkaunya tentu butuh waktu dan energi lebih banyak. mungkin itu pula yang menyebabkan pertumbuhannya begitu lambat. Dengan umur sawi yang pendek dan sekali panen tentu hal ini kurang baik.
Percobaan pertama ini dengan tanaman sawi bisa kami katakan akan gagal, berikutnya mungkin kami akan mencoba tanaman kangkung yang memang bisa panen berkali-kali sehingga perakaran akan lebih baik.


     
Umur 13 hari, masih terlihat kecil.


Umur 19 hari, terlihat belum berubah.


Umur 19 hari, terihat kurang subur.


Akar mengikuti jalur kain flanel.

Meskipun nantinya gagal, tetap ada banyak ilmu yang bisa kami dapatkan, terutama bagaimana akar itu berjalan, dengan mencoba lagi pasti akan medapatkan ilmu yang lebih lagi.

Trimakasih...

Monday, 12 December 2016

Akuaponik Sistem Sumbu (Wick System)

Dengan menerapkan tanah dalam akuaponik, harapannya supaya tanaman bisa tumbuh lebih subur. Dan memang itu berhasil meskipun hanya tanaman bayam, seledri namun bisa tumbuh besar seperti di tanah, bahkan lebih subur. Sebenarnya ingin sekali menanam bawang merah dan sayuran buah lain, tapi karena cahaya yang sekarang minim niat itu kami urungkan. 
Dengan berat hati akhirnya kami membongkar tanah yang ada di growbed fiber, tapi itu harus kami lakukan mengingat minimnya cahaya, kami ingin menggantinya dengan tanaman sayuran daun. Selama proses pembongkaran seperti ada yang aneh, cacing yang dulu banyak ternyata hilang, bahkan hanya beberapa ekor. Kami jadi ingat dengan kadal, karena setiap hari pasti ada di growbed ini, jadi bisa dianggap sebagai 'tersangka' utama mengapa cacing hampir tidak ada lagi.  Kadal termasuk predator bagi cacing, kami pernah melihat kadal sedang menyantap cacing tanah dengan lahapnya, bahkan saat kami melakukan aktivitas bongkar tanah, kadal sering 'membuntuti', berharap ada cacing yang bisa disantap he...


Growbed setelah dibongkar.


 
Media hasil bongkaran, cacing entah kemana?.


Seledri yang tumbuh sangat subur terpaksa dipindahkan.


Setelah pembongkaran selesai, kami bingung, sistem apa yang akan kami gunakan dalam menanam. Awalnya kami akan mencoba sistem rakit apung dengan gabus atau styrofoam, tapi kami kesulitan mencari penjual di sekitar kami, jika ada itupun sangat jauh sehingga susah untuk membawanya pulang. Kami mencoba alternatif lain dengan mengapungkan bambu dibantu botol plastik bekas. Pengapung sudah jadi, tapi ternyata jika dilanjutkan akan banyak bambu panjang yang digunakan sementara bambu yang ada sangat terbatas, selain itu kami akan kesulitan mengikat netpot satu persatu pada bambu, belum saat panen akan kesulitan untuk melepasnya.
 
Desain awal tanpa cd/dvd

 
Setelah hampir seminggu terdiam mencari ide, akhirnya menemukan ide dengan memanfaatkan cd/dvd bekas yang kebetulan sangat banyak di rumah. Dengan meletakkan netpot di cd/dvd tentu kami tidak perlu mengikat, dan saat panen pun tinggal mengambil begitu saja. Kemampuan cd/dvd yang dapat memantulkan cahaya harapan kami bisa menambah intensitas cahaya sekaligus mengusir hama yang sering berada atau sembunyi di bawah daun. 
Dan kali ini, sistem yang kami gunakan adalah sistem sumbu atau wick system. Wick System atau sistem sumbu merupakan teknik sederhana yang menghubungkan nutrisi dan media tanam dengan perantara sumbu. Air dan nutrisi akan sampai ke akar tanaman dengan memanfaatkan prinsip daya kapilaritas air. Cara kerjanya mirip kompor minyak tanah.

Idenya...
Idenya sangat sederhana, cd/dvd kami gunakan untuk meletakkan netpot, jadi netpot menggantung di cd/dvd, sedangkan cd/dvd mengantung pada sepasang bilah bambu yang kita atur sedemikian rupa. Ujung bambu diletakkan di bibir growbed supaya tidak jatuh, dan supaya bambu tidak bergerak menyempit atau melebar saat kesenggol maka perlu kita tambah bambu melintang di ujung bambu panjang tersebut. 


Ide dasarnya


 Cara melubangi cd/dvd 
Kami awalnya sempat bingung bagaimana cara melubang cd/dvd supaya netpot bisa masuk, karena bagian tengah dvd sudah berlubang dan cukup besar sedangkan mata bor cukup kecil. Sempat akan mencoba menggunakan besi dipanaskan tapi tentu akan lebih lama. Akhirnya kami mencari ide lagi dan ketemu cara seperti gambar di bawah ini. 


Cara melubangi cd/dvd.
 

Peralatan untuk melubang cd/dvd.

Dengan menggunakan balok kayu tebal, kita letakkan cd/dvd di atasnya, kemudian 3 atau 4 sisi ujung cd/dvd kita tancapkan paku sebagai patokan biar lebih mudah peletakan cd/dvd-nya. Balok di tengah lubang cd/dvd  kita bor yang nanti digunakan sebagai pijakan mata bor agak tidak goyah. Dalam hal ini kita akan melubangi cd/dvd dengan menggunakan hallsaw sesuai ukura netpot. Supaya dc/dvd tidak ikut berputar saat dibor, maka kita perlu siapkan kayu balok untuk menekan.



Nah begini tampak dari samping.



Tampak dari atas.

Proses dalam melubangi ternyata tidak lama hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk 1 cd/dvd, jangan lupa karena cd/dvd itu berupa plastik jadi terkadang ada loncatan plastik yang panas bisa mengenai kaki, jadi harus hati-hati.  

Setelah selesai melubangi dvd, ada pekerjaan yang lebih berat yaitu membuat tempat untuk dudukan cd/dvd yang terbuat dari bambu, kami tidak perlu menjelaskan karena sebenarnya mudah hanya perlu kehati-hatian karena bambu itu tajam.


Proses perakitan bambu.

Kalo semua sudah siap, bambu tinggal diletakkan di atas kolam cd/dvd sekaligus netpotnya tentu saja diatur supaya rapi. O iya.. supaya pemukaan rata, karena kadang bambu ada yang melengkung, kami pasang besi cor di tengah tengah, jika ada yang melengkung ke bawah kita ikat dengan kawat. 


Memasang sumbu



tinggal meletakkan di atas bambu


Tanaman tinggal dimasukkan ke netpot.

Pembenihan

Setelah semua siap, tahap berikutnya adalah pembenihan. dalam hal ini kami memilih melakukan pembenihan di luar sistem, hal ini karena cahaya pagi tidak pernah sampai di tempat penanaman ini, baru sekitar pukul 10, sinar matahari bisa 'menyentuhnya'. Jika kami paksakan tetap melakukan pembenihan langsung, yang kami takutkan tanaman akan tumbuh kurus, tinggi, dan langsing alias 'kutilang'.
Jujur ini adalah pembenihan pertama kali yang kami lakukan dengan media rockwall, jadi kami benar-benar masih 'nol' pengalaman, berbeda dengan pembenihan dengan media tanah yang sering kami lakukan. Kami belum benar-benar memahami, jadi kami sudah siap gagal dan belajar dari pengalaman ini. 



Kami menggunakan media rockwall.


Bersambung di sini