Monday, 9 February 2015

Aplikasi SIPHON APUNG wana-wana

Rasanya sudah "gatal" untuk mengaplikasikan langsung siphon apung wana-wana ke akuaponik. Kebetulan ada pralon yang selama ini kurang optimal penggunaanya di akuaponik kolam fiber, dengan menambah "T" dan juga dop/tutup pralon,siphon apung harus saya aplikasikan.  Saya juga belum tahu apa kelemahan dari siphon saya ini, untuk itulah saya harus mencoba langsung.

Tepatnya hari Minggu 8 Februari kebetulan libur kerja, sepulang dari bermain bersama istri dan anak tercinta, langsung tancap gas menuju halaman belakang. Jujur, memang tidak mudah mengaplikasikan siphon apung, karena kita harus mengatur supaya siphon dapat naik atau turun dengan jarak sekitar 10 cm, sementara jarak antara bagian atas dan bawah (ujung "T") sekitar 25 cm. Perlahan tapi pasti, ketemu juga ide untuk mengaplikasikan siphon tersebut, begitu senang rasanya... he... 


Penampakan Siphon dari atas.


Beginilah penampakan secara lebih luas.


Output disalurkan ke kolam fiber.

Untuk sementara pralon belum diisi tanaman, jadi saya ingin mengetahui terlebih dahulu apakah ada masalah, sambil menyiapkan langkah lain yaitu media tanam, sekaligus tanamannya, tapi air tetap dialiri dari kolam ikan.


10 Februari 2015


Siphon baru dan membuat sendiri memang butuh perjuangan, terjadi masalah itu pasti, tapi menurut saya justru itulah yang akan menjadikan siphon apung ini semakin sempurna (harapan saya. .he..). Jujur, pembuatan siphon ini butuh ketelitian lebih, mulai dari lubang air yang harus tepat dengan kolong, jarak kolong dan siphon yang tidak boleh terlalu longgar, bahkan hasil pembuatan lubang air harus mulus, jika tidak, dipastikan siphon tidak akan bisa bergerak naik turun.
Hal-hal detil telah dilakukan, bahkan perisai/pelindung pun telah dibuat dengan cantik. Kemarin sore tepatnya 9 Februari 2015, sehari setelah sistem berjalan, tenyata siphon macet, berfikir dan berfikir mencari penyebabnya. Setelah berkutik agak lama, saya mencoba meraba perisai bagian dalam terutama bekas pengeboran, benar juga, betapa kasarnya bekas pengeboran. Akhirnya perisai dicopot lagi dan lubang-lubang bekas pengeboran harus dibuat sehalus mungkin. Sistem dipasang lagi dan berjalan dengan baik, tapi setelah beberapa kali berjalan, lagi-lagi macet, kali ini harus berfikir lebih keras lagi, usut punya usut, ternyata ada bagian dari sambungan pipa yang fungsinya hanya untuk mengalirkan air ke kolam ternyata menjadi penyebabnya, terpaksa harus dilakukan modifikasi dengan memperuncing sambungan.

Pagi hari tadi (10 Februari 2015) sekitar pukul 05.30 WIB, sistem saya cek lagi, dan masih berjalan lancar, senang rasanya he.... Karena sistem sudah lebih lancar, akhirnya sambil bersih-bersih rumah, saya mencoba mencatat berapa lama proses surut dan pasangnya. Dari proses pencatatan diperoleh,

Proses surut terjadi selama       1:50 dtk.
Proses pasang terjadi selama   18:30 dtk.

O iya.. kemarin sore, saya juga melakukan pengukuran debit yang masuk ke pralon, meskipun tidak begitu presisi, dari hasil secara rerata, debit air adalah sekitar 1.8 liter/menit.


12 Februari 2015

Setelah beberapakali dop bagian bawah siphon apung tersangkut pipa sambungan, saya mencoba mencari ide untuk mengganti dengan cara berbeda. Setelah melihat siphon apung bagian bawah dengan detail, akhirnya ketemu ide untuk mengganti sambungan pipa yang sering menyebabkan siphon apung macet. Dan akhirnya, pipa sambungan untuk mengalirkan air ke kolam saya ganti dengan cara seperti gambar di bawah ini.


Penggantian pipa buangan ke kolam.


Tidak hanya lancar, ternyata setelah penggantian pipa, ada perubahan besar yang terjadi terutama air yang keluar. Jika dengan sambungan pipa 3/4", proses surut terjadi selama 1:50 detik, setelah diganti dengan pipa 2", proses surut terjadi hanya 54 detik sebuah perubahan yang besar. 
Setelah saya amati, selama ini meskipun air bisa keluar, tapi akibat terhalang pipa 3/4", air tidak bisa mengalir dengan lancar, berbeda dengan pipa 2" air bisa leluasa mengalir lancar.

Meskipun berhasil mengalir, setiap hari selalu tak lepas dari pengamatan, apakah siphon apung bisa bekerja dengan lancar. Memang macet itu masih terjadi, dan itu benar-benar menjadi perhatian saya. 
Penggunaan pipa 2 " sebagai pengapung memang terlalu berat, untuk itu saya mencoba mencari bahan lain yang lebih ringan. Memang tidak mudah mendapatkan bahan sebagai pengapung, setiap kali melihat botol bekas, apapun itu, akan selalu saya cek apakah bisa dipakai untuk pengapung, bahkan saat di kantor, mata melotot ke mana-mana he....

Akhirnya saya mendapatkan botol bekas tinta printer di kantor, sesampai di rumah, botol langsung "diekseskusi" dan memang bekerja lebih bagus dari dop 2". Setelah berjam-jam, siphon bekerja tanpa kendala, tapi sayang, pagi hari saat dicek, terjadi macet lagi, rupanya pengeboran yang saya lakukan tidak simetris, yang menyebabkan siphon apung tidak benar-benar berada di posisi vertical.

Siphon apung memang benar-benar harus presisi, saat ini saya masih mencari bahan yang seringan mungkin, dan proses pengeboran akan saya lakukan dengan benar-benar presisi.


19 Februari 2015

Setelah berhari-hari bereksperimen, ternyata tetap saja pilihan terbaik untuk siphon apung adalah tutup pralon (dop 2"), bahan yang sangat ringan ternyata tidak menjamin siphon berfungsi baik. Dan memang dari berbagai kegagalan yang telah saya alami, akhirnya banyak hal yang saya dapatkan dari siphon jenis apung ini.

Memang saya akui, kelemahan utama dari siphon apung adalah kotoran terutama berupa pasir yang bisa menghambat proses naik dan turunnya siphon apung. Sebelumnya saya mencoba berbagai cara untuk menghindari terjadinya macet pada siphon apung, terlepas dari masalah kotoran, dan semua berjalan dengan baik.

Hampir putus asa.. itulah kata-kata yang tepat setelah berhari-hari melakukan ujicoba... Bayangkan.. akibat dari macetnya siphon, air di media tanam sering luber, akibatnya kolam hampir kehabisan air, tapi itulah tantangan, semua pasti ada hal positifnya he...

Apakah siphon apung bisa digunakan..? 

Setelah sekian banyak melakukan ujicoba, siphon apung sepertinya lebih cocok untuk akuaponik tanpa media (batu dll..), kalaupun dengan media, media harus bersih, tapi tentu saja itu tidak menjamin siphon akan macet. Hal lain, siphon apung sepertinya tidak cocok untuk diplikasikan pada media tanam/wadah yang sempit yang menggunakan media tanam (batu,arang, dll), kecuali siphon dipasang di luar growbed.

Saya sendiri masih setia dengan siphon apung yang saya aplikasikan di media pralon, untuk menghindari banyaknya kotoran, sebelum masuk ke siphon, saya pasang spon, supaya air bisa lebih bersih, dan memang itu bisa lebih bagus, dalam artian macet tidak sering terjadi.


Perisai diperbesar dan ditambah spon sebagai penyaring.


Apa sebenarnya kelebihan & kekurangan siphon apung..?

Satu hal yang membuat saya suka dari siphon apung adalah, siphon apung mampu bekerja dengan baik dari debit kecil sampai besar tanpa merubah apapun, jadi saat pompa kotor dan debit air mengecil, siphon apung masih bisa bekerja dengan baik. Tentu saja bukan berarti kita kemudian tidak melakukan pembersihan berkala, chek dan pemebersihan harus selalu dilakukan, hanya saja saat dimana tiba-tiba ada kotoran pada pompa dan kita tidak mengetahui sehingga debit air mengecil, shypon masih bisa bekerja.

Hal lain yang saya suka dari siphon apung, saat terjadi macet, kita tidak perlu susah-susah mencari penyebabnya, tinggal kita sentuh dengan jari kita, siphon dapat bekerja lagi. Tapi, kita harus membuat lubang khusus supaya saat terjadi macet air tidak luber.

Dan yang kurang saya sukai dari siphon apung adalah, air harus benar-benar bersih supaya siphon apung tidak macet, padahal saya suka ber-akuaponik dengan menggunakan media tanam.. tapi itu baru awal, saya yakin semakin berusaha akan semakin sempurna  he...


Saya masih menunggu hasilnya....


Ada sebuah ide sebenarnya, tapi belum saya aplikasikan.. Siphon apung lebih banyak mengalami macet saat pasang, karena lubang siphon saat terjadi pasang tertutup oleh kolong, akibatnya air secara perlahan akan naik dan akhirnya tumpah/luber, dari kondisi inilah ada ide untuk mengkombinasikan antara siphon apung dan siphon "U". Jadi saat siphon apung macet, siphon U akan berfungsi.  Semoga ini akan menjadi sebuah solusi yang bagus... hehe...


20 Februari 2015

Dan ide itu telah saya realisasikan, tapi tidak dengan U siphon, melainkan dengan loop siphon.


Ujicoba loop siphon.


Beginilah jadinya he...


kita lihat apa yang terjadi, untuk selang masih terlalu kecil, sekarang lagi mencari yang agak lebih besar.


25 Februari 2015

Pengaruh filter..
Shypon apung sangat sensitif terhadap kotoran, celah antara pipa shypon dan kolong sangat mudah sekali terisi kotoran dan akibatnya shypon akan sering macet. Untuk itulah, jika ingin mengaplikasikan shyphon apung, air dari kolam harus dilewatkan filter terlebih dahulu, dalam hal ini pengendapan. Jadi kotoran padat termasuk pasir lembut akan mengendap dan tidak terbawa menuju media tanam.

Lebih dari itu, jika ingin mengaplikasikan shypon apung dalam satu wadah dengan grow bed, maka shypon tersebut harus melewati proses filter lagi, karena bagaimanapun growbed akan penuh dengan kotoran, apalagi jika sistem sudah berjalan dalam waktu yang lama.


Desain kolong untuk shypon apung...
Dari pengalaman yang saya peroleh, memasang kolong dengan cara yang pernah saya posting sebelumnya (gambar di bawah) ternyata memiliki kelemahan.


Cara pemasangan yang kurang tepat.


Dengan cara pemasangan seperti gambar di atas, akan banyak kotoran yang bisa masuk di bagian dalam verloop ring yang masih menyisakan celah begitu lebar, akibatnya, sewaktu-waktu kotoran tersebut akan menyebabkan kemacetan pada shypon apung.
Untuk meminimalkan kemacetan selain dengan filter, kita harus memasang kolong dengan cara menempatkan sockdrat luar di bagian atas, tentu saja sockdrat yang dibutuhkan tidak hanya 1, melainkan 2. Akibat dari pemasangan yang berubah tentu saja akan membuat jarak antara dasar grobed dan titik surut menjadi lebih panjang/tinggi, untuk itu akan lebih baik jika pemasangan shypon apung dilakukan di luar grow bed, jika masih ingin tetap jadi satu, syarat yang harus dipenuhi adalah menggunakan grow bed yang lebih tinggi.


8 Maret 2015


Sudah 15 hari lebih aplikasi shypon apung 1 berjalan, sampai saat ini tidak ada masalah sama sekali, semoga berlanjut seterusnya, yang penting kita tetap melakukan pembersihan pompa air secara rutin.







Untuk pengaplikasian terbaik bisa dilihat di Akuaponik Kolam Koi II, dengan desain yang lebih baik.



Desain yang lebih baik.



Trimakasih
                                                                                                                  







Friday, 6 February 2015

Lembar Percobaan Siphon Apung wana-wana

Membuat dan sekedar berfungsi rasanya masih sangat kurang, untuk itulah saya akan mencoba melakukan ujicoba. Untuk ujicoba pertama, saya melakukan variasi lubang pipa dan hasilnya dapat dilihat digambar di bawah ini.


Hasil dari variasi lubang.

Dan ini pipa yang saya gunakan untuk percobaan.

Pipa dengan variasi jumlah lubang.




Bersambung...

Sunday, 25 January 2015

Syphon Apung (The Floating Syphon)

Kemarin sore tepatnya tanggal 24 Januari 2015 seorang teman di media sosial memposting sebuah gambar yang menyatakan ada sebuah alat baru semacam bell siphon.  Konon katanya alat tersebut bekerja lebih baik dari bell siphon yang selama ini digunakan dalam akuaponik pasang surut. Rupanya postingan tersebut mengusik pikiran saya he...
Hanya melihat gambar tentu saja sulit untuk bisa memahami bagaimana alat tersebut dapat bekerja, apalagi gambar diambil hanya dari satu sisi tanpa keterangan. Dan akhirnya mencari di internet dengan kata kunci "The Vertical Float Siphon" dengan harapan dapat menemukan bagaimana cara kerja dari alat tersebut. Ternyata oh ternyata... tidak banyak artikel yang memuatnya, hanya ada satu situs MyAquaponics yang memperkenalkan alat tersebut dengan disertai video, tapi sayang tidak diajarkan bagaimana membuat alat tersebut. 
Berkali-kali memutar video yang ada, sambil sedikit demi sedikit mencoba memahami bagaimana alat tersebut bekerja, akhirnya secara perlahan mulai paham juga bagaimana alat tersebut bekerja. Hanya saja, paham tanpa praktek tentu tidak bisa menjamin apakah benar cara kerjanya sesuai dengan yang kita pahami. Dengan bahan yang ada, saya mencoba membuat sendiri dengan desain yang juga saya kembangkan sendiri, memang benar percobaan pertama gagal, disebabkan alat tersebut tidak bisa mengapung, kemudian mencoba membuat dengan lebih memahami karakter benda yang terapung.. setelah dilakukan pengisian air secara perlahan, alat tersebut perlahan ikut naik (mengapung), dan hingga akhirnya mencapai titik tertinggi, air bisa masuk dan alat tersebut mendadak tenggelam dan terjadilah siphon.


Bagaimana "siphon apung" bekerja..?

Menurut saya, ada dua bagian dari alat tersebut yaitu bagian yang bergerak naik turun (kita sebut "siphon apung") dan bagian yang diam (melekat pada growbed/media tanam kita sebut "kolong").


Siphon Apung

Bagian yang diam atau kolong adalah pralon ukuran 1" yang melekat pada growbed, yang secara kebetulan ukuran tersebut sangat pas saat dipasangkan dengan pralon 3/4", celah antara pralon 1" dan 3/4" sangat sempit sehingga air yang nantinya masuk melalui celah tersebut akan sangat sedikit, disatu sisi siphon apung bisa naik turun dengan lancar.

Pertama kita anggap media masih kosong tidak ada air, sehingga dop bagian atas pada siphon apung yang bisa bergerak naik turun akan berada di dasar growbed menyentuh pralon diam atau kolong ukuran 1". 

Ketika growbed kita isi air, maka secara perlahan siphon apung akan bergerak ke atas (vertical), sampai akhirnya dop pada ujung pipa 3/4" (bagian bawah) menyentuh ujung kolong bagian bawah  (bagian diam). 

Karena air terus diisikan ke growbed dan siphon apung sudah tidak dapat bergerak ke atas lagi atau sudah "mentok" , maka air akan mulai masuk ke dop bagian atas yang kemudian mengalir masuk ke pipa pralon 3/4" (bagian tengah), 

Aliran air yang masuk tersebut, akan menyentuh dop 3/4" bagian bawah, selain tertampung di dalam dop, seolah-olah pergerakan air tersebut memberikan tekanan pada siphon apung. Akibatnya tentu saja akan memberikan beban bagi siphon apung, sehingga secara cepat siphon apung akan tenggelam. 

Karena siphon apung tenggelam, maka proses siphon/penyedotan akan secara otomatis terjadi melalui pipa bagian tengah. dan air bagian bawah akan mengalir melalui kedua lubang yang kita buat (di atas dop 3/4'').

Ketika air sudah mulai habis dan siphon/penyedotan berhenti, siphon apung kembali naik untuk mengapung. 

Begitulah cara kerja siphon apung vertical, yang coba saya praktekkan bisa berhasil dengan baik, tapi karena masih bersifat sementara yaitu semua belum permanen jadi masih ada sedikit kebocoran tapi itu bukan menjadi masalah. 
Harapan saya semoga pembaca bisa membuat dengan desain yang lebih baik dan permanen. 
Dan apa yang saya coba bagikan belum detail mengenai ukuran panjang pipa, dll, tapi semuanya dapat disesuaikan dengan tinggi media tanam/growbed yang kita gunakan..

Saya bagikan video saat melakukan ujicoba pada tanggal 29 Januari 2015.







mungkin sekian dulu, nanti pasti ada perkembangan berikutnya karena ini masih awal...

4 Februari 2015

Setelah melakukan beberapa kali percobaan, akhirnya semakin banyak ilmu yang saya dapatkan untuk dapat menyempurnakan siphon apung.  Selain terus mempelajari dan mengembangkan, saya juga mencoba untuk mencari bahan yang mudah didapat, memang tidak mudah tapi selama kita mau berusaha pasti akan bisa.

Nah bagi pembaca yang ingin membuatnya berikut akan saya bagikan bahan dan cara pembuatan..


A. Siphon Apung (Bagian sitem yang bergerak naik turun)

Sebelumnya coba diamati terlebih dahulu gambar di bawah ini, inilah penampakan siphon apung, bagian yang akan mengapung dan tenggelam. 


Penampakan alat yang bisa mengapung  & tenggelam


Mari kita kupas bagian-bagian dari sistem yang ada pada gambar di atas..

1. Dop/cap/tutup 2 "

Dop/cap/tutup pipa pvc ukuran 2"

Dop tersebut harus dilubangi, besar lubang tersebur tergantung dari diameter pipa yang akan dipasang, lubang dibuat press, jadi bisa kuat, buatlah yang rapi dan presisi.. O iya posisi lubang harus tepat ditengah-tengah.

2. T / Tee pipa aquarium

T yang sering dipakai untuk pemipaan aquarium.

T ini sebenarnya hanya diambil sebagian atau dipotong sebagian, yang nantinya akan dipasang di lubang yang kita buat pada dop 2" (no 1), bagian yang ada bekas potongan, kita masukkan di lubang dop 2", jangan sebaliknya. Pemasangan jangan sampai miring, dan di lem menggunakan lem pipa.

3. Pipa aquarium


Pipa yang sering digunakan untuk pemipaan aquarium.


Untuk pipa yang saya gunakan panjangnya 20 cm, salah satu ujungnya dibuat 4 lubang dengan diameter 7 mm (ukuran mata bor),pada keempat sisi, jarak lubang dari ujung sekitar 2 cm. Jika ingin menambah lubang, tambahkan di atasnya, seperti yang saya lakukan di atas.


4. Dop / tutup pipa aquarium


Tutup pipa aquarium

Untuk tutup pipa tidak ada perlakuan khusus, karena tinggal dipasangkan pada salah satu ujung pipa.



B. Kolong 

Untuk bagian kolong lansung saja saya bagikan bahan-bahannya.

1. Verloop ring 3/4"



Verloop ring 3/4"

Pemasangan verloop tidak boleh sembarangan, bagian dalam verloop yang ada ulir/drat dipasang dibagian bawah, dan bagian yang ada ulir/drat di luar, dipasang pada bagian atas.


2. Sock Drat Luar 3/4"



Sock drat luar

Pemasangan sock drat ini, diletakkan pada bagian bawah, atau dipasang sesuai verloop.


3. Oversock 3/4" x 1,5"


Oversock 3/4" x 1,5"

Oversock hanya pilihan, ingin digunakan boleh tidak juga boleh, yang jadi masalah, jika tidak digunakan maka air yang keluar akan menyebar kesamping. Saya menyarankan lebih baik digunakan. Jika ingin menggunakan oversock ukuran lain bisa, asal jangan kurang dari 1", karena akan menghambat laju air. Oversock juga bisa digunakan untuk mengarahkan aliran air, jika kolam yang digunakan tidak tepat di bawahnya, bisa kita arahkan dengan oversock yang tentu saja ditambah pipa dan pendukungnya he...



Penampakan utuh...

Dan ini penampakan dari siphon apung yang sudah saya rangkai, anggap kertas putih yang terpasang adalah wadah/growbed.



Jika tidak menggunakan oversock.





Jika menggunakan oversock.


Berikut saya bagikan video percobaan yang menggunakan oversock..







6 Februari 2015

Mungkin pembaca sudah membaca cara kerja siphon apung di bagian awal, dan itu adalah cara kerja siphon apung yang telah ada, yang coba saya "bedah" cara kerjanya. Dan di sini, saya akan memberikan beberapa hal yang sangat penting dari cara kerja siphon apung yang merupakan versi wana-wana, saya anggap inilah rahasia dari SIPHON APUNG wana-wana.. he... 

Sore tadi (6 Februari 2015) saya melakukan percobaan lagi, saya ingin mencari sebuah solusi bagaimana siphon apung ini bisa bekerja dengan baik meskipun debit air berubah-ubah. Mungkin kita sering mengalami, pompa air yang kita gunakan sering sekali mengalami kendala yaitu tersumbat kotoran, akibatnya debit air akan mengecil, hal tersebut menjadi sebuah masalah ketika menggunakan bell siphon, dimana bell siphon tidak bekerja sesuai dengan fungsinya. Perlu digarisbawahi, bukan berarti siphon apung ini bisa menggantikan bell siphon, karena belum dicoba langsung di "lapangan", tapi saya ingin menunjukkan dari segi cara kerja alat ini yang menurut saya pribadi lebih baik.  

Di bawah ini sudah saya buatkan gambar dengan tujuan penjelasan saya nanti lebih mudah untuk dipahami.


Bagian-bagian  SIPHON APUNG wana-wana



Cara kerja SIPHON APUNG wana-wana


1. Kita anggap air di wadah masih sedikit dan belum menyentuh dop1,  sehingga posisi siphon apung ada di bawah.

2. Ketika air yang masuk semakin banyak dan mulai menyentuh dop1, maka siphon apung mulai terangkat seiring pertambahan air.   

3. Ketika dop2 menyentuh ujung kolong bagian bawah, maka siphon tidak bisa lagi bergerak naik dengan kata lain berhenti bergerak, sedangkan air terus bertambah dan terus naik.

4. Karena air terus naik sedangkan siphon apung berhenti bergerak, maka secara perlahan, air akan mulai masuk ke bagian dalam siphon, dan karena lubang-lubang air tertutup/terhalang oleh kolong, maka air tidak bisa mengalir kemana-mana kecuali mengisi bagian dalam pipa.

5. Akibat dari air yang memenuhi pipa dan dop1, tentu saja akan membebani siphon apung, dan saat beban itu lebih besar dari "daya" apung, maka siphon akan tenggelam. Saat siphon tenggelam, posisi lubang air secara otomatis akan terbuka, saat itulah air bisa leluasa mengalir keluar dari pipa. Saat air di wadah mulai habis dan proses siphon terhenti, maka dop1 akan kembali terapung.



Saya bagikan skema khususnya pada bagian kolong yang jauh lebih baik dan saya aplikasikan sampai saat ini.



Semoga bermanfaat



Penerapan siphon apung ada di Akuaponik Kolam Koi Jilid II
Lihat juga perkembangannya di Update- Akuaponik Kolam Koi Jilid II

Trimakasih



Sunday, 19 October 2014

Update - Gubuk Aquaponik (Kolam Fiber)


Kelanjutan dari artikel Gubuk Akuaponik, di sini akan saya bagikan skema, teknik menanam dan perkembangan dari "anggota" gubuk akuaponik  khususnya akuaponik kolam fiber. 


Skema akuaponik kolam fiber

Di akuaponik kolam fiber tersebut ada 3 model media tempat menanam, yaitu di pralon, box jerigen dan di ember cat bekas, dan ketiganya untuk media tanamnya menggunakan tanah untuk lapisan atas.


Menanam di pralon...
Media tanam di pralon menggunakan arang untuk lapisan bawah dan tanah / pupuk kandang untuk lapisan atas. Tempat untuk menanam menggunakan gelas bekas minuman air mineral dengan lubang di bagian bawah untuk masuknya air dan juga untuk perakaran. 
Media tanam di pralon
Menanam di box jerigen...
media tanam di box jerigen terdiri dari 3 lapisan yaitu krakal (paling bawah), arang kayu (tengah) dan tanah/pupuk kandang (paling atas). Air dari kolam dialirkan menggunakan selang, dengan posisi selang masuk sampai di lapisan krakal, hal ini untuk menjaga supaya tanah tidak hanyut. Air dijaga hanya sebatas arang dan tanah akan selalu basah karena kapilaritas. 

Media tanam di box jerigen

Menanam di ember cat...
Sama seperti di box jerigen, media tanam di ember cat terdiri dari 3 lapisan yaitu krakal (paling bawah), arang kayu (tengah) dan tanah/pupuk kandang (paling atas). Untuk air masuk dan keluar disalurkan melalui satu pipa, hal ini karena media ember dan box jerigen saling terhubung sehingga air dari kolam dialirkan melalui box jerigen. Untuk media tanam di ember tersebut, lapisan tanahnya sengaja dibuat lebih banyak/tebal.

Media tanam di ember cat



Perkembangan Tanaman.

Saya bagikan perkembangan tanaman dari waktu ke waktu, ada yang subur ada yang tidak, tapi justru dari situlah dapat saya pelajari.

Perkembangan tanaman di pralon...


Slada muda mulai terlihat.

Terlihat hijau menggoda.

Tumbuh dengan baik tapi tidak sesuai harapan.

Semakin jelas slada kekurangan nutrisi.

Awal merancang penuh dengan harapan, semoga slada dapat tumbuh dengan baik, dan memang benar, di saat-saat awal pertumbuhan, semua terlihat baik, tanaman terlihat hijau dan subur. Saat usia tanaman semakin bertambah, perkembangannya terasa lambat, jika dibandingkan dengan slada yang ditanam di akuaponik box ibc dan itu sangat jelas. 
Suatu hari pada saatnya panen, istri saya yang kebetulan sangat suka makan slada mengatakan, bahwa slada yang ditanam di pralon terasa kurang enak dan keras. Dari laporan itu, saya berfikir sepertinya ada yang salah, setelah coba saya cek memang ada yang kurang wajar dengan akar-akar slada tersebut. Lubang yang saya buat di dasar gelas mungkin menjadi penyebabnya, lubang yang saya buat kurang banyak, sehingga akar tidak dapat keluar dan hanya berkumpul di dalam gelas tersebut, tentu saja nutrisi tanaman sangat  sangat kurang. 


Akar tidak bisa bergerak keluar mencari nutrisi.



Perkembangan tanaman di jerigen...


Awal-awal penanaman.

Semua terlihat subur.

Bawang merah dan terong tumbuh subur.

Panen bawang merah.

Hasil ujicoba bawang merah akuaponik pertama.

Akhirnya terongpun berbuah.

Untuk penanaman di jerigen, ada yang berhasil dan ada yang gagal, dan tanaman yang coba saya tanam adalah bawang merah, terong dan cabe teropong. Pada awal penanaman semua pertumbuhan terlihat sangat baik dan subur, bahkan saya dan istri sangat senang melihat pertumbuhannya. 

Bawang merah...
Untuk bawang merah, meskipun ada yang gagal, tapi dapat saya katakan ujicoba penanaman bawang merah berhasil. Saya dan istri sebenarnya belum pernah mencoba menanam bawang merah, tapi karena keinginan yang besar maka saya harus mencobanya. Seperti yang terlihat di foto, bawang merah terlihat menyenangkan, atas keberhasilan ini, tentu  nanti saya akan menanam dengan jumlah yang lebih banyak lagi he....

Terong...
Untuk terong, sebenarnya ada 2 tanaman, akan tetapi yang satu terpaksa saya cabut, karena mengganggu pertumbuhan bawang merah, maklum tempat yang sempit he.. Pertumbuhan terong cukup bagus, akan tetapi, pada saat mulai berbunga dan mekar, bunga selalu rontok dan itu yang membuat saya hampir putus asa. Jujur... saya sampai bingung, apa yang salah dengan terong ini, mungkinkah ada nutrisi yang kurang... Setiap hari, pagi sebelum berangkat kerja dan sore setelah pulang kerja tak luput dari pantauan saya, setelah beberapa kali berbunga dan selalu rontok, saya mencoba menggoyang-nggoyangkan pohonnya dan juga meniup saat bunga mekar sempurna, berharap terjadi pembuahan, dan tetap saja selalu gagal. Karena sudah putus asa, akhirnya saya tak pedulikan lagi, bahkan ada rencana akan saya bongkar. Beberapa hari bahkan minggu saya tak pedulikan lagi, karena fokus pada kelahiran putra ke-dua. 
Dan suatu hari secara tak sengaja saya melihat sesuatu yang berbeda, terong berbunga lagi, dan setelah beberapa hari ternyata tidak rontok, bahkan bonggol dari bunga terlihat semakin membesar.. dan ketika itu saya yakin pasti terjadi pembuahan...dan... tralalala.........ternyata benar, setelah beberapa hari muncullah buah terong... 
akhirnya setelah melewati proses yang panjang dan hampir putus asa, terong akuaponik berbuah juga bahkan langsung 3 buah, dan sebentar lagi, keluarga kecil kami akan segera menikmati terong akuaponik...he.... 

Cabe teropong... 
Awal pertumbuhan cabe terlihat subur, akan tetapi seiring perjalanan, saat mulai berbunga cabe mulai diserang penyakit, dan bungapun rontok. Kecewa tentu saja, tapi dari situlah saya mulai mencari penyebab mengapa bisa terjadi. Melihat tanah yang cenderung basah/becek, tentu kondisi tersebut kurang baik untuk cabe tersebut, itu hanya dugaan saya, karena cabe tidak terlalu suka tanah yang basah berlebihan apalagi terus menerus, mungkin jika medianya krakal murni akan beda kondisinya. Jadi untuk cabe teropong dinyatakan gagal... he..he...


Perkembangan tanaman di ember cat...

Biji tomat yang sudah tumbuh.

Semakin dewasa.

Tanaman bayam yang tumbuh sendiri.

Buah yang mulai terlihat

Beberapa buah sudah besar dan mulai matang.
Tanaman buah yang kita tanam setelah dewasa tidak perlu kita siram, karena dilapisan tanah bagian dalam terdapat air melimpah, sehingga akar bergerak menuju ke sana untuk mendapatkan air. Itulah inspirasi mengapa saya mencoba menerapkan akuaponik dikombinasikan dengan tanah. Media yang saya pakai di dalam ember cat tersebut bagian atas saya isi dengan tanah, dibandingkan dengan di pralon, dan di jerigen, lapisan tanah di ember cat jauh lebih banyak. 
Sejak awal memasukkan biji tomat ke dalam ember, sama sekali tanah tidak pernah saya siram bahkan sampai sekarang sampai buah bermunculan dan mulai matang. Dengan adanya aliran air di dasar ember, pemikiran saya air akan perlahan meresap ke atas ke lapisan tanah, dengan begitu tanah meskipun tidak disiram akan selalu dalam kondisi basah, tentu saja tanah lapisan atas tidak terlalu basah dibandingkan dengan lapisan-lapisan di bawahnya.
Untuk pertumbuhan tanaman, mungkin di saat-saat awal pertumbuhan, akar masih mendapatkan nutrisi dari tanah bagian atas, akan tetapi seiring pertumbuhan, saya meyakini akar-akar dari tanaman tomat akan bergerak menuju lapisan tanah bagian bawah yang kaya air dan tentunya kaya nutrisi yang dibawa air dari kolam ikan. Melihat banyaknya buah, dan besarnya tanaman tomat, saya semakin yakin jika akar tanaman tomat mendapatkan nutrisi dari air kolam yang saya alirkan di dasar ember. Dan yang lebih meyakinkan lagi, ada banyak tanaman bayam yang tumbuh sangat subur di ember, dan setelah saya panen dengan mencabutnya, akar dari bayam-bayam tersebut sangat basah dan sangat panjang, kemungkinan akar tersebut mencapai dasar ember.

********

Dari pengalaman ketiga media yang telah saya terapkan, dan ketiganya melibatkan tanah dalam akuaponik, ada hal penting yang saya dapatkan dari kombinasi tersebut. Pengalaman tersebut adalah soal ketebalan lapisan tanah. Lapisan tanah yang tipis, tentu akan membuat tanah tersebut selalu dalam kondisi basah, dan kondisi tersebut mungkin cocok untuk tanaman seperti sawi, bawang merah, slada, dan beberapa tanaman sayuran daun yang lain. Untuk lapisan tanah yang tebal saya kira akan lebih cocok untuk semua tanaman, bahkan tanaman sayuran buah seperti tomat yang saya coba, karena untuk lapisan tanah tebal kondisinya sangat mirip dengan kondisi alam yang sebenarnya. 

Apakah pengalaman saya ini benar.. kita lihat nanti, saya akan mencoba beberapa tanaman lain...


3 November 2014

Media tanam bekas penanaman bawang merah sudah kosong,  kebetulan ada beberapa benih sayur yang tumbuh di box ibc 1, iseng saya pindah, diluar dugaan sayuran tersebut tumbuh dengan subur, dengan daun berwarna hijau tua. Pengaruh tanah dilapisan paling atas rupanya punya peranan yang besar.


Media bekas tanaman bawang merah.


15 November 2014

Setelah panen slada di pralon yang kurang bahkan jauh dari kata memuaskan, saya mencoba untuk menanam kobis di akuaponik, maklum rasa penasaran yang begitu besar he... Pengalaman dari kejadian dengan menggunakan gelas plastik bekas minuman tidak ingin terulang, kali ini pralon langsung diisi dengan arang. 
Sebenarnya selain sayuran kobis, ada cabe dan terong yang ikut saya tanam, akan tetapi karena pengairan pasang surut yang kurang berjalan sempurna, tanaman cabe tidak dapat berkembang dengan baik. Seiring waktu, akhirnya bell siphon saya copot, dan lebih memeilih sistem NFT, sekalian untuk mencoba, karena belum pernah saya menerapkan sistem tersebut.


Mencoba menanam kobis. 

Meskipun lambat, tanaman dapat tumbuh dengan baik, tapi sayang.. seperti yang terjadi pada umumnya, daun terlihat agak menguning pertanda kekurangan nutrisi, tapi hal tersebut saya biarkan karena saya ingin melihat apa yang terjadi sampai nanti saatnya dipanen. Tapi jujur saja, semua terlihat sangat menarik dan cantik, tidak ada hama yang mencoba mendekat, berbeda dengan tanaman kobis yang saya tanam di kebun (di tanah), kobis hancur diserang ulat. Semoga saja ada hasil yang bisa kami santap di meja makan bersama istri dan anak kami tercinta.


Semakin membesar..

Seiring waktu kuning daun mulai menghilang.


Untuk menanam kobis ini, saya gunakan media arang kayu, dan sedikit batu split, tujuannya selain untuk menopang akar, harapannya bisa sebagai tempat bakteri berkembang biak. Memang terlihat jelas, pada awal pertumbuhan kuning pada daun sangat terlihat, tapi itu tak menyurutkan niat saya untuk terus sabar menunggu tentu dengan merawatnya. Hari berganti hingga suatu saat saya mengamati lebih detail lagi, dan ternyata.. pada semua tanaman kobis, daun yang baru (bagan atas) tidak nampak lagi warna kuning. Saya mulai berfikir, mungkinkan bakteri berkembang biak dengan baik. O iya untuk pengairan, aliran saya buat kecil, jadi air hanya mengalir di dasar pralon, dan arang menjadi basah karena proses kapilaritas. 


23 November 2014

Melihat atap plastik pada bagian atas kolam fiber yang terlihat menghitam rasanya membuat resah, karena pasti hal tersebut mengurangi intensitas sinar yang masuk. Setelah berhari hari selalu hujan deras, akhirnya kemarin sore saat ada waktu, saya mencoba meluangkan waktu untuk membersihkan atap plastik yang menghitam, sekaligus memotong ranting pohon mangga yang mulai menghalagi. Tak sengaja saat di atas mencoba melihat ke bawah... o..o..o.. ternyata melihat akuaponik dari atas jauh lebih cantik, tanpa pikir panjang langsung turun untuk mengambil kamera he.... 

Beginilah penampakan dari atas... he...he...

9 Desember 2014

Beberapa hari sempat berpikir, gimana caranya menikmati ikan nila dengan enak, karena selama ini keluarga kami hanya menggorengnya, dan itu rasanya kurang begitu nikmat. Akhirnya.. saat libur kerja pada hari Minggu, terpikirkan untuk membuat sop ikan. Dengan penuh semangat menuju kolam ikan akuaponik dan menangkap 4 ekor ikan lumayan agak besar, sebenarnya tidak tega, tapi saya yakin mereka mati toh untuk kebaikan, bukan untuk disiksa trus dibuang he...

Setelah matang, Istri yang langsung melahap 2 ekor.. 2 lagi jatah untuk saya, Si Kecil tidak dibagi karena masih "netek" he..he... Ada hal menarik yang tak terduga.. saat Istri menyantap, dia bilang daun kemanginya sangat enak, dan kenapa menarik, karena selama ini Istri tidak suka daun kemangi..
Mungkinkah daun kemangi akuaponik memiliki rasa yang lebih enak... ?  Silahkan mencoba menanamnya di akuaponik dan merasakannya sendiri he...


Lezatnya sop ikan bertabur daun kemangi akuaponik..


Nikmatnya daun kemangi akuaponik..


21 Desember 2014

Setelah melewati proses yang lama tanpa perawatan, tanaman kobis tidak juga bisa "nge-crop", kemungkinan besar daerah saya memang kurang cocok. Meskipun begitu, keluarga saya sempat merasakan nikmatnya daun kobis akuaponik, sebelum akhirnya "dibabat" oleh kawanan tikus yang kelaparan. Sedih iya.. tapi semua telah terjadi, jadi tak perlu disesali he...



Tikus-tikus berpesta dengan menu utama kobis ha..ha...

Inilah ikan penghuni kolam fiber.









Bersambung...